Wednesday, March 21, 2012

Mengurangi Sampah Bagian dari Investasi

Sampah di Surabaya : Doc. PLH SIKLUS ITS

Anda pernah menyesal ketika membeli nasi bungkus? ketika membeli air mineral? atau ketika menerima kantong plastik di supermarket-supermarket langganan Anda? Jika tidak, mari Kita cermati fakta-fakta berikut ini :

1. Menurut data KLH, pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Lebih lanjut diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang tiap hari di Indonesia mencapai 2,1 kg.

2. Dari 0,8 kg sampah/hari, 15 persennya adalah sampah plastik. Dengan asumsi ada sekitar 220 juta penduduk di Indonesia, maka sampah plastik yang tertimbun mencapai 26.500 ton per hari; sedangkan jumlah timbunan sampah nasional diperkirakan mencapai 176.000 ton per hari.

3. Wawan Some, aktivis lingkungan di Surabaya mengungkapkan bahwa data tahun 2006 sampah plastik di Surabaya ada 960.000 ton per tahun. Produksi dan konsumsi air kemasan dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2011 produk konsumsi air kemasan bisa mencapai 17 milyar liter. Itu akan membutuhkan botol plastik sampai 500.000 ton per tahun. Nah tahun 2012 ini asosiasi produsen air kemasan itu produksinya mereka akan mencapai 19 milyar liter, padahal Kita tahu botol plastik air kemasan itu kan botol yang sekali pakai.

4. Berdasarkan data dari BPS tahun 2004, dari total timbunan sampah yang terangkut dan di buang di Tempat Pembuangan akhir (TPA) berjumlah sekitar 41,28 %, di bakar 35,59 %, dikubur 7,97 %, di buang sembarangan (ke sungai, saluran, jalan, dsb) 14,01 % dan yang terolah (di kompos dan didaur ulang) hanya 1,15 %.

Masih kurang? Baca lagi fakta berikut ini :

1. Sampah menghasilkan gas metana (CH4) dengan komposisi rata-rata tiap satu ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Metana sendiri mempunyai kekuatan merusak hingga 20-30 kali lebih besar daripada CO2. Gas metana berada di atmosfer dalam jangka waktu sekitar 7-10 tahun dan dapat meningkatkan suhu sekitar 1,3 derajat Celsius per tahun. Ternyata sampah yang selama ini Kita kira hanya menimbulkan dampak pemanasan global jika dibakar tidak 100% benar. Sampah yang tidak dibiarkan begitu saja juga menyumbang kontribusi dalam mempercepat pemanasan global.

2. Untuk memproduksi 1 ton kertas, dibutuhkan 3 ton kayu dan 98 ton bahan baku lainnya.

3. Harga air isi ulang, satu galon air minum isi ulang 19 liter dapat Kita beli dengan harga berkisar antara Rp. 9000,00 hingga Rp. 11.000,00. Dengan harga Rp. 11000,00 (harga maksimal) pergalon (19 liter) berarti per-ml harga air isi ulang hanya Rp. 0,58 (Rp. 11.000 : 19 liter : 1000 ml). Harga air isi ulang yang hanya Rp. 0,58 per-mililiter ini Kita asumsikan sebagai harga air minum. Dengan harga air yang Rp. 0,58 /ml berarti saat Kita membeli air minum dalam kemasan ukuran gelas (240 ml) seharga Rp. 500,00 air yang Kita minum hanya seharga Rp. 138,95. Selisihnya, Rp. 361,05 Kita gunakan untuk membeli kemasan gelasnya.

Saya yakin, setiap orang atau mungkin semua orang pada umumnya telah mengetahui bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh sampah. Tapi tak sedikit dari Mereka masih belum memiliki usaha atau sekedar niatan untuk mengurangi sampah Kita. Kita harus menyesal ketika harus menerima kantung plastik dari si penjual, memakan dengan nasi berbungkuskan kertas, atau membeli air mineral dengan botol plastik yang kesemuanya itu akan berakhir dengan sampah. Selain menyelamatkan lingkungan, Kita juga akan sedikit berhemat dalam keuangan.

Berikut tips berhemat ala pencinta lingkungan :

1. Membawa tas belanja atau keranjang yang tidak sekali pakai setiap kali akan berbelanja, dan menolak penjual memberikan plastik. Atau bagi penjual, menerapkan sistem penjualan tanpa plastik, dan menyuruh si pembeli memberikan uang tambahan jika meminta plastik.

2. Selalu membawa air minum isi ulang dari rumah sehingga tidak perlu membeli minuman air mineral di luar.

3. Ketika ingin membeli nasi, gorengan, atau jajanan apapun di luar, sediakan wadah makan sendiri dari rumah. Ini akan mengurangi sampah Anda.

4. Jika mengadakan acara seperti pesta pernikahan, seminar, dll hindari pemakaian air kemasan ataubungkus makanan dari kertas/plastik. Lebih baik gunakan sistem prasmanan dengan disediakan gelas dan piring. Dengan begitu acara Anda akan ramah lingkungan.


5. Jika semuanya sudah Anda lakukan, namun masih saja ada sampah di rumah, maka lakukan pemilahan sampah. Sediakan 3 tempat sampah di rumah Anda. satu untuk sampah plastik/botol, satu untuk sampah kertas, dan satu lagi untuk sampah residu (sampah yang tidak bisa didaur ulang).  Sampah plastik, botol atau kertas bisa Anda jual atau di daur ulang, sedangkan sampah residu di buang ke TPA lewat petugas sampah setempat. Untuk sampah-sampah dapur (makanan) dan dedaunan bisa Anda olah menjadi kompos. Ini  akan mengurangi jumlah sampah yang berakhir ke TPA

6. Sampah-sampah berbahaya seperti baterai (B3) dan sampah-sampah elektronik ada baiknya dipisahkan dan dijual ke pusat pengolahan B3 terdekat di Kota Anda.

7. Banyak sumber informasi bertebaran entah di internet maupun media massa. Anda bisa mencari informasi lain mengenai ini dengan mudah. Bisa juga sharing atau berbagi informasi dengan komunitas, atau teman-teman Anda.

Terimakasih, semoga bermanfaat :)

Friday, February 24, 2012

Sungai Bukan TPS dan Laut Bukan TPA - Pantai Timur Surabaya

Hal menyenangkan ketika Kita masih bisa menikmati pemandangan alam di Kota Surabaya, Kota yang terkenal panas karena banyaknya kendaraan dan pemukiman. Pemandangan alam tersebut dapat Kita jumpai di hutan mangrove dan di Pantai Timur Surabaya atau biasa disebut Pantai Kenjeran. Pantai Kenjeran memang sangat terkenal. Namun ketenaran tersebut tidaklah membuat warga Surabaya bangga bahkan ada saja yang tidak mengakuinya sebagai Pantai. Bagaimana tidak, pesisir yang masih menjadi sumber mata pencaharian para nelayan tersebut kini sudah dalam kondisi yang tidak bisa di toleransi. Kumuh, tercemar, keruh, dan kata-kata semacam itulah yang melekat sebagai image Pantai Kenjeran di mata pengunjung.

Kondisi Pantai Kenjeran yang membuat orang malas mengunjungi Pantai tersebut tanpa disadari merupakan ulah dari manusia sendiri. Pernah Saya berjalan-jalan di hutan mangrove, salah satu hutan yang tersisa di Surabaya, tepatnya terletak di pinggiran Pantai Timur Surabaya. Jika ada yang tidak tahu definisi hutan mangrove, ia adalah hutan yang vegetasinya berupa tumbuhan pantai yang mampu hidup di daerah pasang surut atau daerah berlumpur dan bersalinitas tinggi, hutan ini sebagai sabuk hijau di Pantai yang memiliki banyak fungsi ekologis terutama untuk mencegah abrasi laut. Kembali ke topik, ketika mengunjungi kawasan hutan mangrove, ada sedikit kekecewaan yang terlintas di pikiran Saya. Hutan yang merupakan tempat asuhan atau mencari makan dan berkembang biak bagi berbagi biota seperti kepiting, udang, kerang, dll itu berbau sangat menyengat dikarenakan banyaknya sampah yang menumpuk. Beberapa sampah plastik menyangkut di akar-akar mangrove tersebut dan ada pula sampah yang sudah rata dengan lumpur. Mereka yang tidak menahu mungkin bertanya-tanya, Siapa yang dengan tega membuang sampah di tempat ini? Apakah Mereka, warga yang tinggal di perkampungan sekitar hutan mangrove ini, atau Mereka pengunjung yang sering lewat di daerah ini? Eiits, jangan asal tuduh, Kita pikir dengan logika dahulu.

132894759174458657Hutan mangrove penuh sampah

Jumlah penduduk di Surabaya yang semakin padat menyebabkan konsumsi juga meningkat, sampah yang dihasilkan pun meningkat. Dari sekian banyak jumlah penduduk, hanya sedikit saja yang sadar dan tahu cara menjaga lingkungan. Mereka yang tidak sadar atau tidak tahu, membuang sampah seenaknya, di jalan-jalan atau di got depan rumah. Perhatikan saja di got-got atau kali Surabaya saat ini, Saya juga heran kenapa masih saja ada orang memancing ikan di got atau kali yang sangat kotor dan bau itu. Sampah dari got atau kali tersebut kemudian mengalir ke sungai dan terus bermuara ke laut. Selain itu, penduduk yang bermukim di pinggiran sungai, beberapa diantara mereka membuang sampah begitu saja ke sungai. Mereka menganggap air sungai mampu menghanyutkan begitu saja sampah mereka seperti melenyapkan sebuah masalah. Mereka tidak mengira masalah baru yang akan muncul disebabkan oleh ulahnya. Nah, sebelum sampai laut, sampah tersebut disaring oleh hutan mangrove yang letaknya dipinggiran pantai. Sebagian sampah tersebut masuk begitu saja ke laut dan sebagian lagi nyangkut di hutan mangrove. Sampah yang berhasil lolos ke laut bukan berarti golongan sampah yang hebat karena tidak membuat masalah. Lihat saja beberapa pemberitaan di internet, hewan-hewan laut yang terganggu kehidupannya akibat sampah-sampah tersebut. Padahal Kita harusnya sadar benar bahwa Sungai bukanlah tempat pembuangan sampah sementara dan laut bukanlah tempat pembuangan sampah akhir. Bagaimana jika kalian diposisikan seperti hewan laut tersebut? Bagaimana jika habitat atau rumah kalian dilempari oleh sampah-sampah dan memaksa anak kalian untuk memakan sampah-sampah itu?

13289479471517540112Sampah yang mencemari Laut Kenjeran

Tidak cukup hanya sampah padat yang memenuhi Pantai Timur Surabaya beserta lautnya. Beberapa industri yang tidak bertanggung jawab membuang limbah mereka di laut tanpa di olah terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kandungan logam berat di laut. Bahkan pada beberapa penelitian, kandungan logam berat tersebut juga mencemari gizi dari hewan-hewan laut yang menjadi santapan masyarakat Surabaya. Logam berat yang mulanya berasal dari limbah cair bercampur dengan air laut dan masuk dalam metabolisme hewan laut. Manusia membutuhkan hewan laut untuk pemenuhan gizi sehari-hari. Tanpa Mereka sadari hewan laut yang mereka makan telah mengandung logam berat. Logam berat tidak bisa tercerna dalam sistem metabolisme, sehingga logam berat tersebut akan tertimbun juga ke dalam tubuh manusia pemakan hewan laut itu. Setelah dalam jumlah tertentu akumulasi logam berat dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit perut, hingga kanker yang menyebabkan kematian.

Kita warga yang tinggal di Surabaya seharusnya tidak diam saja bahkan mengolok-olok melihat fakta itu. Pantai, Sungai, Laut adalah salah satu alam ciptaan-Nya, di dalamnya terdapat banyak kehidupan, kehidupan yang juga diperuntukkan untuk Kita, untuk anak cucu Kita, maka janganlah pernah sekali-kali menghina Pantai Timur Surabaya, justru Kita harus memperbaiki dan melindunginya, demi kesejahteraan bersama. Kita harus bersyukur masih ada laut di Surabaya yang menghasilkan banyak ikan. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar Pantai Timur Surabaya bebas dari image buruk karena kondisinya yang tercemar itu? Perubahan itu harus ada, perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan Kita harus menjadi bagian dari perubahan itu. Kita harus mencari cara, mulai dari bagaimana cara menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, bagaimana cara pemilahan dan pengolahan sampah yang benar, bagaimana cara mengurangi tingkat konsumsi yang menyebabkan sampah, mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap kurang benar atau tidak berjalan, mengkritisi ulah perusahaan yang kurang ramah terhadap lingkungan, bagaimana cara mensejahterakan masyarakat tanpa merusak lingkungan, dll. Jika Kita tidak bisa berbuat banyak, cukuplah dimulai dari diri sendiri, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Akhir kata, ada sebuah kalimat yang lumayan sering Saya dengar “Jika tidak bisa memperbaiki, maka janganlah Kalian merusak.” Tetap semangat berjuang untuk lingkungan dan untuk kesejahteraan masyarakat sekarang maupun masyarakat masa depan. Keep Smile :)

Sunday, February 19, 2012

Adalah Waktu

Kau pernah mengirimiku sebuah pesan singkat
Sangat singkat hingga Aku  tak tahu bagaimana membalasnya
Kau bilang Kau tidak mengerti Aku
Seharusnya waktu itu Aku berbalik dan bertanya
Karena Aku pun tak mengerti apa maksud pesan singkatmu itu
Aku pun tak mengerti Kamu
Dan Aku lebih tak mengerti lagi
Kenapa Kau tak berusaha agar mengerti Aku?
Ataukah Aku salah, karena Aku juga tak mengerti Kamu?
Entahlah, Kini hanya waktu yang bisa menjawabnya
Maafkan Aku yang tak bisa percaya padamu
Meskipun Kau baik, Kau pintar, Kau punya akal
Tapi manusia pun punya kelemahan bukan?
Dan manusia bisa berubah bukan?
Bisa jadi perasaanmu padaku juga akan berubah
Atau sebaliknya perasaanku padamu yang akan berubah
Satu-satunya yang bisa dipercaya saat ini
adalah waktu . . .

Sunday, January 29, 2012

Hijau dengan atau Tanpa Daun

Hijau...

Hijau itu... menarik
Hijau itu... menyejukkan
Melihat hijau... seperti melihat kehidupan
Melihat hijau... merasa damai
Aku suka hijau

Baju hijau
Celana hijau
Tas hijau
Sepatu hijau
Semua hijau
Tapi bukan lemper

Tembok hijau
Lantai hijau
Sepeda hijau
Kasur hijau
Semua hijau
Tapi bukan lumutan

Hanya saja hijau itu... warna favorit

Sawah hijau
Taman hijau
Hutan hijau
Bukit hijau
Hijau dengan atau tanpa daun

Aku suka :)

Saturday, January 14, 2012

Cintaku Apa Adanya

Kau…
Kau kirimkan isyarat cinta pada hatiku yang sepi
Kau cairkan hatiku yang beku
Kau jelajahi hatiku yang kosong
Kau bagai penjajah di lubuk hatiku
Masuk menyelinap kemudian bersemedi mengisi ruang-ruang kosong hatiku

Bayangmu slalu menghias memori dalam celah di otakku
Namun ragamu serasa begitu jauh
Kau ciptakan batas yang tak bisa kusentuh
Hanya bayangmu yang kerap kali menyapa

Aku takut kehilanganmu sayang
Aku takut perpisahan itu tiba sebelum Kita bersatu
Aku takut kehilangan bayangmu, ragamu, dan hatimu
Namun kusadari, tak seharusnya rasa takut itu ada
Karena Kau bukanlah milikku sayang
Kita adalah milik-Nya, milik sang pencipta

Di atas bumi dan di bawah langit
Aku ingin mengucap sebuah janji
Aku ingin mencintaimu karena-Nya
Aku ingin mencintaimu dengan tulus, ikhlas, dan apa adanya

Maka biarlah rasa ini mengalir begitu saja
Tanpa ada rasa takut, ragu, atau cemas
Kupercayakan Tuhan slalu menjagamu
Kupercayakan jalan itu tetaplah indah

Friday, December 30, 2011

Mendaki Pegunungan Hyang (3) "Membelai Mistisnya Angin Lembah Cikasur"


            Setelah menikmati suasana indah di Danau Taman Hidup dan puncak Rengganis, tujuan berikutnya adalah lembah Cikasur. Cuaca tak mau berkompromi ketika kami akan memulai perjalanan dari Cisentor menuju Cikasur. Hujan tidak juga reda dari tengah malam hingga siang bolong. Alhasil, kami bangun kesiangan. Kami segera memasak, beres-beres, dan capcus. Pukul 1 siang, kami baru berangkat menuju Cikasur. Kami sempat bersisipan dengan 3 orang pendaki asal Semarang. Tiba-tiba cuaca cerah dan panas. Beruntung sekali ketiga pendaki tersebut, pasti mereka mendapat gambar yang lebih cerah di puncak. Kemarin kami hanya mendapat gambar puncak berlatar belakang kabut tebal dan mendungnya langit. Tapi kami tetap bersyukur sempat melihat langsung makam Dewi Rengganis yang terdapat di atas puncak.

Perjalanan dari Cisentor ke Cikasur

            Waktu yang kami perlukan untuk sampai di Cikasur dari Cisentor hanya 2,5 jam. Medan yang kami lalui pun sangat memanjakan mata. Meskipun sebelumnya kami melewati pemandangan monoton tanaman setinggi alang-alang yang tumbuh liar, akhirnya kami menemukan sabana yang sangat indah ditumbuhi berbuket-buket rumput liar yang tertata apik. Sekitar Pkl 15.30 WIB Kami sampai di hamparan savana dengan garis bekas landasan pesawat terbang Jepang yang masih bisa terlihat jelas. Inilah pemandangan di Cikasur. Rumput-rumput hijau bergoyang tertiup semilirnya angin pegunungan. Sangat menentramkan hati, disamping juga menegakkan bulu kuduk karena cerita misteri di lembah ini.
Berlatar belakang Lembah Cikasur

            Cikasur memang terkenal dengan kisah mistisnya. Maklum saja, disini tempat bekas tempat penyiksaan pekerja rodi oleh tentara Jepang. Konon katanya sering terdengar suara seperti aba-aba baris-berbaris dalam bahasa jawa. Kadang terdengar juga suara isak tangis yang menyayat dari bekas landasan tersebut. Untung saja kami tidak menjumpai yang beginian.
            Ketika yang lain sibuk memasang tenda di dekat sebuah pondokan, Aku, Janah, dan Nurma melarikan diri di sebuah sungai kecil tak jauh dari tempat kami memasang tenda. Kami bertiga sibuk menikmati keindahan sekitar sungai itu sambil berfoto-foto dan memanen selada air hingga dua kresek besar. Selada air ini nantinya akan kami masak menjadi tumis yang katanya lezat dan sebagian lagi akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh. Sungainya kecil dengan sepanjang jalur ditumbuhi selada air dan bunga-bunga yang indah. Aku sangat senang bisa meminum langsung air di sungai sejernih ini, airnya sangat segar dan bebas pencemaran. Mungkin jika seumur hidup tinggal disini, umurku akan panjang, dan riwayat kematianku bukan karena penyakit melainkan karena kedinginan. hahaha.
Sungai Cikasurpenuh selada air

            Kami memasak di dalam pondokan. Karena kompor kami sedikit bermasalah, akhirnya kami memasak di atas tumpukan batu. Angin yang lumayan kencang memaksa kami untuk mengeluarkan usaha dan kesabaran yang ekstra untuk mematangkan sekedar nasi, tumis, dan air hangat. Kepulan asap yang ditimbulkan dari api pembakaran membuat mata terasa pedih. Setelah masakan siap, kami segera menyantapnya di dalam tenda. Sambil berfoto ria.


Pondokan di Cikasur
            Esok hari kami sama-sama memasak di dalam pondokan bersama beberapa rombongan dari Jember. Kami berkenalan. Mereka berasal dari salah satu Sispala atau pecinta alamnya anak SMA di Jember. Puluhan dari mereka masih SMA, sedangkan beberapa diantaranya adalah alumni yang bertugas untuk membina adik-adiknya. Mereka bercerita banyak, dan diantaranya adalah cerita mistis. Mulai dari bertemu sosok perempuan di kamar mandi Baderan, dikejar orang tua tanda petik makhluk gaib, hingga dibangunkan suara nangka jatuh pada tengah malam. Aku sendiri percaya tidak percaya karena semalam kami baik-baik saja. Sama sekali tidak ada suara aneh yang mengganggu kami kecuali suara angin kencang yang membelai rumput dan tenda kami. Namun ada satu cerita misteri yang benar-benar kami alami di Cikasur. Pada saat asyik memasak sambil bercerita, tiba-tiba terdengar satu suara pukulan gong yang lumayan keras. Anehnya, kami semua mendengarnya. Pada awalnya aku tidak ngeh. Aku kira itu suara berasal dari desa di sekitar Cikasur, sampai akhirnya aku sadar, desa terdekat adalah Desa Baderan dan untuk mencapainya kami masih harus berjalan naik turun bukit selama 8 jam. Jadi tidak mungkin suara dari desa terdengar disini. Kami semua menyimpulkan bahwa itu suara makhluk gaib yang sedang ada gawe “mengadakan pesta”. Aku masih percaya dan tidak percaya, masih bertanya-tanya sampai sekarang walaupun tahu tak seorang pun dapat menjawabnya.

Perjalanan pulang “Cikasur menuju Baderan”

            Siang hari sekitar pkl 10.00 WIB kami segera melanjutkan perjalanan pulang menuju Baderan. Jalur yang kami lalui lumayan landai dan banyak turunnya, namun tak sedikit pula bukit yang memaksa kita untuk menaikinya kemudian menuruninya. Kakiku rasanya ingin copot dari pergelangannya. Untuk mencapai Cikasur dari Baderan sebenarnya bisa dengan hanya membayar seratus ribu, dan sebuah motor ojek siap mengantarkan kita. Tapi aku tidak bisa membayangkan apakah nanti jantungku akan baik-baik saja jika benar-benar naik ojek di jalur itu, jalan kaki saja aku sudah kepleset beberapa kali sampai pantatku terasa memar.
            Akhirnya kami sampai di Kecamatan Besuki, Desa Baderan sekitar menjelang magrip. Tak terasa sudah hampir 8 jam kami berjalan naik turun bukit. Aku langsung duduk di depan rumah warga, melepas lelah. Banyak tukang ojek yang sudah siap menjemput kami, namun kami tidak berniat untuk ngojek. Kami segera menuju warung terdekat untuk mengisi perut yang sudah kosong. Beberapa diantara kami segera mencari pos perijinan untuk melapor. Tak disangka-sangka kami telah membuat kesalahan sehingga mas-mas polisi hutan yang menjaga pos tersebut memarahi kami. Sebelumnya kami tidak tahu bahwa kawasan pegunungan Argopuro ini termasuk kawasan konservasi dan untuk memasuki wilayah ini, dengan tujuan apapun harus membawa SIMAKSI (surat izin masuk kawasan konservasi) yang sebelumnya harus diurus di BKSDA terdekat.
            Setelah kenyang makan di warung, muncul sosok angkutan umum menjemput kami. Sewaktu angkot yang kami tumpangi akan meluncur menuju kota, kami berpapasan lagi dengan 3 pendaki dari semarang, alhasil kami pulang bareng.
            Sumpah, perjalanan ini bikin kapok namun juga bikin ketagihan. Kapok karena jalurnya yang panjang dan melelahkan membuat kakiku hampir membuat kakiku sampai bengkak, dan ketagihan karena pemandangannya dan suasananya yang patut untuk dirindukan.

Dengar dengar dengar engkaulah Edelweiss ku sayang sayang
Manis manis manis engkaulah Puncak Rengganis
Tapi sayang sayang bumi juga butuh cinta
Bumi juga butuh kasih sayang Kita
(Tamasya band)

            Lagu band indie dari Jember ini mengiringi perjalanan kami. Tuntas sudah perjalanan ini kami lalui. Selamat tinggal Argopuro, sampai bertemu lagi. Lain kali kami akan kembali untuk melepas rindu di taman cantikmu.


*Tamat*

Mendaki Pegunungan Hyang (2) "Argopuro yang Mistis, Benarkah Dewi Rengganis Manis?"


            Kami kembali melanjutkan perjalanan di pegunungan Hyang. Pegunungan dengan jalur track terpanjang di Jawa dan dengan medan yang lumayan menyiksa bagi pendaki pemula. Kami berangkat dari Danau Taman Hidup, sebuah danau yang terkenal akan keindahannya di pegunungan ini menuju Cisentor, sebuah pondokan tempat persimpangan antara puncak dan Cikasur. Selama perjalanan dari Danau Taman Hidup hingga Cisentor, Kami dimanjakan oleh pemandangan hutan yang masih lebat. Pepohonan menjulang tinggi dengan ditumbuhi tumbuhan paku serta lumut-lumut hijau yang menambah kesan rimba. Gunung ini sangat sepi pengunjung. Selama perjalanan ke Cisentor, Kami sama sekali tak berpapasan dengan pendaki lain.

Savana
            Kami telah sukses melewati hutan cemara dan pondok sinyal meskipun dengan perjuangan yang ekstra ngos-ngosan. Kami sempat putus asa karena kelelahan dan kedinginan. Bukan Kami semua. Janah dan Rozak masih semangat melanjutkan perjalanan dengan langkah yang sangat kilat. Aku sampai heran dan bertanya-tanya, apa makanan Mereka berdua?. Mereka masih sangat kuat melangkahkan kaki disaat Kami hampir mati kedinginan. Seumur-umur mendaki, baru kali ini pula Aku kedinginan pada saat perjalanan. Sungguh ini adalah waktu yang tak tepat untuk mendaki gunung. Dinginnya udara mungkin bisa ditutupi jaket, tapi dinginnya air hujan tak ada yang bisa menghilangkannya kecuali pakaian basah yang Kita kenakan dibuang jauh-jauh. Sungguh baru kali ini Aku mendaki di musim hujan. Di Argopuro pula.

Hutan lumut

            Hari sudah semakin sore dan cahaya matahari yang redup tertutup mendung akan digantikan rembulan yang bisu tak mampu mengusir gelap. Kami baru sampai di Kali Kenik, sementara sebentar lagi langit akan menghitam. Janah tetap pada pendiriannya ingin melanjutkan perjalanan ke Cisentor, tak peduli gelap menghadang. “Setengah jam lagi juga sampai kok”, bujuknya. Kami yang sudah kelelahan dan takut tersesat dalam gelap serempak menolaknya. Ditambah lagi kondisi kaki teman Kami yang sudah agak pincang jalannya. Tak tega pula Aku melihatnya. Kami segera mendirikan tenda, memasak, makan, lalu tidur.

Bernarsis ria di kali kenik

            Kami berencana untuk keesokan harinya berangkat pagi-pagi tanpa memasak, dan akan memasak di Cisentor. Tapi rencana hanyalah rencana. Keesokan paginya benar saja Kami tidak memasak, Kami hanya makan snack dan roti seadanya. Tapi cuaca yang buruk, hujan yang tanpa henti, membuat Kami malas untuk keluar tenda dan melanjutkan perjalanan. Kami menunggu dan menunggu sampai hujan reda. Namun yang ditunggu tak kunjung reda. Akhirnya sekitar pukul 10 pagi Kami berangkat dari Kali Kenik menuju Cisentor. Seperti biasa, Janah dan Rozak memimpin di depan. Yang di belakang, Aku dengan malu-malu setiap lima menit sekali memegang perut sambil membayangkan makanan lezat. Huft, sungguh ini tak pantas ditiru, melanjutkan perjalanan tanpa mengisi energi dengan cukup.
            Gara-gara seharian nyasar di hari pertama sebelum sampai Danau Taman Hidup, rencana perjalanan Kami molor hampir satu hari. Bahkan beberapa dari Kami tidak memiliki semangat dan optimisme lagi untuk summit attact. “Sudahlah, tujuanmu mendaki untuk apa? puncak bukanlah tujuan satu-satunya. Kondisinya sekarang sudah jam berapa? Aku sudah tak menginginkan puncak lagi”. Salah satu dari Kami mengeluarkan pendapat yang di iyakan oleh beberapa yang lain. Aku sendiri, dari hati ingin tetap ke puncak dan memaki-maki diri sendiri karena tak tahu apakah suatu saat bisa ke tempat ini lagi untuk ke puncak. Aku sangat ingin tahu wajah Puncak Rengganis. Apakah semanis dalam lagu itu? “Manis manis manis engkaulah Puncak Rengganis”, begitulah liirik lagu berjudul “Edelweiss” yang sering dikumandangkan di komputer sekretariat. Sebuah lagu oleh-oleh dari Jember. Lagu ini tenar di kalangan pecinta alam di Jember. Anggota grub band yang menyanyikan lagu ini pun berasal dari alumni pecinta alam. Tamasya band.


Pondok Cisentor
            Sekitar pukul 1 siang Kami sampai di pondok Cisentor. Sebuah pondok satu-satunya telah ditempati para calon anggota Sispala yang sedang menjalani masa pendidikan. “Ayo, Siapa yang mau muncak, Aku mau muncak, yang muncak ayo muncak yang tidak nunggu disini, Kita makan cracker aja dulu, masaknya nanti saja setelah muncak”. Gelegar suara Janah penuh entah penuh amarah atau semangat. Meski pada awalnya sudah banyak yang patah semangat untuk summit attact, Akhirnya Kami semua menyerah juga. Kami tidak bisa membohongi diri, bahwa Kami ingin menikmati indahnya Puncak Rengganis. Sudah jauh-jauh sampai disini masak iya gak sampai puncak. Ditambah lagi kondisi yang memungkinkan karena hujan sudah reda.
            Kami semua akan melanjutkan perjalanan ke puncak. YEAAY!! Aku sangat senang, karena dari awal Aku sangat ingin melihat dengan mataku sendiri manisnya Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Walaupun sungguh sebenarnya Aku ingin makan nasi, tetapi karena dikejar waktu, perjalanan pulang pergi Cisentor-Puncak sekitar 5 jam, akhirnya Aku cukup menyantap cracker. Masak nasi plus lauk pauk membutuhkan waktu yang lumayan lama, bisa lebih dari satu jam. Kami tidak mau dalam keadaan masih dalam perjalanan setelah cahaya matahari terbenam. Satu jam adalah waktu yang cukup untuk melakukan perjalanan dari Cisentor menuju ke Rawa Embik. Rawa Embik adalah mata air tertinggi di pegunungan ini. Sesampainya di Rawa Embik, Kami berhenti sebentar untuk mengambil air. Sangat segar.

Narsis diantara kabut

Jalan menuju puncak

            Kami melanjutkan perjalanan lagi tapi beberapa jam kemudian hujan turun. Rintik hujan diiringi kabut dingin tak menghentikan langkah Kami. Kami hanya berhenti beberapa menit untuk memakai jas hujan. Tak lama kemudian hujan reda. Segala rasa lelah terhapuskan oleh indahnya hamparan Edelweiss dan kabut tipis. Subhanallah, apakah syurga lebih indah dari ini?. Edelweiss dan efek kabut tipisnya memberikan kesan Kami sedang berada di dunia lain. Seperti inikah taman bermain Dewi Rengganis?

Terbentang hamparan Edelweiss

            Kami melanjutkan perjalanan sambil berfoto ria hingga akhirnya Kami sampai di pertigaan. Pertigaan ini adalah pemisah tiga jalur, jalur Puncak Rengganis, jalur Puncak Argopuro, dan jalur turun ke Cisentor. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis. Belum sampai puncaknya, hujan kembali turun. Kami tetap melangkah membelah hujan dengan jas hujan Kami. Alhasil Kami hujan-hujanan di Puncak. Meskipun hujan dan kabut agak menghalangi pandangan, namun Kami sepakat, Puncak Rengganis benar-benar manis. Benar-benar indah. Apakah Dewi Rengganis juga manis? Kami tak peduli lagi, karena Kami tahu, angin pun tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Sebelum menaiki bebatuan di puncak rengganis

            Kami segera berfoto ria di puncak meskipun hujan membasahi baju yang Kami kenakan untuk berpose di depan kamera. Karena dingin dan kucuran air hujan yang semakin membuat pakaian Kami basah, akhirnya waktu 15 menit Kami cukupkan. Kami segera turun kembali menuju Cisentor. Kami tidak menyempatkan diri untuk mampir ke Puncak Argopuro karena takut kemalaman. Katanya untuk mencapai Puncak Argopuro harus melewati medan yang lebih curam. Akhirnya Kami hanya sempat melambaikan tangan untuk Puncak Argopuro. “Kami akan mampir kapan-kapan”. Janji Kami yang tak tahu akan Kami tepati atau tidak. Sebelum magrib Kami  telah sampai di Cisentor dan segera memasak serta mendirikan tenda. Sambil menggigil.

Puing kerajaan dewi rengganis


Berfoto di puncak rengganis

*Bersambung*

Mendaki Pegunungan Hyang (1) "Dimanakah Kau, Danau Taman Hidup?"


            Argopuro, salah satu gunung yang populer di kalangan pencinta alam maupun pendaki ini terletak di daerah perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Situbondo. Gunung ini memiliki 2 puncak, yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Sebuah lagu dari band indie asal Jember, Tamasya band, berjudul “Edelweiss”  yang sering berkumandang di sekretariat tercinta membuatku semakin ingin menjajal gunung tersebut. Meskipun pada mulanya ada sedikit rasa takut oleh cerita mistis beberapa teman yang pernah mendaki gunung tersebut, akhirnya pada 24 Desember 2011 Aku beranikan diri untuk berangkat menapaki jalur tracking terpanjang di Jawa tersebut.

            Kami 8 mahasiswa, tepatnya 4 mahasiswa dan 4 mahasiswi mengisi minggu tenang untuk mencari kedamaian hati bersama lembutnya kabut dan dinginnya udara pegunungan Hyang. Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, yaitu Bremi dan Baderan. Kami memilih berangkat dari Bremi dan pulang melewati Baderan. Untuk sampai ke Bremi, dari Surabaya Kami naik bus dan turun di terminal Probolinggo, kemudian naik angkot hingga Garasi Akas. Sesampainya di Akas, Kami menunggu hingga jam 6 pagi, bus dari Akas  menuju Bremi hanya ada pukul 6 pagi dan 11 siang. Sesampainya di Bremi, Kami mengurus perijinan di Polres setempat kemudian capcus menuju Taman Hidup.
            Kami membentuk formasi. Janah sebagai satu-satunya yang pernah menapaki jalur Argopuro sebelumnya dipilih sebagai penunjuk arah. Rozak berada pada barisan paling depan mengikuti jalur track pada GPS. Saking banyaknya percabangan dan jalur tikus bagi penebang liar, jalur dari Bremi menuju Taman Hidup ini agaknya membingungkan bagi yang pertama kali menapakinya. Nampaknya pengalaman dari satu orang dan alat bantu GPS yang sengaja Kami bawa tidak menjadi jaminan bahwa Kami tidak akan tersesat.
            Di suatu persimpangan jalan Kami agak bingung membuat keputusan. Ikut jalur lurus namun lumayan menanjak, atau belok kanan dengan kontur yang agak melipir. Akhirnya Kami memutuskan untuk mengikuti jalur ke kanan dengan pertimbangan bahwa kedua jalur tersebut pada akhirnya ada pada satu titik pertemuan. Dengan kata lain, lewat jalur lurus maupun kanan akan sama saja. Kami terus mengikuti jalur yang ada hingga akhirnya Kami menemui jalan buntu. “Oh man, ternyata ini jalannya para penebang pohon”. Banyak kayu bekas tebangan yang berceceran. Kami tersesat.

Bekas jalan perambah kayu

            Dengan perasaan yang masih tenang, Kami mengikuti jalur track pada GPS. Meskipun agak mbrusuk-mbrusuk untuk beberapa lama, akhirnya Kami menemukan jalan. Jalan yang agak lebar dengan beberapa persimpangan. Kami dihadapkan dengan masalah baru. Ada jalur ke atas dan ke bawah, lalu jalur yang mana yang akan membawa Kami ke Danau Taman Hidup? Kami mengambil keputusan dengan memilih jalur ke bawah. Setengah jam sudah Kami berjalan. Jalur yang lumayan terjal, namun mudah Kami lalui karena jalan yang menurun. Sampai di bawah rupanya indah sekali. Semak-semak asing yang jarang Kami lihat, di belakangnya ada pemandangan kabut yang putih dan menebal. Mungkinkah Taman Hidup ada disitu? Namun agak aneh ketika Kami mulai mendengar lantunan musik dangdut. Apakah ini jalan menuju pedesaan? Pertanyaan itu tak terjawabkan, karena teriakan Mbak Matus membuyarkan langkah Kami. Menariknya kembali ke atas dengan jantung berdegup kencang dan nafas ngos-ngosan. Ya, Kami memutar arah setelah menyadari arah Kami salah.
            Fyuh, ternyata jalan menuju kembali ke atas lebih menguras tenaga dan memakan banyak waktu. Ada persimpangan ke kanan dan Kami mengikuti jalan itu, sesuai arah pada GPS. Setelah berjalan dan berjalan selama beberapa waktu Kami kembali menemui jalan buntu. Kami semua menghentikan langkah dan beristirahat di semak-semak yang agak datar. Sementara Mbak Matus dan Rozak mendaki lebih ke atas untuk mencari jalan. Mbak Matus seperti menemukan Danau Taman Hidup, tapi rupanya setelah lebih diselidiki yang dilihatnya hanyalah kabut tebal nan putih. Kami semua ingin kembali lagi ke jalan semula, sebelum belok kanan dari jalan persimpangan. Akan tetapi Mbak Matus yakin akan jalan yang dipilihnya. Ia terus mengikuti jalur track pada GPS. Tentu saja Kami tak mungkin meninggalkannya sendiri. Akhirnya Kami mengikutinya juga.
            Jalur yang Kami lewati lebih menjadi. Sebuah turunan yang lumayan curam dengan semak-semak liar yang tak bersahabat. Terpaksa Kami menuruninya walau harus pelorotan. Tempat ini seperti menuju ke jurang atau sejenisnya. Jujur, Aku agak takut. Takut tempat ini semakin menyesatkan, dan Kami semakin tak bisa keluar. Sore hari sudah menjumpai masa akhirnya. Sebentar lagi waktu magrib segera tiba, dan gelap tentunya akan menyapa. Kami memutuskan kembali ke atas. Kembali ke persimpangan semula membutuhkan waktu yang cukup lama, ditambah lagi suasana gelap akan menyusahkan Kami mencari jalur yang benar. Akhirnya Kami menemukan tempat yang lumayan datar. Meskipun tempat ini agak sempit, cukuplah untuk membuat tenda seadanya.
            Kami berangkat dari Polsek sekitar pukul 10 pagi, harusnya Kami sampai di Danau Taman Hidup sekitar pukul 3 sore. Tapi ini sudah beranjak magrib dan Kami masih tersesat di hutan belantara. Rencana untuk mendirikan camp di Danau Taman Hidup menjadi gagal. Aku tak peduli. Aku tak peduli lagi tentang Taman Hidup, tempat yang Aku impi-impikan itu. Aku lelah. Seumur-umur mendaki, baru kali ini Aku tersesat. Apalagi ini di pegunungan Argopuro, banyak berita orang hilang disini. Jujur, Aku sendiri sudah hampir menyerah, sedetik kemudian Aku menyesali keputusanku berangkat ke tempat ini, sedetik kemudian Aku ingin segera sampai ke kota tempat tinggalku. Perasaan penyesalan maupun ketakutan ini tentu saja kusimpan sendiri.
            Aku tak sendiri, Kami berdelapan, dan dari 8 kepala itu tentu cukup untuk berpikir mengenai langkah-langkah yang akan Kami ambil selanjutnya. Kadang Aku berpikir kekhawatiranku ini sangatlah berlebihan ketika melihat ternyata Mereka terlihat sukses membuang jauh rasa takut dan segera mencari solusi dari ini semua. Mereka sama sekali tidak ingin kembali pulang seperti yang dipikiranku. Mereka terlihat lebih kuat. Aku mencoba menguatkan diri, seperti Mereka. Taman Hidup, Cisentor, Puncak, Cikasur, dan Baderan tetap menjadi tujuan Kami.
            Para cowok tidur di tenda yang letaknya agak di bawah dataran tempat tenda para cewek berdiri. Kami berniat untuk rapat koordinasi malam itu, tapi ternyata para cowok sudah pada ngorok tanpa sempat memakan sepotong roti pun. Sungguh Aku bisa merasakan lelah yang dirasakan Mereka. Akhirnya sebelum tidur, Kami melempar sebungkus roti ke tenda cowok kemudian membuka GPS untuk melihat jalur Taman Hidup. Astagaaa! Ternyata jalur Taman Hidup yang selama ini Kami ikuti salah. Orang terdahulu yang menggunakan GPS ini salah mengeplot titik koordinat Danau Taman Hidup. Pantas saja Kami tersesat. Aaaahhh, Aku lega, paling tidak Aku tahu alasan Kami tersesat, rupanya karena kesalahan pengeplotan titik koordinat Taman Hidup pada GPS. Bukan karena kerusakan sistem pada GPS yang Kami bawa, ketidak terampilan Kami dalam menggunakan GPS, atau penyebab-penyabab mistis yang mungkin saja terjadi di Pegunungan angker ini.
            Keesokannya Kami bangun sangat pagi, tak pernah Aku bangun sepagi ini saat pendakian. Kami sempat mendengar teriakan manusia, beneran manusia. Sepertinya suara itu berasal dari Danau Taman Hidup. Kami membalas suara itu dengan berteriak kencang, berharap Mereka juga mendengar Kita. Tapi sia-sia. Kami segera melakukan pembagian tugas setelah sarapan dengan snack dan roti secukupnya. Janah dan Rozak berangkat terlebih dahulu untuk mencari jalur. Aku dan yang lain beres-beres tenda dan packing. Setelah selesai packing, sekitar pukul 7 pagi, Kami segera mengikuti jalur yang dilewati Janah dan Rozak. Mereka daritadi sudah berteriak-teriak memberi isyarat pada Kami untuk bergegas mengikutinya. Mereka memasang streamline berupa pita warna biru pada beberapa pohon agar Kami tidak kehilangan jejak.
            Akhirnyaa Kami menemukan Danau Taman Hidup sekitar pkul 8.30 pagi. Benar dugaan Kami, Taman Hidup tak jauh dari lokasi Kami bermalam. Sayang sekali Kami tidak bisa bermalam di danau ini. Tapi Aku sudah cukup lega karena telah keluar dari zona sesat. Kami bergegas menuju jembatan yang kayunya sudah lapuk dan berujungkan gubuk tua di tengah danau. Di gubuk tersebut telah ramai anak-anak kecil usia SMP sedang memancing. Mereka penduduk lokal dan telah terbiasa bermain disini.


Menemukan Danau Taman Hidup

            Setelah puas berfoto, Kami bergotong royong memasak nasi, soto, dan telur dadar. Soto berkuah kuning yang hanya terasa pahitnya kunir karena ada bumbu yang kurang. Meskipun rasanya agak aneh, Kami tetap lahap memakannya. Mungkin ini karena perut yang keroncongan setelah energi terkuras habis akibat tersesat seharian. Sekitar pukul sebelas siang, Kami melanjutkan perjalanan. Tujuan Kami selanjutnya adalah Cisentor. Sebenarnya Aku agak takut. Takut kemungkinan nyasar kembali. Tapi karena Mereka yakin, Akhirnya Aku meyakinkan diri. Cukup kemarin saja Kami tersesat di pegunungan hyang ini. Tunggu Kami di Puncakmu Dewi Rengganis!


Bersambung*

Tuesday, October 11, 2011

Cerita kepada Malam

Aku ingin bercerita,

Ceritakan kisah kepada malam yang kian larut..

Dialah yang setiap hari membawaku terlelap dalam mimpi indah..

Malam ini terasa hening, sehening prakara yg tak kunjung usai ini..

Dan aku sedang berfikir,

Memikirkan sesuatu yg tak pernah kutemui jalan keluarnya...

Aku senang, namun Aku juga sedih..

Aku sedih, namun Aku juga senang..

- Oktober, 2011

Friday, June 3, 2011

Kala Bimbang

Terlintas pertanyaan dalam diri
Haruskah diri ini diam dalam kedamaian
Ataukah memberontak dalam terjangan badai kehidupan
Menapis segala keterbatasan
Dan masih pantaskan aku untuk hidup dalam kebinasaan?

Sedang disatu pihak mengatasnamakan 'semangat'
Dengan segala keagungan terus membangkitkan gairahku
Sedang yang lain mengatasnamakan 'keputusasaan'
Dengan segala amarah terus mengombangambingku

Sementara aku hanya diam dipersimpangan
Menunggu waktu memutuskan, Jalan mana yang akan kupilih?

(Surabaya, 2011)