Showing posts with label ocehan. Show all posts
Showing posts with label ocehan. Show all posts

Monday, February 10, 2014

Tentang Hujan

Lihatlah hujan itu...
Bukankah kehadirannya begitu mereka rindukan?

Namun saat ia datang, banyak dari mereka malah mengeluhkan. Mereka dahaga saat tak ada hujan, tapi malah menghujat saat hujan datang. Mereka takut basah, takut dingin, dan takut hujan menciptakan air bah. Mereka lupa sebelum hujan datang mereka juga takut. Takut kering, takut dahaga, takut suhu tinggi, bahkan takut lapar. Lalu hujan datang, menghapus ketakutan itu. Menciptakan ketakutan baru. Mereka selalu ketakutan hingga lupa cara untuk bahagia.

Siapakah hujan hingga begitu dirindukan namun juga begitu mudah dilupakan bahkan dielukan?

Hujan, ialah suatu bentuk yang jika diibaratkan hati, ia begitu tulus. Tak peduli diacuhkan, tak peduli dielukan, tak peduli jika mereka yang merindukan malah menghindari sentuhannya. Ia tetap datang disaat waktunya memang untuk datang. Diam-diam kehadirannya mengguyurkan kesejukan, menghapus dahaga. Diam-diam kehadirannya menciptakan kehidupan, menumbuhkan benih-benih kemakmuran. Menjadi salah satu alasan untuk berbahagia.

Siapa mereka hingga begitu merindukan hujan namun juga begitu mengeluhkan hujan?

Mereka mungkin segelintir yang melupakan jawaban dari pertanyaan.

Siapa yang menciptakan hujan? Siapa yang menciptakan air bah? Siapa yang menciptakan dingin? Siapa yang menciptakan kering? Dan siapa yang menciptakan mereka?

Siapa yang menyebabkan musim tak menentu (datangnya hujan)? Siapa yang menyebabkan datangnya air bah? Siapa yang menyebabkan dan membiarkan munculnya rasa takut?

Andaikan mereka benar-benar paham. Tak seharusnya ada ketakutan pada yang dirindukan, keluhan pada yang dinantikan, dan hujatan pada yang menghapus duka dan memberi kesejukan.

Mereka bukan yang memiliki hak untuk mengatur kapan hujan boleh datang dan kapan hujan tidak boleh datang. Bahkan hujan pun tak punya hak untuk itu.

Andai mereka paham. Merekalah yang seharusnya menyiapkan diri untuk menyambut pada yang dirindukan. Agar kelak saat yang dirindukan dan dinantikan itu benar-benar datang, mereka dapat memperlakukannya dengan baik. Melepas kerinduan dengan riang. Menikmati kesejukannya tanpa rasa takut.

Andai mereka paham. Bukan keluhan lah yang seharusnya mereka luapkan. Namun rasa syukur dan penerimaan. Seperti mereka mau menerima kesejukannya, mereka juga harus mampu menerima rasa dinginnya. Seperti mereka mau menerima benih-benih kemakmurannya, mereka juga harus mampu menerima air bah yang bisa saja ditimbulkannya.

Lagi pula, andai mereka menyiapkan diri dengan baik. Resiko yang ditimbulkan tak akan sebesar seperti ketika belum siap. Andai mereka menyiapkan diri dengan baik, hatinya akan lebih kuat untuk menghadapi dan mengatasi segala resiko yang ditibulkan.

Bukan hujan yang harus mengimbangi mereka. Merekalah yang harus mengimbangi dan beradaptasi untuk hujan, yang dirindukan.

Aku merindukan hujan seperti aku merindukan matahari.

Jika mereka dan hujan dapat menjadi suatu ibarat. Bisakah aku ibarat mereka dan kamu ibarat hujan?

Aku ingin menyiapkan diri untuk menyambut apa yang aku rindukan. Hujan, matahari, dan kamu.


(Surabaya, 2014)

Monday, January 20, 2014

Manusia dan Perjalanan

Semuanya sudah cukup.

Semua perjalanan saya selama ini sudah cukup membuka mata saya. Bahwasanya manusia dan alam hidup berdampingan, saling membutuhkan. Bahwasanya manusia dan manusia hidup berdampingan, saling membutuhkan. Selayaknya kita saling menjaga, bukan saling mengancam... 

Untuk apa aku terus melangkah, melanjutkan perjalanan demi perjalanan jikalau langkahku hanya untuk menyenangkan diri sendiri, hanya untuk memuaskan rasa penasaran pada hal yang katanya baru. Bukankah lebih baik aku tetap tinggal namun memberi manfaat pada yang aku tinggali?

Kadang aku iri dengan ibu-ibu di desa yang tak pernah letih memperbaiki generasi lewat pengabdiannya melalui pendidikan maupun pemberdayaan masyarakat di desanya, atau seorang ibu biasa yang dengan tulus dan tanpa mengeluh membesarkan anak-anaknya lewat kasih sayang juga ilmu agama. Atau aku ingin menebarkan manfaat di muka bumi lewat perjalanan seperti orang-orang terdahulu? Seperti para ulama yang berdakwah lewat perdagangan, atau para ilmuwan yang menghasilkan penemuan barunya lewat berbagai penjelajahan. Ah, terlalu berlebihan, aku hanya gadis biasa. Gadis yang menyukai perjalanan namun tak ingin melupakan kodrat sebagai perempuan.

Ngomong soal manfaat, manfaat apa yang bisa aku berikan baik di tanah yang sedang kuinjak ini maupun di bumi seberang yang ingin aku kunjungi? Aku yang hanya manusia biasa ini hanya memiliki sedikit ilmu dan nyaris tak memiliki keahlian. Lalu manfaat apa? Sudah waktunya manusia biasa ini memperbaiki diri, membekali diri dengan keahlian agar kelak tak hanya menjadi beban.

Cukup sudah. Musafir ini ingin menghentikan perjalanannya ketika ia menyadari satu hal. Pada akhirnya tempat yang paling ingin ia kunjungi adalah tempat yang begitu indah. Tempat dimana dibawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalir...

Namun bukan berarti musafir ini ingin benar-benar berhenti dari berjalannya. Jikalau suatu saat kehadirannya dibutuhkan di tempat lain, ia tak akan segan untuk melangkahkan kakinya sejauh apapun itu. Tujuannya hanya satu, menjadi sebaik-baiknya manusia.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan yang baik perbuatannya....

Friday, December 6, 2013

Poligami, Yes or No?

Saya punya teman sekamar, anaknya kepolisian banget, eh salah ketik, maksudnya kepo banget. Kepolisian sama kepo emang beda tipis. Kalo kepolisian suka banyak nanya kepada para terdakwa dan saksi mata, kalo si kepo dikit-dikit nanya sama semua orang terutama teman sekamarnya. “Mbak udah makan?”, “tadi makan apa?”, “liburan ngapain aja?”, etc sampe-sampe saya gak bisa bedain dia ini emang termasuk golongan orang-orang yang selalu ingin tau alias kepo atau memang orang yang sangat perhatian dengan teman sekamarnya. Oke saya bercanda. Singkat cerita, tadi malam entah darimana asal pembicaraan kita, tiba-tiba teman saya itu bertanya dengan gaya keponya. “Mbak sampean mau kalo nanti dipoligami?”. Hadeeeehhh pertanyaan macam apa ini? Nikah aja belum sudah ditanya beginian –”.

Karena saya tergolong less memory yang susah untuk mengingat sesuatu dan susah berpikir cepat jadi saya jawab sekenanya aja. “Tergantung bagaimana suamiku nanti” jawabku singkat. Eh dasar kepo masih saja ingin tahu “Berarti nanti sampean ada kemungkinan dipoligami dong?” cercahnya. “Tau ah males mikir” dan begitulah akhirnya pengakuan konyolku. Btw anyway saya pikir lagi daripada menanyakan ini padaku apa tidak lebih baik menanyakan pada dirinya sendiri? Karena saya tidak tergolong manusia kepo maka saya tidak nanya balik. Saya rasa hampir semua perempuan akan memiliki pemikiran yang sama soal ini. Apa dia pikir saya ini perempuan yang berbeda? Hmmm, kalau memang berbeda, “berbeda” dengan “tidak normal” itu sejenis? O ya satu lagi, kalau kepo itu artinya selalu ingin tahu berarti anak kecil itu juga kepo ya? *abaikan ini.

Saya sebenarnya telah melupakan pertanyaan temanku itu. Tapi tiba-tiba pagi tadi saya teringat lagi dan mulai bertanya pada diri sendiri. Saya jadi ingat jawaban Ustadz Maulana dalam acaranya di stasiun televisi ketika ada ibu-ibu bertanya. Saya agak lupa detail jawaban beliau yang disertai aksi banyolnya. Intinya Ustadz Maulana tidak mendukung praktek poligami pada zaman ini. Karena penasaran saya browsing-browsing sambil mengingat-ingat. Ya si Less memory sedang berusaha mengingat. Saya perhatikan memang banyak kaum lelaki yang membenarkan diri untuk berpoligami atas dasar bahwa poligami adalah sunnah rasul. Lalu apa laki-laki itu yakin bisa menjalankan sunnah rasul itu dengan benar? Maksud saya apa para laki-laki itu yakin hatinya dan perbuatannya sudah semulia rasul yang bahkan telah dijamin masuk surga? Hmmm atau bolehkah saya malah bertanya apakah poligami benar-benar sunnah rasul?

Saya juga punya teman dari jenis kelamin lali-laki (yang sepertinya dia terobsesi dengan poligami) hahahhaa, hussss dilarang berprasangka buruk. Oke bercanda. Jadi gini ceritanya, dia memang orang yang suka bicara, sepertinya terinspirasi oleh para motivator, hihihi. Dia bilang kalo seorang lelaki berpoligami atau menikah lagi itu karena istrinya kurang bisa menjaganya atau tidak menjadi istri yang baik. Belakangan saya berpikir, kenapa hanya pihak perempuan saja yang disalahkan? Bisa jadi si istri tidak menjadi istri atau ibu yang baik dikarenakan si suami sendiri yang kurang bisa memimpin. Maafkanlah aku dengan kebodohanku yang tak bisa membimbing dirimu. Lalala *malah nyanyi.

Duh sepertinya mulai ngelantur kemana-mana. Oke kembali ke laptop eh ke topik utama, tapi sebelumnya ingatlah jangan saling menyalahkan wahai anak muda, alangkah baiknya bila saling mengingatkan daripada menyalahkan. Ingat hukum di Indonesia menganut asas praduga tak bersalah, jadi kumpulkan bukti-bukti yang valid terlebih dahulu sebelum mencebloskan ke penjara *gagal nyambung –”.

Kembali soal poligami, mungkin semua umat muslim sudah mengetahui kisah nabi Muhammad dan istri-istrinya. Semasa muda Nabi setia dengan istrinya Siti Khadijah dan tidak pernah mendua padahal saat itu poligami begitu mentradisi dan menjadi kebanggaan di Arab. Baru setelah Siti Khadijah meninggal dan Nabi telah berumur sekitar 55 tahun beliau memutusukan untuk menikah lagi. Ada yang bilang istri Nabi Muhammad ada 9 ada juga yang bilang 11. Diantara istri nabi hanya satu yang masih gadis yaitu Aisyah. Sedangkan istri lainnya adalah janda baik merdeka maupun budak yang dimerdekakan. Alasan nabi menikah tidak lain adalah karena tujuan sosial dan politik.

Adapun QS An-Nisa, 4: 2-3 adalah untuk membatasi poligami dan bukan malah untuk menganjurkan poligami. Praktek poligami telah ada jauh sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam. Seperti yang dikutip oleh Baiddan dalam Tafsir bi Al-Ra’yi yang mengatakan bahwa poligami itu sudah ada dikalangan bangsa-bangsa yang hidup pada zaman purba. Pada bangsa Yunani, Cina, India, Babilonia, Asyria, Mesir dan lain-lain. Poligami dikalangan mereka tak terbatas hingga mencapai 130 istri bagi seorang suami, bahkan seorang raja cina ada yang mempunyai istri sebanyak 30.000 orang. Bahkan di Athena, negeri yang dianggap paling beradab dan tinggi kebudayaannya diantara semua zaman purbakala, harga wanita tidak lebih berharga dari hewan yang biasa dijual dipasar. Mereka diperjualbelikan kepada orang lain bahkan diwariskan. Martabat wanita pada saat itu sangat rendah (Afifi Hasbanulloh, Kompasiana). Jadi diturunkannya QS An-Nisa, 4: 2-3 adalah untuk memberi batasan jumlah istri yang boleh dinikahi ditambah lagi harus berlaku adil. Yang dianjurkan pun bukanlah menikah lagi dengan gadis belia atau pun janda kembang, melainkan dengan wanita lemah dan punya tanggungan.

Ada juga laki-laki yang berkelit bahwa poligami dianjurkan karena jumlah wanita di dunia ini jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Darimana tahu hal itu? Sementara di kampusku jauh lebih banyak laki-lakinya, secara kampus teknik hehehe. Tapi ada juga yang membantah fakta itu (bahwa jumlah wanita lebih banyak). Berdasarkan sensus DKI dan Nasional tahun 2000, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. Sedangkan data statistik jumlah penduduk Indonesia dari sensus BPS tahun 2010 menyebutkan secara total di Indonesia perbandingan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada wanita, yaitu sebesar 50.17% sedangkan wanita 49.83%. Bahkan berdasarkan data statistik penduduk dunia tahun 2012 (midyear world population 2012) jumlah laki-laki adalah sebesar 3.532.503.174 orang atau sebesar 50.3%, sedangkan jumlah penduduk dunia wanita sebesar 3.485.040.790 atau sebesar 49.7% dari total penduduk 7.017.543.964. Dari data statistika tersebut diketahui bahwa jumlah laki-laki sedikit lebih banyak daripada jumlah wanita. Jadi jika masih ada laki-laki yang mau berpoligami demi menyelamatkan wanita agar semua wanita laku karena jumlah wanita lebih banyak, maka tertawalah hahahaha.

Saya rasa yang harus kita perhatikan bukanlah soal jumlah penduduk wanita atau laki-laki mengingat jumlah itu bisa berubah suatu saat dan juga mengingat salah satu tanda kiamat adalah banyaknya jumlah wanita daripada laki-laki. Yang harus kita perhatikan dan pahami baik-baik adalah alasan diturunkannya QS An-Nisa, 4: 2-3 beserta kandungan didalamnya serta maksud dan tujuan nabi Muhammad menikah dengan istrinya. Jadi bagi yang masih punya niat poligami, pikirkanlah terlebih dahulu apa maksud dan tujuan anda? Jika masih mengatasnamakan sunnah maka sanggupkah anda menikahi janda tua yang tidak punya apa-apa selain anak yatim atau budak yang baru dimerdekakan hanya untuk melindungi dan memuliakan martabat mereka? Ditambah satu pertanyaan lagi, sanggupkah anda berbuat adil kepada istri anda? Adil dalam hal memperlakukan, mencintai maupun menafkahi?

Jadi berdasarkan uraian saya di atas, kesimpulan saya adalah… jeng … jeng … jeng …. saya (dan kebanyakan wanita lain) tidak sedikitpun terbersit pikiran untuk dipoligami, dan pada saat suami tiba-tiba datang dan membuka pembicaraan bahwasanya dia akan menikah lagi alias menduakan kita para wanita, maka saya yakin sesabar dan sebaik apapun wanita itu, hatinya pasti akan merasa sangat sangaaaatttt sakit dan mungkin hubungan suami istri yang tadinya hangat akan berubah suhunya menjadi lebih panas atau lebih dingin. Yaaaa kecuali jika wanita itu adalah Aisyah dan laki-laki itu adalah Muhammad. Atau kecuali jika sang laki-laki memang benar-benar seorang hero yang memiliki hati emas sehingga ia bersedia menikahi janda lemah yang punya tanggungan dan sedang menjalani hidup di daerah konflik seperti Papua, Aceh, Ambon atau semacamnya (mengingat dulu zamannya Nabi Muhammad adalah zaman perang). Sementara sekarang ini sudah jarang bahkan tidak ada peperangan, tidak ada lagi wanita yang perlu dilindungi dari musuh-musuh perang atau budak yang perlu dilindungi. Apalagi sekarang sudah marak emansipasi, sering kita dengar wonder women, sudah banyak Lembaga Sosial yang membela hak-hak wanita, dll. Justru para istri lah yang memerlukan perlindungan kalian wahai para lelaki, bukan sakit hati karena pernyataan ingin berpoligami (dengan gadis yang lebih muda, cantik, dsb). Jadi bagaimana pendapat anda?

Tulisan ini adalah pendapat penulis berdasarkan pengamatan dan bacaan yang dibaca penulis. Penulis tidak mewajibkan semua pembaca untuk mempercayai penulis karena takutnya nanti dianggap musyrik. Percayalah hanya kepada Tuhan karena hanya Tuhan yang Maha Tahu dan hanya Tuhan yang Maha Benar. Ma’af tulisan ini tidak lucu karena saya tidak bermaksud melawak. Mohon ma’af jika ada kata yang salah atau menyinggung secara sengaja ataupun tidak sengaja. Kritik dan saran yang membangun diharapkan di kolom komentar demi terciptanya kemanusiaan yang adil dan beradab eh maksud saya tulisan yang lebih baik ke depannya. Akhir kata, semoga menginspirasi.

Selamat melanjutkan aktivitas malam sabtu #sambil memikirkan kembali niat anda untuk berpoligami #eh . . . .  :) :)

Wednesday, May 23, 2012

Wanita dalam Lini Masa

Saya adalah wanita, Ibu saya juga seorang wanita, disekitar saya tentu juga banyak sekali kaum wanita. Banyak pria memuja wanita karena kecantikannya, namun tak sedikit pula pria yang sakit hati karena ulah wanita. Mungkin itu sebab ada lagu berlirik “wanita racun dunia”. Saya tidak ingin membahas ini, toh tak sedikit pula wanita yang sakit hati karena pria. Ini soal hati, saya tidak ingin ikut campur. Kalau soal negara, saya harus ikut campur, karena saya adalah bagian dari negara yang memiliki andil dalam maju tidaknya negara saya, Indonesia tercinta.

Suatu pepatah menyebutkan bahwa wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak maka negara akan rusak pula. Saya sempat bertanya-tanya apa arti pepatah tersebut. Apakah benar wanita memegang peranan penting atas maju tidaknya suatu negara hingga disebut-sebut sebagai tiang negara?. Bahkan Ir Soekarno dalam Suara Indonesia Muda, 1928, mengatakan, “Ibu-ibu besar atau kecil, ibu-ibu sadar atau lalai, itulah buat sebagian berisi djawabnya soal Indonesia akan luhur atau Indonesia akan hancur.” Ini berarti wanita memang spesial, karena setiap wanita akan menjadi ibu yang melahirkan dan membesarkan anak bangsa.

Seperti era yang berubah, wanita pun banyak mengalami perubahan dalam setiap lini masanya. Jika dulu wanita hanya identik dengan dapur, maka sejak era R.A Kartini wanita mulai dikenalkan dengan dunia pendidikan. Berbagai profesi menjanjikan juga mulai marak untuk kaum wanita ini, mulai dari dokter, polwan, guru hingga pramugari. Prestasi membanggakan mulai ditorehkan oleh atlet-atlet wanita, sudah tidak mengherankan pula jika seorang wanita terpilih menjadi pemimpin. Namun dibalik fakta-fakta menggembirakan itu juga terdapat fakta menyedihkan. Banyak wanita yang memiliki pekerjaan tak layak karena faktor ekonomi yang mendesak. Tukang sampah, tukang pijit, sopir, bahkan pelacur pun dilakoninya. Diantara ribuan pekerjaan yang diusung seorang wanita, sebenarnya hanya satu lah yang menjadi kewajibannya, menjadi pendidik bagi anak-anaknya.

Ironisnya, saya melihat kenyataan yang cukup miris dikalangan wanita Indonesia terutama di jaman yang katanya modern. Di jaman yang mulai berbau kebaratan dan beraroma teknologi canggih. Ibu-ibu yang harusnya merawat dan mendidik anaknya mulai disibukkan dengan hal lain sehingga kewajiban utamanya sebagai seorang ibu perlahan terlalaikan. Ibu-ibu dari kalangan menengah rela untuk melewatkan jam yang seharusnya digunakan untuk menemani anak belajar demi menonton tayangan sinetron rendah mutu di depan TV. Bahkan tak jarang pula sang anak yang menemani ibunya untuk menonton sinetron. Hal ini tentu berpengaruh negatif pada pola pikir sang anak. Ibu-ibu dari kalangan elit terlalu berlebihan dalam memuja karir hingga tanpa ia sadari ia pun lupa pada tugas utamanya sebagai seorang ibu. Pembantu atau yang sering disebut baby sister yang ia percaya pun belum tentu bisa mendidik anak sesuai dengan harapan sang ibu. Rasa kesepian dan kurangnya kasih sayang pada sang anak ini tentu berpengaruh pada mentalnya. Ditambah penjagaan dan pengawasan yang kurang pada sang anak bisa memungkinkan sang anak terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.

Faktanya, saat ini banyak sekali kriminalitas dan krisis moralitas dilakukan oleh masyarakat kita. Perlu tindakan tegas dari pemerintah maupun pendidik terutama orang tua dalam hal ini “ibu”. Meskipun kini telah ada program 9 tahun wajib belajar di sekolah, bukan berarti peran ibu sebagai pendidik yang utama harus pudar. Meskipun kini telah marak digembor-gemborkan emansipasi wanita yang menuntut kesetaraan gender, bukan berarti peran wanita sebagai ibu boleh ditinggalkan. Bahkan surat R.A Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 menyatakan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” Jadi untuk kaum wanita, carilah ilmu hingga ke negeri Cina untuk kemudian pulanglah ke negeri dimana anakmu membutuhkan asuhan dan kasih sayangmu.

Akhir kata, saya akan mengacungkan kedua jempol saya untuk para wanita hebat, wanita-wanita yang mampu meraih impiannya tanpa menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita, wanita-wanita yang sanggup menjalani karirnya tanpa meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu. Namun bukan berarti seorang wanita yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja adalah biasa. Setiap ibu adalah luar biasa. Setiap ibu telah banyak melakukan pengorbanan demi anaknya, selama masih dikandungan hingga menjadi seorang anak yang sukses. Maka baru setelah menyadari ini saya begitu menghormati para ibu rumah tangga yang berhasil mengantar anak-anaknya menjadi generasi hebat untuk keluhuran bangsanya. Mungkin itulah mengapa surga ada di telapak kaki ibu. Dan suatu saat saya akan menjadi ibu. Seorang ibu yang memiliki peran utama yang sama di setiap lini masanya. Melahirkan, menjaga, merawat, dan mendidik anak-anaknya.

Thursday, March 22, 2012

Manakala Seseorang Tergila-gila oleh Harta, Tahta, dan Cinta

Kalian pasti sering mendengar untaian kalimat-kaliamat pemberi semangat ini :
Sukses adalah mana kala seseorang meraih empat TA, diatas rata-rata orang lain dengan cara yang sehat. Apa itu empat TA?
Ta yg pertama HARTA
Ta yg kedua TAHTA
Ta yg ketiga CINTA
Ta yg keempat KATA

Aku tidak sepenuhnya sepakat dengan kaliamat-kaliamat itu. Tentu setiap orang berhak mengemukakan  pendapat dan pola pikirnya sendiri.

Manakala Harta dan Tahta bukanlah tujuan hidupku, maka Aku tak perlu meraihnya untuk bisa dikatakan Sukses..

Ketika Aku telah berhasil mencapai tujuanku, maka dengan sendirinya Aku akan merasa bahwa Harta, Tahta, Cinta, dan Kata yang kumiliki saat ini adalah lebih dari cukup…

Kenyataannya manusia sekarang selalu merasa kurang, kurang dan kurang…
Padahal ketika Kita telah berusaha, kemudian berdo’a, menerima apapun hasilnya dan menyerahkan semua kepada Tuhan adalah hal yang paling menenangkan hati

Dan bagaimana menurut Kalian?