Friday, December 30, 2011

Mendaki Pegunungan Hyang (2) "Argopuro yang Mistis, Benarkah Dewi Rengganis Manis?"


            Kami kembali melanjutkan perjalanan di pegunungan Hyang. Pegunungan dengan jalur track terpanjang di Jawa dan dengan medan yang lumayan menyiksa bagi pendaki pemula. Kami berangkat dari Danau Taman Hidup, sebuah danau yang terkenal akan keindahannya di pegunungan ini menuju Cisentor, sebuah pondokan tempat persimpangan antara puncak dan Cikasur. Selama perjalanan dari Danau Taman Hidup hingga Cisentor, Kami dimanjakan oleh pemandangan hutan yang masih lebat. Pepohonan menjulang tinggi dengan ditumbuhi tumbuhan paku serta lumut-lumut hijau yang menambah kesan rimba. Gunung ini sangat sepi pengunjung. Selama perjalanan ke Cisentor, Kami sama sekali tak berpapasan dengan pendaki lain.

Savana
            Kami telah sukses melewati hutan cemara dan pondok sinyal meskipun dengan perjuangan yang ekstra ngos-ngosan. Kami sempat putus asa karena kelelahan dan kedinginan. Bukan Kami semua. Janah dan Rozak masih semangat melanjutkan perjalanan dengan langkah yang sangat kilat. Aku sampai heran dan bertanya-tanya, apa makanan Mereka berdua?. Mereka masih sangat kuat melangkahkan kaki disaat Kami hampir mati kedinginan. Seumur-umur mendaki, baru kali ini pula Aku kedinginan pada saat perjalanan. Sungguh ini adalah waktu yang tak tepat untuk mendaki gunung. Dinginnya udara mungkin bisa ditutupi jaket, tapi dinginnya air hujan tak ada yang bisa menghilangkannya kecuali pakaian basah yang Kita kenakan dibuang jauh-jauh. Sungguh baru kali ini Aku mendaki di musim hujan. Di Argopuro pula.

Hutan lumut

            Hari sudah semakin sore dan cahaya matahari yang redup tertutup mendung akan digantikan rembulan yang bisu tak mampu mengusir gelap. Kami baru sampai di Kali Kenik, sementara sebentar lagi langit akan menghitam. Janah tetap pada pendiriannya ingin melanjutkan perjalanan ke Cisentor, tak peduli gelap menghadang. “Setengah jam lagi juga sampai kok”, bujuknya. Kami yang sudah kelelahan dan takut tersesat dalam gelap serempak menolaknya. Ditambah lagi kondisi kaki teman Kami yang sudah agak pincang jalannya. Tak tega pula Aku melihatnya. Kami segera mendirikan tenda, memasak, makan, lalu tidur.

Bernarsis ria di kali kenik

            Kami berencana untuk keesokan harinya berangkat pagi-pagi tanpa memasak, dan akan memasak di Cisentor. Tapi rencana hanyalah rencana. Keesokan paginya benar saja Kami tidak memasak, Kami hanya makan snack dan roti seadanya. Tapi cuaca yang buruk, hujan yang tanpa henti, membuat Kami malas untuk keluar tenda dan melanjutkan perjalanan. Kami menunggu dan menunggu sampai hujan reda. Namun yang ditunggu tak kunjung reda. Akhirnya sekitar pukul 10 pagi Kami berangkat dari Kali Kenik menuju Cisentor. Seperti biasa, Janah dan Rozak memimpin di depan. Yang di belakang, Aku dengan malu-malu setiap lima menit sekali memegang perut sambil membayangkan makanan lezat. Huft, sungguh ini tak pantas ditiru, melanjutkan perjalanan tanpa mengisi energi dengan cukup.
            Gara-gara seharian nyasar di hari pertama sebelum sampai Danau Taman Hidup, rencana perjalanan Kami molor hampir satu hari. Bahkan beberapa dari Kami tidak memiliki semangat dan optimisme lagi untuk summit attact. “Sudahlah, tujuanmu mendaki untuk apa? puncak bukanlah tujuan satu-satunya. Kondisinya sekarang sudah jam berapa? Aku sudah tak menginginkan puncak lagi”. Salah satu dari Kami mengeluarkan pendapat yang di iyakan oleh beberapa yang lain. Aku sendiri, dari hati ingin tetap ke puncak dan memaki-maki diri sendiri karena tak tahu apakah suatu saat bisa ke tempat ini lagi untuk ke puncak. Aku sangat ingin tahu wajah Puncak Rengganis. Apakah semanis dalam lagu itu? “Manis manis manis engkaulah Puncak Rengganis”, begitulah liirik lagu berjudul “Edelweiss” yang sering dikumandangkan di komputer sekretariat. Sebuah lagu oleh-oleh dari Jember. Lagu ini tenar di kalangan pecinta alam di Jember. Anggota grub band yang menyanyikan lagu ini pun berasal dari alumni pecinta alam. Tamasya band.


Pondok Cisentor
            Sekitar pukul 1 siang Kami sampai di pondok Cisentor. Sebuah pondok satu-satunya telah ditempati para calon anggota Sispala yang sedang menjalani masa pendidikan. “Ayo, Siapa yang mau muncak, Aku mau muncak, yang muncak ayo muncak yang tidak nunggu disini, Kita makan cracker aja dulu, masaknya nanti saja setelah muncak”. Gelegar suara Janah penuh entah penuh amarah atau semangat. Meski pada awalnya sudah banyak yang patah semangat untuk summit attact, Akhirnya Kami semua menyerah juga. Kami tidak bisa membohongi diri, bahwa Kami ingin menikmati indahnya Puncak Rengganis. Sudah jauh-jauh sampai disini masak iya gak sampai puncak. Ditambah lagi kondisi yang memungkinkan karena hujan sudah reda.
            Kami semua akan melanjutkan perjalanan ke puncak. YEAAY!! Aku sangat senang, karena dari awal Aku sangat ingin melihat dengan mataku sendiri manisnya Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Walaupun sungguh sebenarnya Aku ingin makan nasi, tetapi karena dikejar waktu, perjalanan pulang pergi Cisentor-Puncak sekitar 5 jam, akhirnya Aku cukup menyantap cracker. Masak nasi plus lauk pauk membutuhkan waktu yang lumayan lama, bisa lebih dari satu jam. Kami tidak mau dalam keadaan masih dalam perjalanan setelah cahaya matahari terbenam. Satu jam adalah waktu yang cukup untuk melakukan perjalanan dari Cisentor menuju ke Rawa Embik. Rawa Embik adalah mata air tertinggi di pegunungan ini. Sesampainya di Rawa Embik, Kami berhenti sebentar untuk mengambil air. Sangat segar.

Narsis diantara kabut

Jalan menuju puncak

            Kami melanjutkan perjalanan lagi tapi beberapa jam kemudian hujan turun. Rintik hujan diiringi kabut dingin tak menghentikan langkah Kami. Kami hanya berhenti beberapa menit untuk memakai jas hujan. Tak lama kemudian hujan reda. Segala rasa lelah terhapuskan oleh indahnya hamparan Edelweiss dan kabut tipis. Subhanallah, apakah syurga lebih indah dari ini?. Edelweiss dan efek kabut tipisnya memberikan kesan Kami sedang berada di dunia lain. Seperti inikah taman bermain Dewi Rengganis?

Terbentang hamparan Edelweiss

            Kami melanjutkan perjalanan sambil berfoto ria hingga akhirnya Kami sampai di pertigaan. Pertigaan ini adalah pemisah tiga jalur, jalur Puncak Rengganis, jalur Puncak Argopuro, dan jalur turun ke Cisentor. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Rengganis. Belum sampai puncaknya, hujan kembali turun. Kami tetap melangkah membelah hujan dengan jas hujan Kami. Alhasil Kami hujan-hujanan di Puncak. Meskipun hujan dan kabut agak menghalangi pandangan, namun Kami sepakat, Puncak Rengganis benar-benar manis. Benar-benar indah. Apakah Dewi Rengganis juga manis? Kami tak peduli lagi, karena Kami tahu, angin pun tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Sebelum menaiki bebatuan di puncak rengganis

            Kami segera berfoto ria di puncak meskipun hujan membasahi baju yang Kami kenakan untuk berpose di depan kamera. Karena dingin dan kucuran air hujan yang semakin membuat pakaian Kami basah, akhirnya waktu 15 menit Kami cukupkan. Kami segera turun kembali menuju Cisentor. Kami tidak menyempatkan diri untuk mampir ke Puncak Argopuro karena takut kemalaman. Katanya untuk mencapai Puncak Argopuro harus melewati medan yang lebih curam. Akhirnya Kami hanya sempat melambaikan tangan untuk Puncak Argopuro. “Kami akan mampir kapan-kapan”. Janji Kami yang tak tahu akan Kami tepati atau tidak. Sebelum magrib Kami  telah sampai di Cisentor dan segera memasak serta mendirikan tenda. Sambil menggigil.

Puing kerajaan dewi rengganis


Berfoto di puncak rengganis

*Bersambung*

Mendaki Pegunungan Hyang (1) "Dimanakah Kau, Danau Taman Hidup?"


            Argopuro, salah satu gunung yang populer di kalangan pencinta alam maupun pendaki ini terletak di daerah perbatasan Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, dan Kabupaten Situbondo. Gunung ini memiliki 2 puncak, yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro. Sebuah lagu dari band indie asal Jember, Tamasya band, berjudul “Edelweiss”  yang sering berkumandang di sekretariat tercinta membuatku semakin ingin menjajal gunung tersebut. Meskipun pada mulanya ada sedikit rasa takut oleh cerita mistis beberapa teman yang pernah mendaki gunung tersebut, akhirnya pada 24 Desember 2011 Aku beranikan diri untuk berangkat menapaki jalur tracking terpanjang di Jawa tersebut.

            Kami 8 mahasiswa, tepatnya 4 mahasiswa dan 4 mahasiswi mengisi minggu tenang untuk mencari kedamaian hati bersama lembutnya kabut dan dinginnya udara pegunungan Hyang. Gunung Argopuro memiliki dua jalur pendakian, yaitu Bremi dan Baderan. Kami memilih berangkat dari Bremi dan pulang melewati Baderan. Untuk sampai ke Bremi, dari Surabaya Kami naik bus dan turun di terminal Probolinggo, kemudian naik angkot hingga Garasi Akas. Sesampainya di Akas, Kami menunggu hingga jam 6 pagi, bus dari Akas  menuju Bremi hanya ada pukul 6 pagi dan 11 siang. Sesampainya di Bremi, Kami mengurus perijinan di Polres setempat kemudian capcus menuju Taman Hidup.
            Kami membentuk formasi. Janah sebagai satu-satunya yang pernah menapaki jalur Argopuro sebelumnya dipilih sebagai penunjuk arah. Rozak berada pada barisan paling depan mengikuti jalur track pada GPS. Saking banyaknya percabangan dan jalur tikus bagi penebang liar, jalur dari Bremi menuju Taman Hidup ini agaknya membingungkan bagi yang pertama kali menapakinya. Nampaknya pengalaman dari satu orang dan alat bantu GPS yang sengaja Kami bawa tidak menjadi jaminan bahwa Kami tidak akan tersesat.
            Di suatu persimpangan jalan Kami agak bingung membuat keputusan. Ikut jalur lurus namun lumayan menanjak, atau belok kanan dengan kontur yang agak melipir. Akhirnya Kami memutuskan untuk mengikuti jalur ke kanan dengan pertimbangan bahwa kedua jalur tersebut pada akhirnya ada pada satu titik pertemuan. Dengan kata lain, lewat jalur lurus maupun kanan akan sama saja. Kami terus mengikuti jalur yang ada hingga akhirnya Kami menemui jalan buntu. “Oh man, ternyata ini jalannya para penebang pohon”. Banyak kayu bekas tebangan yang berceceran. Kami tersesat.

Bekas jalan perambah kayu

            Dengan perasaan yang masih tenang, Kami mengikuti jalur track pada GPS. Meskipun agak mbrusuk-mbrusuk untuk beberapa lama, akhirnya Kami menemukan jalan. Jalan yang agak lebar dengan beberapa persimpangan. Kami dihadapkan dengan masalah baru. Ada jalur ke atas dan ke bawah, lalu jalur yang mana yang akan membawa Kami ke Danau Taman Hidup? Kami mengambil keputusan dengan memilih jalur ke bawah. Setengah jam sudah Kami berjalan. Jalur yang lumayan terjal, namun mudah Kami lalui karena jalan yang menurun. Sampai di bawah rupanya indah sekali. Semak-semak asing yang jarang Kami lihat, di belakangnya ada pemandangan kabut yang putih dan menebal. Mungkinkah Taman Hidup ada disitu? Namun agak aneh ketika Kami mulai mendengar lantunan musik dangdut. Apakah ini jalan menuju pedesaan? Pertanyaan itu tak terjawabkan, karena teriakan Mbak Matus membuyarkan langkah Kami. Menariknya kembali ke atas dengan jantung berdegup kencang dan nafas ngos-ngosan. Ya, Kami memutar arah setelah menyadari arah Kami salah.
            Fyuh, ternyata jalan menuju kembali ke atas lebih menguras tenaga dan memakan banyak waktu. Ada persimpangan ke kanan dan Kami mengikuti jalan itu, sesuai arah pada GPS. Setelah berjalan dan berjalan selama beberapa waktu Kami kembali menemui jalan buntu. Kami semua menghentikan langkah dan beristirahat di semak-semak yang agak datar. Sementara Mbak Matus dan Rozak mendaki lebih ke atas untuk mencari jalan. Mbak Matus seperti menemukan Danau Taman Hidup, tapi rupanya setelah lebih diselidiki yang dilihatnya hanyalah kabut tebal nan putih. Kami semua ingin kembali lagi ke jalan semula, sebelum belok kanan dari jalan persimpangan. Akan tetapi Mbak Matus yakin akan jalan yang dipilihnya. Ia terus mengikuti jalur track pada GPS. Tentu saja Kami tak mungkin meninggalkannya sendiri. Akhirnya Kami mengikutinya juga.
            Jalur yang Kami lewati lebih menjadi. Sebuah turunan yang lumayan curam dengan semak-semak liar yang tak bersahabat. Terpaksa Kami menuruninya walau harus pelorotan. Tempat ini seperti menuju ke jurang atau sejenisnya. Jujur, Aku agak takut. Takut tempat ini semakin menyesatkan, dan Kami semakin tak bisa keluar. Sore hari sudah menjumpai masa akhirnya. Sebentar lagi waktu magrib segera tiba, dan gelap tentunya akan menyapa. Kami memutuskan kembali ke atas. Kembali ke persimpangan semula membutuhkan waktu yang cukup lama, ditambah lagi suasana gelap akan menyusahkan Kami mencari jalur yang benar. Akhirnya Kami menemukan tempat yang lumayan datar. Meskipun tempat ini agak sempit, cukuplah untuk membuat tenda seadanya.
            Kami berangkat dari Polsek sekitar pukul 10 pagi, harusnya Kami sampai di Danau Taman Hidup sekitar pukul 3 sore. Tapi ini sudah beranjak magrib dan Kami masih tersesat di hutan belantara. Rencana untuk mendirikan camp di Danau Taman Hidup menjadi gagal. Aku tak peduli. Aku tak peduli lagi tentang Taman Hidup, tempat yang Aku impi-impikan itu. Aku lelah. Seumur-umur mendaki, baru kali ini Aku tersesat. Apalagi ini di pegunungan Argopuro, banyak berita orang hilang disini. Jujur, Aku sendiri sudah hampir menyerah, sedetik kemudian Aku menyesali keputusanku berangkat ke tempat ini, sedetik kemudian Aku ingin segera sampai ke kota tempat tinggalku. Perasaan penyesalan maupun ketakutan ini tentu saja kusimpan sendiri.
            Aku tak sendiri, Kami berdelapan, dan dari 8 kepala itu tentu cukup untuk berpikir mengenai langkah-langkah yang akan Kami ambil selanjutnya. Kadang Aku berpikir kekhawatiranku ini sangatlah berlebihan ketika melihat ternyata Mereka terlihat sukses membuang jauh rasa takut dan segera mencari solusi dari ini semua. Mereka sama sekali tidak ingin kembali pulang seperti yang dipikiranku. Mereka terlihat lebih kuat. Aku mencoba menguatkan diri, seperti Mereka. Taman Hidup, Cisentor, Puncak, Cikasur, dan Baderan tetap menjadi tujuan Kami.
            Para cowok tidur di tenda yang letaknya agak di bawah dataran tempat tenda para cewek berdiri. Kami berniat untuk rapat koordinasi malam itu, tapi ternyata para cowok sudah pada ngorok tanpa sempat memakan sepotong roti pun. Sungguh Aku bisa merasakan lelah yang dirasakan Mereka. Akhirnya sebelum tidur, Kami melempar sebungkus roti ke tenda cowok kemudian membuka GPS untuk melihat jalur Taman Hidup. Astagaaa! Ternyata jalur Taman Hidup yang selama ini Kami ikuti salah. Orang terdahulu yang menggunakan GPS ini salah mengeplot titik koordinat Danau Taman Hidup. Pantas saja Kami tersesat. Aaaahhh, Aku lega, paling tidak Aku tahu alasan Kami tersesat, rupanya karena kesalahan pengeplotan titik koordinat Taman Hidup pada GPS. Bukan karena kerusakan sistem pada GPS yang Kami bawa, ketidak terampilan Kami dalam menggunakan GPS, atau penyebab-penyabab mistis yang mungkin saja terjadi di Pegunungan angker ini.
            Keesokannya Kami bangun sangat pagi, tak pernah Aku bangun sepagi ini saat pendakian. Kami sempat mendengar teriakan manusia, beneran manusia. Sepertinya suara itu berasal dari Danau Taman Hidup. Kami membalas suara itu dengan berteriak kencang, berharap Mereka juga mendengar Kita. Tapi sia-sia. Kami segera melakukan pembagian tugas setelah sarapan dengan snack dan roti secukupnya. Janah dan Rozak berangkat terlebih dahulu untuk mencari jalur. Aku dan yang lain beres-beres tenda dan packing. Setelah selesai packing, sekitar pukul 7 pagi, Kami segera mengikuti jalur yang dilewati Janah dan Rozak. Mereka daritadi sudah berteriak-teriak memberi isyarat pada Kami untuk bergegas mengikutinya. Mereka memasang streamline berupa pita warna biru pada beberapa pohon agar Kami tidak kehilangan jejak.
            Akhirnyaa Kami menemukan Danau Taman Hidup sekitar pkul 8.30 pagi. Benar dugaan Kami, Taman Hidup tak jauh dari lokasi Kami bermalam. Sayang sekali Kami tidak bisa bermalam di danau ini. Tapi Aku sudah cukup lega karena telah keluar dari zona sesat. Kami bergegas menuju jembatan yang kayunya sudah lapuk dan berujungkan gubuk tua di tengah danau. Di gubuk tersebut telah ramai anak-anak kecil usia SMP sedang memancing. Mereka penduduk lokal dan telah terbiasa bermain disini.


Menemukan Danau Taman Hidup

            Setelah puas berfoto, Kami bergotong royong memasak nasi, soto, dan telur dadar. Soto berkuah kuning yang hanya terasa pahitnya kunir karena ada bumbu yang kurang. Meskipun rasanya agak aneh, Kami tetap lahap memakannya. Mungkin ini karena perut yang keroncongan setelah energi terkuras habis akibat tersesat seharian. Sekitar pukul sebelas siang, Kami melanjutkan perjalanan. Tujuan Kami selanjutnya adalah Cisentor. Sebenarnya Aku agak takut. Takut kemungkinan nyasar kembali. Tapi karena Mereka yakin, Akhirnya Aku meyakinkan diri. Cukup kemarin saja Kami tersesat di pegunungan hyang ini. Tunggu Kami di Puncakmu Dewi Rengganis!


Bersambung*

Tuesday, October 11, 2011

Cerita kepada Malam

Aku ingin bercerita,

Ceritakan kisah kepada malam yang kian larut..

Dialah yang setiap hari membawaku terlelap dalam mimpi indah..

Malam ini terasa hening, sehening prakara yg tak kunjung usai ini..

Dan aku sedang berfikir,

Memikirkan sesuatu yg tak pernah kutemui jalan keluarnya...

Aku senang, namun Aku juga sedih..

Aku sedih, namun Aku juga senang..

- Oktober, 2011

Friday, June 3, 2011

Kala Bimbang

Terlintas pertanyaan dalam diri
Haruskah diri ini diam dalam kedamaian
Ataukah memberontak dalam terjangan badai kehidupan
Menapis segala keterbatasan
Dan masih pantaskan aku untuk hidup dalam kebinasaan?

Sedang disatu pihak mengatasnamakan 'semangat'
Dengan segala keagungan terus membangkitkan gairahku
Sedang yang lain mengatasnamakan 'keputusasaan'
Dengan segala amarah terus mengombangambingku

Sementara aku hanya diam dipersimpangan
Menunggu waktu memutuskan, Jalan mana yang akan kupilih?

(Surabaya, 2011)

Sunday, April 10, 2011

Berkenalan dengan Batuan Cadas di Lembah Kera

Lembah Kera terletak di Dusun Dempok, Gampingan Kab. Malang, Jawa Timur. Tempat ini merupakan tempat favorit bagi pemanjat untuk menguji keahliannya dalam menaklukkan ketinggian tebing. Aku pun tertarik untuk mencobanya, berkenalan dengan batuan cadas di tebing itu setelah sebelumnya Aku sama sekali belum pernah merasakan pemanjatan di tebing. Biasanya Aku hanya memanjat dinding di kampusku.
  
Perjalanan menuju Lembah Kera Aku berangkat bersama teman-teman seperjuanganku, Kami akan mengukur kemampuan masing-masing di tebing itu. Untuk mencapai tebing, Kami harus berjalan sekitar setengah jam lebih dari sebuah gang kecil di pedesaan. Kami berangkat dengan jalan kaki, sementara motor dititipkan di pos pemanjat.
    
Persiapan dan Pemanasan sebelum memanjat tebing Sesampainya di lokasi pemanjatan, kami memasang tenda untuk bermalam dan meletakkan barang bawaan. Kami segera bersiap-siap dan melakukan pemanasan untuk melemaskan otot-otot. Ini baru pertama kalinya Aku akan memanjat tebing.

Salah satu jalur pemanjatan

Di Lembah Kera ini terdapat beberapa jalur pemanjatan berdasarkan tingkat kesulitannya. Jalur ini dibuat oleh FPTI JATIM, sebuah forum panjat se-Indonesia. Jalur-jalur itu diberi nama yang agak menggelitik bagiku. Berikut beberapa nama jalur panjat di Lembah Kera, Pipa, Blood Stone, Gong Setan, No Cry, No Women, No Marcy, dll.
Mencengkeram bebatuan di tebing Lembah Kera

Setelah pemanasan, kami mulai memanjat secara bergantian. Ada Mas Ijank dan Mas Brainca yang sudah mahir dalam hal pemanjatan diantara kami. Ada juga Febri, dia pemula namun lumayan mahir dan bisa menaklukkan tebing itu. Ana Yuni dan Sari, dia cukup kuat dan mampu mengangkat badannya hingga ketinggian beberapa meter.

Namun Aku dan teman-teman yang lain, sama sekali tidak dapat mengangkat badan satu meter pun. Aku sudah siap dengan segala pengaman lalu berseru "Belay ON". "ON Belay!!" Mas Ijank menjawabku pertanda ia sudah siap mengendalikan tali pengamanku, pertanda Aku bisa segera memanjat. Namun kakiku tetap menginjak tanah, itu berlanjut selama beberapa menit. Aku menyerah. Sungguh berat rasanya.

Dibandingkan dengan tebing dengan batu-batu cadasnya, ternyata panjat dinding dengan poinpoin pengganti batu cadas tidak ada apa-apanya. Alhasil, Aku hanya dapat memanjat jalur yang dinamai "Ibu-ibu PKK" karena tingkat kesulitannya yang rendah dan mudah dipanjat bahkan tanpa pengaman :).

Tapi kalian tidak usah takut. Karena banyak teman-teman pemanjat lain yang super canggih mampu memanjat hingga top. Aku memang payah, Aku tak ahli dalam bidang panjat tebing, namun Aku pasti ahli dibidang yang lain :).

Sedang bilay pemanjatan

Monday, February 28, 2011

Menyusuri Pantai Menapaki Bukit, Meru Betiri


            Hal yang biasa dilakukan oleh para pecinta alam. Namun ini pertamakalinya bagiku, juga bagi kami. Menyusuri pantai mulai dari Pantai Bandealit-Jember hingga Pantai Sukamade-Banyuwangi. Butuh waktu minimal tiga hari untuk menempuh perjalanan itu. Selama tiga hari itu kami terus melangkah, menyusuri pantai, menapaki bukit di Taman Nasional Meru Betiri.

Bandealit

            Hari pertama, sebuah truk mengantarkan kami melewati jalan makadam (berbatu) yang cukup mengocok perut sampai mual. Kami menikmati guncangan truk dengan berpegangan tiang-tiang penyangga ataupun sisi-sisi truk agar tidak terjatuh. Sungguh pemandangan di depan mata adalah pohon-pohon yang masih rindang, kokoh, dengan ukuran begitu besar pertanda umur pohon ini sudah tua. Sesekali Kami melihat sekelompok Budeng (Trachypithecus auratus) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) bergelantungan di atas pohon.

Menyeberangi sungai

            Kami terdiri dari 29 orang anggota PLH Siklus ITS, sebuah organisasi pencinta lingkungan hidup di kampus ITS Surabaya. Hari pertama tiba di Bandealit, kami belajar melakukan analisis vegetasi, bird watching (pengamatan burung), dan analisis sosial masyarakat. Pantai Bandealit ombaknya bergulung-gulung sangat besar dan tinggi, ini karena pantai-pantai di sepanjang Taman Nasional Meru Betiri termasuk wilayah pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang tinggi.
            Kami bersiap untuk menuju pantai selanjutnya, Pantai Meru Barat dan Pantai Meru Timur. Karena lokasi setiap pantai dibatasi oleh tebing dan bukit, maka untuk dapat menginjakkan kaki di pantai-pantai itu kami harus mendaki bukit terlebih dahulu. Perjalanan lumayan melelahkan, ditambah lagi sebagian besar kami berjenis kelamin perempuan. Meskipun ada juga perempuan jadi-jadian alias tomboy abis, hehe. Sebelumnya, sempat ada ketakutan dalam diriku jika saat menembus bukit dan hutan nanti kami akan menemui hewan buas. Hal ini mungkin saja terjadi karena di Taman Nasional ini masih terdapat berbagai populasi fauna langka yang dlindungi.
            Beberapa diantara kami sempat ngedrop. Akibatnya, perjalanan pun berlangsung sangat lama. Hingga hari semakin gelap, kami baru nyampai di Pantai Meru Barat. Daerah ini terlalu sempit untuk mendirikan tenda sehingga kami menuju Pantai Meru Timur. Kami harus melewati pantai yang jaraknya agak jauh. Kami agak panik, sebentar lagi waktunya pasang, dan ombak semakin lama semakin mendekat. Beberapa kali kami terjatuh karena gulungan ombak. Suasana tegang, kami terus mempercepat langkah kami dan mencari jalan menjauhi air laut. Kami semua sangat khawatir dan terus berdo’a agar kami diberi keselamatan sampai akhir perjalanan.
Pantai Meru Timur

            Satu jam kemudian, akhirnya sampai juga kami di Pantai Meru Timur. Sebagian langsung tertidur beralaskan pasir pantai saking kelelahannya, sementara yang lain memasak dan memasang tenda. Udara disini jauh dari yang aku bayangkan. Sama sekali tidak dingin. Malam itu aku menghabiskan waktu dengan tidur di atas matras beratapkan langit yang sedang menampakkan bulannya. Tenda-tenda yang kami bawa dan kami pasang nyaris kosong karena banyak yang memilih untuk tidur di luar tenda.

Menyeberangi muara menuju bukit

            Setelah puas beristirahat semalaman kami segera melanjutkan perjalanan menuju Teluk Permisan. Kembali mendaki, kembali melewati bukit yang curam atau menanjak. Ketika sore mulai datang, Teluk Permisan Barat mulai terlihat, kami senang bukan kepayang. Tapi setelah tahu bahwa kami harus mendaki melewati satu bukit lagi untuk sampai dan mendirikan tenda di Teluk Permisan Timur, kami langsung lemas. Mau tak mau kami mendaki lagi, menaiki bukit kemudian menuruninya, melewati sungai dan pantai, akhirnya sampai juga kami bermalam disana. Beberapa diantara kami sempat terkena gigitan tawon saat memegang pohon menuruni bukit.

Teluk Permisan


            Hari terakhir kami melanjutkan perjalanan menuju pantai terakhir, Pantai Sukamade. Kembali lagi mendaki bukit, bukit yang cukup menanjak, dengan medan yang licin karena hujan. Berkali-kali kami terpeleset namun bangun kembali dengan beberapa noda di pakaian. Selama perjalanan, kami tidak menemukan satu ekor pun binatang buas atau binatang langka. Namun kami berhasil menemukan jejak kaki yang diperkirakan adalah jejak kaki Babi hutan.

                                                                                       Pantai Sukamade

            Akhirnya sampai di Pantai Sukamade. Pantai ini paling luas diantara pantai-pantai lain di Taman Nasional Meru Betiri. Mungkin ini salah satu alasan para Penyu suka bertelur di pasirnya.

Konservasi penyu


            Sewaktu istirahat di Pantai Sukamade sambil menunggu jemputan truk, aku dan teman-teman sempat berjalan-jalan di kebun sekitar, melihat merak, memanen buah cokelat dan buah kelapa dari pohonnya, dan juga memanen pakis untuk di masak. Saat malam tiba, kami juga sempat melihat penyu bertelur ditemani petugas TNMB. Menyenangkan.


Memanen (baca:buah kelapa

            Aku  dan Aun juga sempat berkejar-kejaran dengan kucing milik anak kecil (aku lupa namanya) yang tinggal di Sukamade. Bukan karena kami menikmati kegiatan itu, tapi karena kami takut kucing. Hal ini menjadi hiburan bagi anak kecil itu dan teman-teman kami. Anak kecil itu di dekat penangkaran penyu bersama ibunya. Disana hanya ada dua rumah dan beberapa kamar mandi, sedangkan beberapa anak kecil lain dapat ditemui di perkebunan yang lokasinya agak jauh. Untuk penerangan sudah digunakan tata surya. Tidak ada anak kecil lain yang tinggal disini, sehingga dia lebih sering bermain dengan kucing dan monyet-monyet di Sukamade yang suka mengambil makanan pengunjung.

Bercumbu dengan Penyu di Pantai Sukamade


Pantai Sukamade, Pantai yang terletak di Banyuwangi ini cukup luas dan menjadi tempat favorit Penyu untuk bertelur. Terdapat daerah penangkaran Penyu disekitar ini. Tujuan penangkaran ini adalah untuk melindungi telur Penyu dari pemangsa di pantai. Sebelum melihat telur yang sedang bertelur, kita harus membaca papan peringatan terlebih dahulu. Kita akan dipandu petugas dari penangkaran saat ingin melihat Penyu bertelur. Penyu biasanya bertelur pada musimnya yaitu pada bulan Nopember-Maret.


Papan peringatan

Malam hari sekitar pukul 20.00 WIB hujan tak kunjung berhenti. Aku sangat khawatir, jika cuaca seperti ini terus rencana berpetualang ke pantai malam ini untuk melihat penyu akan batal. Namun waktu masih berpihak kepada kami, tak lama kemudian petugas dari pihak penangkaran penyu akan berangkat ke pantai untuk mengambil telur penyu. Mereka mengajak rombonganku untuk berangkat bersama. Petugas biasanya mengambil telur penyu dua kloter dalam sehari, aku agak lupa jam berapa saja biasanya petugas berangkat untuk mengambil penyu. Kalau tidak salah, kloter pertama sekitar pukul 22.00 WIB dan kloter kedua sekitar pukul 02.00 WIB.

Kami berjalan melewati setapak menuju Pantai Sukamade. Setelah mendekati Pantai, petugas memberi isyarat kepada kami untuk tidak mengeluarkan suara gaduh serta mematikan cahaya lampu senter. Kami terus berjalan ke arah pantai dalam suasana gelap, hening. Sesampainya di pantai, kami menikmati malam dalam dingin dengan sentuhan pasir pantai, sambil menunggu isyarat dari petugas. Masih dalam gelap dan hening.

Beberapa saat kemudian, secercah cahaya menjadi isyarat bahwa ini saatnya kami memulai langkah, menuju arah cahaya. Seorang petugas menyalakan lampu senter menandakan bahwa sekarang ia sedang bersama Penyu yang sedang bertelur dan kami diperbolehkan untuk melihatnya. Sebelum Penyu bertelur, kita dilarang menyalakan cahaya dan bersuara karena dapat mengurungkan niat Penyu untuk bertelur. Namun setelah Penyu bertelur, meskipun melihat cahaya, ia tidak akan menghentikan aktivitas bertelurnya hingga tuntas. Namun tetap saja, kami hanya berani menyalakan lampu senter dan kamera di belakang Penyu.

 Penyu bertelur                     Cipratan Pasir dari Penyu

Petugas mengambil telur Penyu

Sekali bertelur, Penyu menghasilkan kurang lebih 200 telur berwarna putih sebulat dan seukuran bola pimpong. Telur-telur ini diambil oleh petugas untuk dipindahkan ke tempat penangkaran. Bisa dibayangkan berapa dalam lubang yang harus dibuat untuk menyimpan telur-telur ini. Dari sekian ratus telur yang dihasilkan oleh Penyu ini, hanya sekitar 20% saja yang bisa menetas menjadi tukik. Setelah tukik siap hidup di alam bebas, ia dilepaskan ke lautan lepas.

Petugas menandai dan mengukur Penyu

Ketika ada Penyu baru yang bertelur di Pantai tersebut, petugas langsung menembakkan tanda dan mengukur Penyu tersebut kemudian mencatatnya. Jenis Penyu yang terdapat di perairan ini antaralain Penyu hijau, Penyu sisik, dan Penyu belimbing, namun yang paling banyak ditemui adalah Penyu hijau. Penyu yang selesai mengeluarkan telur dan menutup telurnya dengan pasir segera berjalan pelan kembali ke laut. Penyu itu meninggalkan jejak berupa garis lurus dab berlekuk di sepanjang perjalanannya. Jejak inilah yang menjadi pertanda bagi petugas untuk mengambil telur.

Selamat jalan penyu, suatu saat nanti Kami akan mengunjungimu lagi .

Monday, January 3, 2011

Menikmati Kembang Api Kota dari Puncak Bayangan, Pananggungan

                 

                  Pananggungan, Gunung ini terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sekitar 25 km dari Surabaya dengan ketinggian 1.653 mdpl. Untuk menempuhnya tidak butuh waktu banyak, sehari atau dua hari saja cukup. Itu yang membuat kami memilih Pegunungan tersebut untuk menghabiskan malam Tahun Baru 2011. Melihat kembang api kota dari puncak gunung tentu memiliki sensasi tersendiri karena aku belum pernah mengalaminya.
                Kami bersepuluh orang berangkat dari Surabaya sore hari. Malam hari sesampainya di Mojokerto kami langsung parkir motor dan tancap gas menyusuri hutan, mendaki setapak Pananggungan. Tidak satupun diantara kami pernah kesini sebelumnya, maka kami menyusuri arah setapak jalan hanya berdasar logika dan intuisi. Ini yang menyebabkan sedikit masalah, kami sempat tersesat selama kurang lebih setengah jam. Jalan setapak di Pananggungan cukup menanjak. Jika Kalian ingin melakukan pendakian di Gunung ini, harus menyiapkan air secukupnya karena di gunung ini tidak ada kali atau sungai.
                Kami terus melangkah mengejar waktu agar tidak kehilangan moment kembang api yang tepat menyala pukul 00.00 WIB. Namun, harapan kami sempat hilang karena kabut tebal menghalangi pandangan. Kerlap-kerlip lampu kota yang semula terlihat indah sama sekali tak terlihat lagi. Kami lanjutkan saja mendaki agar cepat sampai ke tempat camping untuk beristirahat dan membuat makanan hangat. Tepat tengah malam kami sampai di Puncak bayangan Pananggungan, disini sudah ramai para pendaki mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk bermalam disini. Angin disini sangat kencang, udaranya pun tak kalah dingin. Kami memasang tenda dengan sekuat tenaga karena angin membuat tenda kami berkibar-kibar.
                Tiba-tiba saja terdengar seperti suara petasan dan ledakan kembang api yang menyalakan warna merahnya. Kami lumayan terhibur, meskipun kembang api di kota tak terlihat karena kabut, ternyata para pendaki lain membawa kembang api dan menyalakannya di Puncak bayangan. Kembang apinya tak seindah kembang api di kota, namun keramaian dan canda tawa para pendaki di Puncak bayangan itu cukuplah menghibur kami.
                Sebenarnya Aku agak kecewa karena ternyata suasana puncak bayangan itu tak seperti yang kubayangkan. Sebelumnya tujuanku ikut mendaki ke Puncak itu adalah untuk mencari kedamaian, hanya ada kami dan alam. Namun ternyata suasana Puncak sangat ramai, pertama kami memasuki daerah penuh tenda itu terdengar suara lagu dangdut terlantun lewat radio. Tapi ternyata mereka seru-seru, jadi tak apalah bagiku menikmati alam beramai-ramai juga lumayan menyenangkan.
                Saat asik memasang tenda diiringi suara kembang api tiba-tiba saja kabut menghilang. Subhanallah, akhirnya aku benar-benar melihat kemilau kembang api menyatu dengan cahaya lampu kota. Kecil tapi luas dan begitu indah. Tidak rugi perjalanan yang kami lalui tadi. Sayang, kami tidak membawa kamera yang bagus untuk menangkap pemandangan itu.
                Keasyikan menikmati pemandangan kembang api, aku ditinggalkan memegangi tenda yang sedang berkibar-kibar sendirian. Kami terus memandang ke arah kota. Terkadang kabut datang lagi menghalangi pandangan, kemudian pergi lagi, berpindah-pindah tempat, begitu seterusnya. Angin masih saja bertiup kencang membuat kami kedinginan. Setelah kembang api mulai tak menampakkan kemilaunya lagi kami mulai benar-benar serius memasang tenda dan membuat makanan hangat.
                DOORR!! Tiba-tiba kompor satu-satunya yang kami bawa meletus padahal kami belum selesai memasak. Kami hanya selesai memasak mie. Byuuur!!! Tiba-tiba hujan pun turun dengan kencang. Kami langsung membereskan perlengkapan yang tercecer dan masuk ke dalam tenda, menghangatkan badan dan makan seadanya. Sungguh sial perjalanan kali ini, gara-gara kompor meletus bahan bakar kami habis. Makan apa kami besok?
                Hujan reda, sekitar pukul 03.00 WIB senior kami bersama calon suaminya datang dan membawa kue tart. Sungguh kami senang luar biasa karena kami sudah benar-benar kelaparan, hehe. Sosweet sekali seniorku itu. Dia perempuan dan ini pertama kalinya ia mengajak calon suaminya itu untuk naik gunung, merayakan ulang tahunnya. Setelah api ditiup, kami mengucapkan selamat dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk calon suami seniorku itu. Kami berkenalan kemudian makan bersama dan berfoto ria.
                Pukul 05.00 WIB Seniorku dan calon suaminya turun duluan meninggalkan kami. Kami sendiri masih enak tidur di tenda. Aku mendengar lantunan suara Adzan Subuh dan sekelompok pendaki sedang sholat berjama’ah. Suaranya sangat merdu membuat hatiku luluh. Aku sama sekali tidak menyangka masih ada orang menyempatkan sholat berjama’ah dalam kondisi sedingin ini. Hatiku sangat tentram mendengarnya.
                Setelah mata kami sudah benar-benar terbuka, kami berniat untuk memasak. Bahan bakar sudah habis, akhirnya kami memberanikan diri untuk meminta bahan bakar pendaki lain. Kami memasak bareng pendaki lain tersebut. Untunglah, kami sangat berterimakasih kepada mereka. Tanpa bantuan mereka, apa jadinya nasib kami. Kelaparan tentunya. Mereka pendaki dari Mojosari, terdiri empat orang. Sudah dua hari mereka bermalam disini menantikan badai berhenti. Tujuan mereka ke Puncak Sejati Pananggungan namun badai tak pernah berhenti sehingga perjalanan tak bisa dilanjutkan. Aku pun sedikit kecewa karena tak bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak sejati, tapi ya sudahlah lain kali kesana lagi juga bisa. Lagi pula kami telah terpuaskan dengan pemandangan kembang api tadi malam. Kami semua pendaki, hari ini memutuskan untuk turun dan tak ada yang muncak.
                Memasak belum selesai angin kencang dan hujan lebat datang lagi. Kami memasak di bawah tenda kemudian makan beramai-ramai. Setelah itu kami membereskan perlengkapan dan segera packing. Kami memakai jas hujan untuk melindungi diri dari basahnya hujan yang deras, namun dinginnya tetap menembus tulang. Aku berjingkrak-jingkrak berusaha menghilangkan dingin. Akhirnya perjalanan kami akhiri. Badai itu, meskipun menakutkan, namun menambah sensasi dalam pendakian ini. Ini pertama kalinya Aku merasakan badai ketika di Gunung.