Showing posts with label gunung. Show all posts
Showing posts with label gunung. Show all posts

Sunday, November 23, 2014

Puncak Pertamaku, Arjuna


            Juli 2009 adalah pertama kalinya aku menikmati dinginnya udara pada ketinggian diatas 3000 mdpl. Gunung Arjuna, Gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini memiliki ketinggian 3.339 mdpl. Perasaan senang sekaligus takut menghinggapi jiwaku, namun rasa takut sekejap hilang karena aku bersama-sama dengan teman sekaligus dulur-dulur dari berbagai kota yang dipertemukan di PLH SIKLUS ITS. Rasa lelah tentu saja sering menghantui jiwa maupun raga sehingga butuh fisik sekaligus mental yang kuat untuk dapat bertahan dan terus melangkah.

            Kami mendaki malam hari lewat jalur Tretes dan ngecamp di Kop-kopan sebelum esok paginya berangkat ke Pondokan. Perjalanan melewati Pet Bocor dimana di tempat tersebut terdapat pos dan pipa air minum. Sekitar pukul 20.00 WIB kita sampai di Kop-kopan. Di kop-kopan ini kita dapat menjumpai warung kecil yang menjual teh hangat dan mie, serta terdapat pula semacam tempat pembuangan air besar yang masih sangat tradisional. Beberapa tenda milik pendaki lain telah tersusun rata di tempat yang tidak begitu luas, dan kami mulai mencari tempat untuk memasang tenda. Betapa rasa dingin menusuk tubuh seketika karena aktifitas mendaki sementara dihentikan.

Pondokan penambang belerang

            Pertama kalinya aku merasa sangat kedinginan yaitu saat beberapa menit sampai di Pondokan. Ini pertama kalinya aku merasakan belaian angin gunung yang begitu brrr.... dingin. Di Pondokan ini banyak rumah-rumah kecil yang terbuat dari gubuk yang merupakan tempat tinggal penambang belerang. Pondokan ini merupakan persimpangan jalan menuju Puncak Arjuno dan Puncak Welirang.  Di daerah ini juga terdapat sumber air serta tempat untuk buang air.

            Di pondokan kami memasak soto ayam. Emang niat banget. Tetapi sayang disayang, soto ayamnya tumpah separo saat mau diangkat dari kompor.

            Malam harinya si Indi dan si Meita yang lebih berpengalaman naik gunung bercerita macam-macam mulai mistisnya gunung sampai pasar setan yang ada di jalanan menuju puncak Arjuno. Pasar setan yaitu semacam kampung setan yang mistis dan menjual berbagai macam barang dengan harga murah. Konon katanya hanya orang tertentu yang dapat melihatnya. Aku pun tak tahu apakah hal ini benar atau cuma mitos belaka.

            Sebelum tidur kami bersepakat esok hari berangkat pkl 04.00 WIB. Bayangan tentang pasar setan membuatku merinding. Aku jadi malas bangun tidur cepat-cepat. Aku berdo’a supaya besok gak jadi berangkat pkl 04.00 WIB melainkan berangkat bareng munculnya matahari. Biar enggak ketemu pasar setan, pikirku.

            Benar saja, kami berangkat pkl 07.00 WIB. Sebenarnya perjalanan dari pondokan ke puncak bisa ditempuh cukup dengan 4 jam. Tapi karena kebanyakan dari kami adalah pemula, kami baru sampai puncak pada pkl 14.00 WIB.

Lembah Kidang

            Selama perjalanan kami melewati Lembah Kidang yang merupakan padang rumput luas. Konon banyak terdapat kijang di lembah ini, namun kami tidak melihatnya. Selama perjalanan di Arjuno kami hanya melihat burung Anis dan ayam hutan.

            Di Lembah Kidang ini terdapat sumber air yang merupakan sumber air terakhir selama perjalanan ke puncak. Jadi setelah ini, kami benar-benar harus menghemat air dan memperkirakan jumlah air yang akan dibawa. Setelah melewati Lembah Kidang, kami melewati daerah yang mirip dengan lembah kidang namun terdapat banyak bebatuan. Tempat inilah yang disebut pasar setan.

Dalam perjalanan menuju Puncak Arjuno, kami bertemu dengan beberapa bule yang turun maupun naik ke puncak. Diantaranya bule diantar beberapa porter dan guide yang tampilan rambutnya gondrong dan gimbal. Kami juga bersisipan dengan mahasiswa Geomatika UI yang tergabung dalam organisasi GMC (Geographical Mountaineering Club).

            Salah satu teman kami sibuk memetik bunga yang bisa dijangkau disekitar jalan yang kami lalui meskipun dalam jumlah sedikit. Namun saat mendengar ketua GMC menasihati salah satu anggotanya saat memungut bunga edelweiss yang udah mati, kami merasa tertohok. Kami ini Pencinta Lingkungan Hidup bro, masak kalah sama GMC. Ah nggak ada menang atau kalah ding, kami semua pendaki harus menjaga kelestarian alam. Setelah kejadian itu, temanku mulai sadar dan membuang kembali bunga-bunga itu, syukurlah. Aku memakluminya karena kami pemula. Ini juga pertama kalinya aku benar-benar memaknai kode etik pecinta alam. Hampir semua orang yang pernah berkegiatan di alam bebas pasti tau. Dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dilarang mengambil sesuatu kecuali foto, dan dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu.

            Rombongan GMC juga baik hati. Mereka membagi minuman dan kue untuk kami. Saat kehausan di jalan, minuman itu sangat membantu. Ah sesama pendaki emang sudah seharusnya saling membantu. Kami gak jadi KO karena depresi, eh dehidrasi. Saat itu kami tidak membawa perbekalan dengan rata. Kami hanya membawa 2 tas ransel berisi makanan, minuman, headlamp, dan jas hujan. Kami yang muncak ada 9 orang dan terkadang kami tidak berjalan bareng, ada yang jauh tertinggal dan ada yang jauh di depan. Ini kesalahan besar. Seharusnya masing-masing dari kami membawa satu tas kecil berisi makanan, minuman, headlamp dan jas hujan untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya tersesat atau ketinggalan dari rombongan. Gak seru kan kalo kita tertinggal jauh dari teman yang membawa makanan dan minuman dan kita tidak membawa perbekalan apa-apa, bisa lemes kita. Meita pun lemes dan muntah2, akhirnya dia diantar mas Iteng turun ke Pondokan.

            Mas Iteng adalah yang paling dituakan disini. Dialah yang menasehati kami macam-macam. Mulai cara menata perbekalan dan bahan-bahan makanan agar rapi dan tidak busuk, juga cara berhemat air dan tissue. Benar-benar ramah lingkungan dah. Ada sedikit rasa bersalah karena sebelumnya aku sering membuang sampah sembarangan, boros memakai air, listrik, bla bla bla.


Puncak Arjuna 2.600 mdpl

Hwaaaa, pertama kalinya aku merasakan puncak, menghirup udara paling segar. Aku bagai berada di negeri di atas awan J. Terbayar sudah segala rasa lelah yang sedari tadi menghinggapi. Betapa gunung adalah tempat dimana kita dapat menemukan diri kita sendiri, melatih kita untuk bersabar, mendekatkan pada alam dan penciptanya.

Puncak Arjuno merupakan puncak trianggulasi dimana terdapat tiga puncak dan satu diantaranya puncak paling tinggi yang merupakan pncak sebenarnya. Puncak Arjuno terdiri dari bebatuan dan vegetasi tanaman mulai hilang. Saat di Puncak kita harus berhati-hati karena di tepi bebatuan merupakan tebing dan kita bisa terjatuh bila terlalu menepi.

            Turun dari puncak, kami sempat nyasar. Mana hari udah gelap. Untungnya mas Patkai yang daritadi bertugas menjaga tenda menyusul kami.

            Keesokan harinya kami mendaki lagi ke puncak Welirang. Tapi aku gak ikut. Kemarin saja aku sudah ngos-ngosan. Udah gak kuat lagi aku, aku menyerah. Akhirnya aku, mas Iteng dan Meita hanya masak-masak saja di Pondokan. Kata Meita, di Pondokan ini sering ada orang yang nyuri makanan. Benar saja, ada orang minta makanan, aku kasih roti tawar satu bungkus eh gak cuma dimakan secukupnya malah di makan semua. Kemarin juga sisa ayam rebus yang belum diiris dan dibuat soto ilang gak berbekas. Gak boleh berburuk sangka tapi harus tetap waspada, uyeea.

            Masih banyak pendaki yang meninggalkan sampah di berbagai persinggahan mereka seperti di Kop-kopan, Pondokan, maupun dalam perjalanan mereka, namun tak sedikit pula yang membawa sampahnya kembali saat turun gunung. Tentunya kita dapat mengerti dan melakukan tindakan mana yang baik. Siapa yang akan membersihkan sampah kita nantinya jika kita meninggalkan sampah begitu saja di gunung?.


            Pas mau turun terjadi hal konyol. Tempat tenda kami mulai terkena panas matahari  sehingga kami pindah ke tempat yang agak ke atas. Si Cipto malah iseng bilang pada Putri dan mbak Erfina bahwa kami sudah turun meninggalkan mereka. Eh mereka beneran turun. Akhirnya Patkay dan Cipto harus membawa dua tas mereka. Hadeehhhh, mereka kena aja dibohongi. Ada-ada saja.

Friday, December 30, 2011

Mendaki Pegunungan Hyang (3) "Membelai Mistisnya Angin Lembah Cikasur"


            Setelah menikmati suasana indah di Danau Taman Hidup dan puncak Rengganis, tujuan berikutnya adalah lembah Cikasur. Cuaca tak mau berkompromi ketika kami akan memulai perjalanan dari Cisentor menuju Cikasur. Hujan tidak juga reda dari tengah malam hingga siang bolong. Alhasil, kami bangun kesiangan. Kami segera memasak, beres-beres, dan capcus. Pukul 1 siang, kami baru berangkat menuju Cikasur. Kami sempat bersisipan dengan 3 orang pendaki asal Semarang. Tiba-tiba cuaca cerah dan panas. Beruntung sekali ketiga pendaki tersebut, pasti mereka mendapat gambar yang lebih cerah di puncak. Kemarin kami hanya mendapat gambar puncak berlatar belakang kabut tebal dan mendungnya langit. Tapi kami tetap bersyukur sempat melihat langsung makam Dewi Rengganis yang terdapat di atas puncak.

Perjalanan dari Cisentor ke Cikasur

            Waktu yang kami perlukan untuk sampai di Cikasur dari Cisentor hanya 2,5 jam. Medan yang kami lalui pun sangat memanjakan mata. Meskipun sebelumnya kami melewati pemandangan monoton tanaman setinggi alang-alang yang tumbuh liar, akhirnya kami menemukan sabana yang sangat indah ditumbuhi berbuket-buket rumput liar yang tertata apik. Sekitar Pkl 15.30 WIB Kami sampai di hamparan savana dengan garis bekas landasan pesawat terbang Jepang yang masih bisa terlihat jelas. Inilah pemandangan di Cikasur. Rumput-rumput hijau bergoyang tertiup semilirnya angin pegunungan. Sangat menentramkan hati, disamping juga menegakkan bulu kuduk karena cerita misteri di lembah ini.
Berlatar belakang Lembah Cikasur

            Cikasur memang terkenal dengan kisah mistisnya. Maklum saja, disini tempat bekas tempat penyiksaan pekerja rodi oleh tentara Jepang. Konon katanya sering terdengar suara seperti aba-aba baris-berbaris dalam bahasa jawa. Kadang terdengar juga suara isak tangis yang menyayat dari bekas landasan tersebut. Untung saja kami tidak menjumpai yang beginian.
            Ketika yang lain sibuk memasang tenda di dekat sebuah pondokan, Aku, Janah, dan Nurma melarikan diri di sebuah sungai kecil tak jauh dari tempat kami memasang tenda. Kami bertiga sibuk menikmati keindahan sekitar sungai itu sambil berfoto-foto dan memanen selada air hingga dua kresek besar. Selada air ini nantinya akan kami masak menjadi tumis yang katanya lezat dan sebagian lagi akan kami bawa pulang sebagai oleh-oleh. Sungainya kecil dengan sepanjang jalur ditumbuhi selada air dan bunga-bunga yang indah. Aku sangat senang bisa meminum langsung air di sungai sejernih ini, airnya sangat segar dan bebas pencemaran. Mungkin jika seumur hidup tinggal disini, umurku akan panjang, dan riwayat kematianku bukan karena penyakit melainkan karena kedinginan. hahaha.
Sungai Cikasurpenuh selada air

            Kami memasak di dalam pondokan. Karena kompor kami sedikit bermasalah, akhirnya kami memasak di atas tumpukan batu. Angin yang lumayan kencang memaksa kami untuk mengeluarkan usaha dan kesabaran yang ekstra untuk mematangkan sekedar nasi, tumis, dan air hangat. Kepulan asap yang ditimbulkan dari api pembakaran membuat mata terasa pedih. Setelah masakan siap, kami segera menyantapnya di dalam tenda. Sambil berfoto ria.


Pondokan di Cikasur
            Esok hari kami sama-sama memasak di dalam pondokan bersama beberapa rombongan dari Jember. Kami berkenalan. Mereka berasal dari salah satu Sispala atau pecinta alamnya anak SMA di Jember. Puluhan dari mereka masih SMA, sedangkan beberapa diantaranya adalah alumni yang bertugas untuk membina adik-adiknya. Mereka bercerita banyak, dan diantaranya adalah cerita mistis. Mulai dari bertemu sosok perempuan di kamar mandi Baderan, dikejar orang tua tanda petik makhluk gaib, hingga dibangunkan suara nangka jatuh pada tengah malam. Aku sendiri percaya tidak percaya karena semalam kami baik-baik saja. Sama sekali tidak ada suara aneh yang mengganggu kami kecuali suara angin kencang yang membelai rumput dan tenda kami. Namun ada satu cerita misteri yang benar-benar kami alami di Cikasur. Pada saat asyik memasak sambil bercerita, tiba-tiba terdengar satu suara pukulan gong yang lumayan keras. Anehnya, kami semua mendengarnya. Pada awalnya aku tidak ngeh. Aku kira itu suara berasal dari desa di sekitar Cikasur, sampai akhirnya aku sadar, desa terdekat adalah Desa Baderan dan untuk mencapainya kami masih harus berjalan naik turun bukit selama 8 jam. Jadi tidak mungkin suara dari desa terdengar disini. Kami semua menyimpulkan bahwa itu suara makhluk gaib yang sedang ada gawe “mengadakan pesta”. Aku masih percaya dan tidak percaya, masih bertanya-tanya sampai sekarang walaupun tahu tak seorang pun dapat menjawabnya.

Perjalanan pulang “Cikasur menuju Baderan”

            Siang hari sekitar pkl 10.00 WIB kami segera melanjutkan perjalanan pulang menuju Baderan. Jalur yang kami lalui lumayan landai dan banyak turunnya, namun tak sedikit pula bukit yang memaksa kita untuk menaikinya kemudian menuruninya. Kakiku rasanya ingin copot dari pergelangannya. Untuk mencapai Cikasur dari Baderan sebenarnya bisa dengan hanya membayar seratus ribu, dan sebuah motor ojek siap mengantarkan kita. Tapi aku tidak bisa membayangkan apakah nanti jantungku akan baik-baik saja jika benar-benar naik ojek di jalur itu, jalan kaki saja aku sudah kepleset beberapa kali sampai pantatku terasa memar.
            Akhirnya kami sampai di Kecamatan Besuki, Desa Baderan sekitar menjelang magrip. Tak terasa sudah hampir 8 jam kami berjalan naik turun bukit. Aku langsung duduk di depan rumah warga, melepas lelah. Banyak tukang ojek yang sudah siap menjemput kami, namun kami tidak berniat untuk ngojek. Kami segera menuju warung terdekat untuk mengisi perut yang sudah kosong. Beberapa diantara kami segera mencari pos perijinan untuk melapor. Tak disangka-sangka kami telah membuat kesalahan sehingga mas-mas polisi hutan yang menjaga pos tersebut memarahi kami. Sebelumnya kami tidak tahu bahwa kawasan pegunungan Argopuro ini termasuk kawasan konservasi dan untuk memasuki wilayah ini, dengan tujuan apapun harus membawa SIMAKSI (surat izin masuk kawasan konservasi) yang sebelumnya harus diurus di BKSDA terdekat.
            Setelah kenyang makan di warung, muncul sosok angkutan umum menjemput kami. Sewaktu angkot yang kami tumpangi akan meluncur menuju kota, kami berpapasan lagi dengan 3 pendaki dari semarang, alhasil kami pulang bareng.
            Sumpah, perjalanan ini bikin kapok namun juga bikin ketagihan. Kapok karena jalurnya yang panjang dan melelahkan membuat kakiku hampir membuat kakiku sampai bengkak, dan ketagihan karena pemandangannya dan suasananya yang patut untuk dirindukan.

Dengar dengar dengar engkaulah Edelweiss ku sayang sayang
Manis manis manis engkaulah Puncak Rengganis
Tapi sayang sayang bumi juga butuh cinta
Bumi juga butuh kasih sayang Kita
(Tamasya band)

            Lagu band indie dari Jember ini mengiringi perjalanan kami. Tuntas sudah perjalanan ini kami lalui. Selamat tinggal Argopuro, sampai bertemu lagi. Lain kali kami akan kembali untuk melepas rindu di taman cantikmu.


*Tamat*

Mendaki Pegunungan Hyang (2) "Argopuro yang Mistis, Benarkah Dewi Rengganis Manis?"


            Kami kembali melanjutkan perjalanan di pegunungan Hyang. Pegunungan dengan jalur track terpanjang di Jawa dan dengan medan yang lumayan menyiksa bagi pendaki pemula. Kami berangkat dari Danau Taman Hidup, sebuah danau yang terkenal akan keindahannya di pegunungan ini menuju Cisentor, sebuah pondokan tempat persimpangan antara puncak dan Cikasur. Selama perjalanan dari Danau Taman Hidup hingga Cisentor, Kami dimanjakan oleh pemandangan hutan yang masih lebat. Pepohonan menjulang tinggi dengan ditumbuhi tumbuhan paku serta lumut-lumut hijau yang menambah kesan rimba. Gunung ini sangat sepi pengunjung. Selama perjalanan ke Cisentor, Kami sama sekali tak berpapasan dengan pendaki lain.

Savana
            Kami telah sukses melewati hutan cemara dan pondok sinyal meskipun dengan perjuangan yang ekstra ngos-ngosan. Kami sempat putus asa karena kelelahan dan kedinginan. Bukan Kami semua. Janah dan Rozak masih semangat melanjutkan perjalanan dengan langkah yang sangat kilat. Aku sampai heran dan bertanya-tanya, apa makanan Mereka berdua?. Mereka masih sangat kuat melangkahkan kaki disaat Kami hampir mati kedinginan. Seumur-umur mendaki, baru kali ini pula Aku kedinginan pada saat perjalanan. Sungguh ini adalah waktu yang tak tepat untuk mendaki gunung. Dinginnya udara mungkin bisa ditutupi jaket, tapi dinginnya air hujan tak ada yang bisa menghilangkannya kecuali pakaian basah yang Kita kenakan dibuang jauh-jauh. Sungguh baru kali ini Aku mendaki di musim hujan. Di Argopuro pula.

Hutan lumut

            Hari sudah semakin sore dan cahaya matahari yang redup tertutup mendung akan digantikan rembulan yang bisu tak mampu mengusir gelap. Kami baru sampai di Kali Kenik, sementara sebentar lagi langit akan menghitam. Janah tetap pada pendiriannya ingin melanjutkan perjalanan ke Cisentor, tak peduli gelap menghadang. “Setengah jam lagi juga sampai kok”, bujuknya. Kami yang sudah kelelahan dan takut tersesat dalam gelap serempak menolaknya. Ditambah lagi kondisi kaki teman Kami yang sudah agak pincang jalannya. Tak tega pula Aku melihatnya. Kami segera mendirikan tenda, memasak, makan, lalu tidur.

Bernarsis ria di kali kenik

            Kami berencana untuk keesokan harinya berangkat pagi-pagi tanpa memasak, dan akan memasak di Cisentor. Tapi rencana hanyalah rencana. Keesokan paginya benar saja Kami tidak memasak, Kami hanya makan snack dan roti seadanya. Tapi cuaca yang buruk, hujan yang tanpa henti, membuat Kami malas untuk keluar tenda dan melanjutkan perjalanan. Kami menunggu dan menunggu sampai hujan reda. Namun yang ditunggu tak kunjung reda. Akhirnya sekitar pukul 10 pagi Kami berangkat dari Kali Kenik menuju Cisentor. Seperti biasa, Janah dan Rozak memimpin di depan. Yang di belakang, Aku dengan malu-malu setiap lima menit sekali memegang perut sambil membayangkan makanan lezat. Huft, sungguh ini tak pantas ditiru, melanjutkan perjalanan tanpa mengisi energi dengan cukup.
            Gara-gara seharian nyasar di hari pertama sebelum sampai Danau Taman Hidup, rencana perjalanan Kami molor hampir satu hari. Bahkan beberapa dari Kami tidak memiliki semangat dan optimisme lagi untuk summit attact. “Sudahlah, tujuanmu mendaki untuk apa? puncak bukanlah tujuan satu-satunya. Kondisinya sekarang sudah jam berapa? Aku sudah tak menginginkan puncak lagi”. Salah satu dari Kami mengeluarkan pendapat yang di iyakan oleh beberapa yang lain. Aku sendiri, dari hati ingin tetap ke puncak dan memaki-maki diri sendiri karena tak tahu apakah suatu saat bisa ke tempat ini lagi untuk ke puncak. Aku sangat ingin tahu wajah Puncak Rengganis. Apakah semanis dalam lagu itu? “Manis manis manis engkaulah Puncak Rengganis”, begitulah liirik lagu berjudul “Edelweiss” yang sering dikumandangkan di komputer sekretariat. Sebuah lagu oleh-oleh dari Jember. Lagu ini tenar di kalangan pecinta alam di Jember. Anggota grub band yang menyanyikan lagu ini pun berasal dari alumni pecinta alam. Tamasya band.


Pondok Cisentor
            Sekitar pukul 1 siang Kami sampai di pondok Cisentor. Sebuah pondok satu-satunya telah ditempati para calon anggota Sispala yang sedang menjalani masa pendidikan. “Ayo, Siapa yang mau muncak, Aku mau muncak, yang muncak ayo muncak yang tidak nunggu disini, Kita makan cracker aja dulu, masaknya nanti saja setelah muncak”. Gelegar suara Janah penuh entah penuh amarah atau semangat. Meski pada awalnya sudah banyak yang patah semangat untuk summit attact, Akhirnya Kami semua menyerah juga. Kami tidak bisa membohongi diri, bahwa Kami ingin menikmati indahnya Puncak Rengganis. Sudah jauh-jauh sampai disini masak iya gak sampai puncak. Ditambah lagi kondisi yang memungkinkan karena hujan sudah reda.
            Kami semua akan melanjutkan perjalanan ke puncak. YEAAY!! Aku sangat senang, karena dari awal Aku sangat ingin melihat dengan mataku sendiri manisnya Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Walaupun sungguh sebenarnya Aku ingin makan nasi, tetapi karena dikejar waktu, perjalanan pulang pergi Cisentor-Puncak sekitar 5 jam, akhirnya Aku cukup menyantap cracker. Masak nasi plus lauk pauk membutuhkan waktu yang lumayan lama, bisa lebih dari satu jam. Kami tidak mau dalam keadaan masih dalam perjalanan setelah cahaya matahari terbenam. Satu jam adalah waktu yang cukup untuk melakukan perjalanan dari Cisentor menuju ke Rawa Embik. Rawa Embik adalah mata air tertinggi di pegunungan ini. Sesampainya di Rawa Embik, Kami berhenti sebentar untuk mengambil air. Sangat segar.

Narsis diantara kabut

Jalan menuju puncak

            Kami melanjutkan perjalanan lagi tapi beberapa jam kemudian hujan turun. Rintik hujan diiringi kabut dingin tak menghentikan langkah Kami. Kami hanya berhenti beberapa menit untuk memakai jas hujan. Tak lama kemudian hujan reda. Segala rasa lelah terhapuskan oleh indahnya hamparan Edelweiss dan kabut tipis. Subhanallah, apakah syurga lebih indah dari ini?. Edelweiss dan efek kabut tipisnya memberikan kesan Kami sedang berada di dunia lain. Seperti inikah taman bermain Dewi Rengganis?

Terbentang hamparan Edelweiss

            Kami melanjutkan perjalanan sambil berfoto ria hingga akhirnya Kami sampai di pertigaan. Pertigaan ini adalah pemisah tiga jalur, jalur Puncak Rengganis, jalur Puncak Argopuro, dan jalur turun ke Cisentor. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis. Belum sampai puncaknya, hujan kembali turun. Kami tetap melangkah membelah hujan dengan jas hujan Kami. Alhasil Kami hujan-hujanan di Puncak. Meskipun hujan dan kabut agak menghalangi pandangan, namun Kami sepakat, Puncak Rengganis benar-benar manis. Benar-benar indah. Apakah Dewi Rengganis juga manis? Kami tak peduli lagi, karena Kami tahu, angin pun tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Sebelum menaiki bebatuan di puncak rengganis

            Kami segera berfoto ria di puncak meskipun hujan membasahi baju yang Kami kenakan untuk berpose di depan kamera. Karena dingin dan kucuran air hujan yang semakin membuat pakaian Kami basah, akhirnya waktu 15 menit Kami cukupkan. Kami segera turun kembali menuju Cisentor. Kami tidak menyempatkan diri untuk mampir ke Puncak Argopuro karena takut kemalaman. Katanya untuk mencapai Puncak Argopuro harus melewati medan yang lebih curam. Akhirnya Kami hanya sempat melambaikan tangan untuk Puncak Argopuro. “Kami akan mampir kapan-kapan”. Janji Kami yang tak tahu akan Kami tepati atau tidak. Sebelum magrib Kami  telah sampai di Cisentor dan segera memasak serta mendirikan tenda. Sambil menggigil.

Puing kerajaan dewi rengganis


Berfoto di puncak rengganis

*Bersambung*

Mendaki Pegunungan Hyang (1) "Dimanakah Kau, Danau Taman Hidup?"


            Argopuro, salah satu gunung yang populer di kalangan pencinta alam maupun pendaki ini terletak di daerah perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Situbondo. Gunung ini memiliki 2 puncak, yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Sebuah lagu dari band indie asal Jember, Tamasya band, berjudul “Edelweiss”  yang sering berkumandang di sekretariat tercinta membuatku semakin ingin menjajal gunung tersebut. Meskipun pada mulanya ada sedikit rasa takut oleh cerita mistis beberapa teman yang pernah mendaki gunung tersebut, akhirnya pada 24 Desember 2011 Aku beranikan diri untuk berangkat menapaki jalur tracking terpanjang di Jawa tersebut.

            Kami 8 mahasiswa, tepatnya 4 mahasiswa dan 4 mahasiswi mengisi minggu tenang untuk mencari kedamaian hati bersama lembutnya kabut dan dinginnya udara pegunungan Hyang. Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, yaitu Bremi dan Baderan. Kami memilih berangkat dari Bremi dan pulang melewati Baderan. Untuk sampai ke Bremi, dari Surabaya Kami naik bus dan turun di terminal Probolinggo, kemudian naik angkot hingga Garasi Akas. Sesampainya di Akas, Kami menunggu hingga jam 6 pagi, bus dari Akas  menuju Bremi hanya ada pukul 6 pagi dan 11 siang. Sesampainya di Bremi, Kami mengurus perijinan di Polres setempat kemudian capcus menuju Taman Hidup.
            Kami membentuk formasi. Janah sebagai satu-satunya yang pernah menapaki jalur Argopuro sebelumnya dipilih sebagai penunjuk arah. Rozak berada pada barisan paling depan mengikuti jalur track pada GPS. Saking banyaknya percabangan dan jalur tikus bagi penebang liar, jalur dari Bremi menuju Taman Hidup ini agaknya membingungkan bagi yang pertama kali menapakinya. Nampaknya pengalaman dari satu orang dan alat bantu GPS yang sengaja Kami bawa tidak menjadi jaminan bahwa Kami tidak akan tersesat.
            Di suatu persimpangan jalan Kami agak bingung membuat keputusan. Ikut jalur lurus namun lumayan menanjak, atau belok kanan dengan kontur yang agak melipir. Akhirnya Kami memutuskan untuk mengikuti jalur ke kanan dengan pertimbangan bahwa kedua jalur tersebut pada akhirnya ada pada satu titik pertemuan. Dengan kata lain, lewat jalur lurus maupun kanan akan sama saja. Kami terus mengikuti jalur yang ada hingga akhirnya Kami menemui jalan buntu. “Oh man, ternyata ini jalannya para penebang pohon”. Banyak kayu bekas tebangan yang berceceran. Kami tersesat.

Bekas jalan perambah kayu

            Dengan perasaan yang masih tenang, Kami mengikuti jalur track pada GPS. Meskipun agak mbrusuk-mbrusuk untuk beberapa lama, akhirnya Kami menemukan jalan. Jalan yang agak lebar dengan beberapa persimpangan. Kami dihadapkan dengan masalah baru. Ada jalur ke atas dan ke bawah, lalu jalur yang mana yang akan membawa Kami ke Danau Taman Hidup? Kami mengambil keputusan dengan memilih jalur ke bawah. Setengah jam sudah Kami berjalan. Jalur yang lumayan terjal, namun mudah Kami lalui karena jalan yang menurun. Sampai di bawah rupanya indah sekali. Semak-semak asing yang jarang Kami lihat, di belakangnya ada pemandangan kabut yang putih dan menebal. Mungkinkah Taman Hidup ada disitu? Namun agak aneh ketika Kami mulai mendengar lantunan musik dangdut. Apakah ini jalan menuju pedesaan? Pertanyaan itu tak terjawabkan, karena teriakan Mbak Matus membuyarkan langkah Kami. Menariknya kembali ke atas dengan jantung berdegup kencang dan nafas ngos-ngosan. Ya, Kami memutar arah setelah menyadari arah Kami salah.
            Fyuh, ternyata jalan menuju kembali ke atas lebih menguras tenaga dan memakan banyak waktu. Ada persimpangan ke kanan dan Kami mengikuti jalan itu, sesuai arah pada GPS. Setelah berjalan dan berjalan selama beberapa waktu Kami kembali menemui jalan buntu. Kami semua menghentikan langkah dan beristirahat di semak-semak yang agak datar. Sementara Mbak Matus dan Rozak mendaki lebih ke atas untuk mencari jalan. Mbak Matus seperti menemukan Danau Taman Hidup, tapi rupanya setelah lebih diselidiki yang dilihatnya hanyalah kabut tebal nan putih. Kami semua ingin kembali lagi ke jalan semula, sebelum belok kanan dari jalan persimpangan. Akan tetapi Mbak Matus yakin akan jalan yang dipilihnya. Ia terus mengikuti jalur track pada GPS. Tentu saja Kami tak mungkin meninggalkannya sendiri. Akhirnya Kami mengikutinya juga.
            Jalur yang Kami lewati lebih menjadi. Sebuah turunan yang lumayan curam dengan semak-semak liar yang tak bersahabat. Terpaksa Kami menuruninya walau harus pelorotan. Tempat ini seperti menuju ke jurang atau sejenisnya. Jujur, Aku agak takut. Takut tempat ini semakin menyesatkan, dan Kami semakin tak bisa keluar. Sore hari sudah menjumpai masa akhirnya. Sebentar lagi waktu magrib segera tiba, dan gelap tentunya akan menyapa. Kami memutuskan kembali ke atas. Kembali ke persimpangan semula membutuhkan waktu yang cukup lama, ditambah lagi suasana gelap akan menyusahkan Kami mencari jalur yang benar. Akhirnya Kami menemukan tempat yang lumayan datar. Meskipun tempat ini agak sempit, cukuplah untuk membuat tenda seadanya.
            Kami berangkat dari Polsek sekitar pukul 10 pagi, harusnya Kami sampai di Danau Taman Hidup sekitar pukul 3 sore. Tapi ini sudah beranjak magrib dan Kami masih tersesat di hutan belantara. Rencana untuk mendirikan camp di Danau Taman Hidup menjadi gagal. Aku tak peduli. Aku tak peduli lagi tentang Taman Hidup, tempat yang Aku impi-impikan itu. Aku lelah. Seumur-umur mendaki, baru kali ini Aku tersesat. Apalagi ini di pegunungan Argopuro, banyak berita orang hilang disini. Jujur, Aku sendiri sudah hampir menyerah, sedetik kemudian Aku menyesali keputusanku berangkat ke tempat ini, sedetik kemudian Aku ingin segera sampai ke kota tempat tinggalku. Perasaan penyesalan maupun ketakutan ini tentu saja kusimpan sendiri.
            Aku tak sendiri, Kami berdelapan, dan dari 8 kepala itu tentu cukup untuk berpikir mengenai langkah-langkah yang akan Kami ambil selanjutnya. Kadang Aku berpikir kekhawatiranku ini sangatlah berlebihan ketika melihat ternyata Mereka terlihat sukses membuang jauh rasa takut dan segera mencari solusi dari ini semua. Mereka sama sekali tidak ingin kembali pulang seperti yang dipikiranku. Mereka terlihat lebih kuat. Aku mencoba menguatkan diri, seperti Mereka. Taman Hidup, Cisentor, Puncak, Cikasur, dan Baderan tetap menjadi tujuan Kami.
            Para cowok tidur di tenda yang letaknya agak di bawah dataran tempat tenda para cewek berdiri. Kami berniat untuk rapat koordinasi malam itu, tapi ternyata para cowok sudah pada ngorok tanpa sempat memakan sepotong roti pun. Sungguh Aku bisa merasakan lelah yang dirasakan Mereka. Akhirnya sebelum tidur, Kami melempar sebungkus roti ke tenda cowok kemudian membuka GPS untuk melihat jalur Taman Hidup. Astagaaa! Ternyata jalur Taman Hidup yang selama ini Kami ikuti salah. Orang terdahulu yang menggunakan GPS ini salah mengeplot titik koordinat Danau Taman Hidup. Pantas saja Kami tersesat. Aaaahhh, Aku lega, paling tidak Aku tahu alasan Kami tersesat, rupanya karena kesalahan pengeplotan titik koordinat Taman Hidup pada GPS. Bukan karena kerusakan sistem pada GPS yang Kami bawa, ketidak terampilan Kami dalam menggunakan GPS, atau penyebab-penyabab mistis yang mungkin saja terjadi di Pegunungan angker ini.
            Keesokannya Kami bangun sangat pagi, tak pernah Aku bangun sepagi ini saat pendakian. Kami sempat mendengar teriakan manusia, beneran manusia. Sepertinya suara itu berasal dari Danau Taman Hidup. Kami membalas suara itu dengan berteriak kencang, berharap Mereka juga mendengar Kita. Tapi sia-sia. Kami segera melakukan pembagian tugas setelah sarapan dengan snack dan roti secukupnya. Janah dan Rozak berangkat terlebih dahulu untuk mencari jalur. Aku dan yang lain beres-beres tenda dan packing. Setelah selesai packing, sekitar pukul 7 pagi, Kami segera mengikuti jalur yang dilewati Janah dan Rozak. Mereka daritadi sudah berteriak-teriak memberi isyarat pada Kami untuk bergegas mengikutinya. Mereka memasang streamline berupa pita warna biru pada beberapa pohon agar Kami tidak kehilangan jejak.
            Akhirnyaa Kami menemukan Danau Taman Hidup sekitar pkul 8.30 pagi. Benar dugaan Kami, Taman Hidup tak jauh dari lokasi Kami bermalam. Sayang sekali Kami tidak bisa bermalam di danau ini. Tapi Aku sudah cukup lega karena telah keluar dari zona sesat. Kami bergegas menuju jembatan yang kayunya sudah lapuk dan berujungkan gubuk tua di tengah danau. Di gubuk tersebut telah ramai anak-anak kecil usia SMP sedang memancing. Mereka penduduk lokal dan telah terbiasa bermain disini.


Menemukan Danau Taman Hidup

            Setelah puas berfoto, Kami bergotong royong memasak nasi, soto, dan telur dadar. Soto berkuah kuning yang hanya terasa pahitnya kunir karena ada bumbu yang kurang. Meskipun rasanya agak aneh, Kami tetap lahap memakannya. Mungkin ini karena perut yang keroncongan setelah energi terkuras habis akibat tersesat seharian. Sekitar pukul sebelas siang, Kami melanjutkan perjalanan. Tujuan Kami selanjutnya adalah Cisentor. Sebenarnya Aku agak takut. Takut kemungkinan nyasar kembali. Tapi karena Mereka yakin, Akhirnya Aku meyakinkan diri. Cukup kemarin saja Kami tersesat di pegunungan hyang ini. Tunggu Kami di Puncakmu Dewi Rengganis!


Bersambung*

Monday, January 3, 2011

Menikmati Kembang Api Kota dari Puncak Bayangan, Pananggungan

                 

                  Pananggungan, Gunung ini terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sekitar 25 km dari Surabaya dengan ketinggian 1.653 mdpl. Untuk menempuhnya tidak butuh waktu banyak, sehari atau dua hari saja cukup. Itu yang membuat kami memilih Pegunungan tersebut untuk menghabiskan malam Tahun Baru 2011. Melihat kembang api kota dari puncak gunung tentu memiliki sensasi tersendiri karena aku belum pernah mengalaminya.
                Kami bersepuluh orang berangkat dari Surabaya sore hari. Malam hari sesampainya di Mojokerto kami langsung parkir motor dan tancap gas menyusuri hutan, mendaki setapak Pananggungan. Tidak satupun diantara kami pernah kesini sebelumnya, maka kami menyusuri arah setapak jalan hanya berdasar logika dan intuisi. Ini yang menyebabkan sedikit masalah, kami sempat tersesat selama kurang lebih setengah jam. Jalan setapak di Pananggungan cukup menanjak. Jika Kalian ingin melakukan pendakian di Gunung ini, harus menyiapkan air secukupnya karena di gunung ini tidak ada kali atau sungai.
                Kami terus melangkah mengejar waktu agar tidak kehilangan moment kembang api yang tepat menyala pukul 00.00 WIB. Namun, harapan kami sempat hilang karena kabut tebal menghalangi pandangan. Kerlap-kerlip lampu kota yang semula terlihat indah sama sekali tak terlihat lagi. Kami lanjutkan saja mendaki agar cepat sampai ke tempat camping untuk beristirahat dan membuat makanan hangat. Tepat tengah malam kami sampai di Puncak bayangan Pananggungan, disini sudah ramai para pendaki mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk bermalam disini. Angin disini sangat kencang, udaranya pun tak kalah dingin. Kami memasang tenda dengan sekuat tenaga karena angin membuat tenda kami berkibar-kibar.
                Tiba-tiba saja terdengar seperti suara petasan dan ledakan kembang api yang menyalakan warna merahnya. Kami lumayan terhibur, meskipun kembang api di kota tak terlihat karena kabut, ternyata para pendaki lain membawa kembang api dan menyalakannya di Puncak bayangan. Kembang apinya tak seindah kembang api di kota, namun keramaian dan canda tawa para pendaki di Puncak bayangan itu cukuplah menghibur kami.
                Sebenarnya Aku agak kecewa karena ternyata suasana puncak bayangan itu tak seperti yang kubayangkan. Sebelumnya tujuanku ikut mendaki ke Puncak itu adalah untuk mencari kedamaian, hanya ada kami dan alam. Namun ternyata suasana Puncak sangat ramai, pertama kami memasuki daerah penuh tenda itu terdengar suara lagu dangdut terlantun lewat radio. Tapi ternyata mereka seru-seru, jadi tak apalah bagiku menikmati alam beramai-ramai juga lumayan menyenangkan.
                Saat asik memasang tenda diiringi suara kembang api tiba-tiba saja kabut menghilang. Subhanallah, akhirnya aku benar-benar melihat kemilau kembang api menyatu dengan cahaya lampu kota. Kecil tapi luas dan begitu indah. Tidak rugi perjalanan yang kami lalui tadi. Sayang, kami tidak membawa kamera yang bagus untuk menangkap pemandangan itu.
                Keasyikan menikmati pemandangan kembang api, aku ditinggalkan memegangi tenda yang sedang berkibar-kibar sendirian. Kami terus memandang ke arah kota. Terkadang kabut datang lagi menghalangi pandangan, kemudian pergi lagi, berpindah-pindah tempat, begitu seterusnya. Angin masih saja bertiup kencang membuat kami kedinginan. Setelah kembang api mulai tak menampakkan kemilaunya lagi kami mulai benar-benar serius memasang tenda dan membuat makanan hangat.
                DOORR!! Tiba-tiba kompor satu-satunya yang kami bawa meletus padahal kami belum selesai memasak. Kami hanya selesai memasak mie. Byuuur!!! Tiba-tiba hujan pun turun dengan kencang. Kami langsung membereskan perlengkapan yang tercecer dan masuk ke dalam tenda, menghangatkan badan dan makan seadanya. Sungguh sial perjalanan kali ini, gara-gara kompor meletus bahan bakar kami habis. Makan apa kami besok?
                Hujan reda, sekitar pukul 03.00 WIB senior kami bersama calon suaminya datang dan membawa kue tart. Sungguh kami senang luar biasa karena kami sudah benar-benar kelaparan, hehe. Sosweet sekali seniorku itu. Dia perempuan dan ini pertama kalinya ia mengajak calon suaminya itu untuk naik gunung, merayakan ulang tahunnya. Setelah api ditiup, kami mengucapkan selamat dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk calon suami seniorku itu. Kami berkenalan kemudian makan bersama dan berfoto ria.
                Pukul 05.00 WIB Seniorku dan calon suaminya turun duluan meninggalkan kami. Kami sendiri masih enak tidur di tenda. Aku mendengar lantunan suara Adzan Subuh dan sekelompok pendaki sedang sholat berjama’ah. Suaranya sangat merdu membuat hatiku luluh. Aku sama sekali tidak menyangka masih ada orang menyempatkan sholat berjama’ah dalam kondisi sedingin ini. Hatiku sangat tentram mendengarnya.
                Setelah mata kami sudah benar-benar terbuka, kami berniat untuk memasak. Bahan bakar sudah habis, akhirnya kami memberanikan diri untuk meminta bahan bakar pendaki lain. Kami memasak bareng pendaki lain tersebut. Untunglah, kami sangat berterimakasih kepada mereka. Tanpa bantuan mereka, apa jadinya nasib kami. Kelaparan tentunya. Mereka pendaki dari Mojosari, terdiri empat orang. Sudah dua hari mereka bermalam disini menantikan badai berhenti. Tujuan mereka ke Puncak Sejati Pananggungan namun badai tak pernah berhenti sehingga perjalanan tak bisa dilanjutkan. Aku pun sedikit kecewa karena tak bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak sejati, tapi ya sudahlah lain kali kesana lagi juga bisa. Lagi pula kami telah terpuaskan dengan pemandangan kembang api tadi malam. Kami semua pendaki, hari ini memutuskan untuk turun dan tak ada yang muncak.
                Memasak belum selesai angin kencang dan hujan lebat datang lagi. Kami memasak di bawah tenda kemudian makan beramai-ramai. Setelah itu kami membereskan perlengkapan dan segera packing. Kami memakai jas hujan untuk melindungi diri dari basahnya hujan yang deras, namun dinginnya tetap menembus tulang. Aku berjingkrak-jingkrak berusaha menghilangkan dingin. Akhirnya perjalanan kami akhiri. Badai itu, meskipun menakutkan, namun menambah sensasi dalam pendakian ini. Ini pertama kalinya Aku merasakan badai ketika di Gunung.