Thursday, October 16, 2014

Surat Sejoli Masa Depan


- Kau tahu? Hari pernikahan kita adalah hari yang paling membahagiakan untukku. Sekarang pun aku merasa bahagia. Semoga akan ada hari-hari bahagia selanjutnya. Hari ketika kita bersama adalah hari yang membahagiakan bagiku. Kuharap kau pun merasakan itu.
- Kebersamaan kita bukan berarti dunia milik kita berdua. Aku ingin kita menjaga selaturahmi dengan sanak saudara dan teman-teman.
- Aku ingin kita tidak sendiri menikmati bahagia kita. Aku ingin sering berbagi dengan orang-orang disekitar kita. Dengan bapak ibuku, dengan bapak ibumu, dengan adikku, dengan kakak adikmu, dengan sanak saudaraku, dengan sanak saudaramu, dengan teman-temanku, dengan teman-temanmu, dengan tetangga, dengan mereka yang membutuhkan.
- Aku ingin kebersamaan kita membawa datangnya keceriaan, keriangan, dan kelucuan dari makhluk kecil yang akan menambah ramai hari kita. Setiap hari kita akan melihatnya bertumbuh. Kita akan menuntunnya untuk berjalan, melangkah, bersama.
- Aku ingin anak-anak kita tumbuh dengan baik, menjadi anak yang santun tuturnya, baik akhlaknya, luhur budinya. Orang tua adalah madrasah pertama sekaligus suri tauladan bagi mereka. Sekolah dan lingkungan turut membentuk pribadi mereka. Makanan yang mereka makan menjadi daging yang mempengaruhi kebaikan dan kelembutan hatinya.
- Aku tahu kita sama-sama manusia yang bisa berbuat salah, untuk itu mari kita saling mengingatkan jika lalai dan selalu mendukung jika benar serta sama-sama kita belajar jika tidak mengerti.
- Aku ingin kesibukan ataupun jarak tidak menjadi alasan kita untuk saling menjauh dan saling tidak memahami. Aku ingin kita selalu menjaga kebersamaan ini.
                Aku ingin kau membimbingku dengan baik, agar aku bisa membimbing anak-anak kita dengan baik. Tanpa bimbinganmu, aku tidak tahu apa aku akan tetap melangkah dengan benar. Aku selalu percaya bahwa kamu lah yang terbaik yang diberikan Allah SWT untuk mendampingi hidupku. Aku pun ingin terus berusaha menjadi pendamping yang baik untukmu dan juga ibu yang baik untuk anak-anakmu. Aku ingin kamu selalu mengingat kita J
                Kalimat indah di atas adalah surat dari seorang wanita kepada seorang laki-laki yang telah menjadikannya istri. Betapa berbahagianya seorang wanita saat rumahnya kedatangan seosok laki-laki soleh yang dengan gagah berani meminangnya dihadapan kedua orang tua si wanita. Karena pada saat itu pula seorang laki-laki memproklamirkan dirinya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab dan berani menerima resiko. Berani bertanggung jawab ketika lamarannya diterima dan berani berlapang dada ketika lamarannya ditolak. Berbeda dengan seorang laki-laki yang mendekati wanita hanya untuk memacari, karena laki-laki soleh tidak akan didapat dengan cara pacaran.
                Aku pernah memiliki pengalaman buruk yang teramat buruk. Sungguh aku malu dengan Fatimah yang selalu menjaga kesucian hatinya hingga Ali menikahinya. Aku malu karena pernah jatuh cinta tidak pada tempatnya. Dan aku malu karena pernah mencemburui Allah sebagai sosok yang lebih dicintai oleh laki-laki itu daripada aku. Aku sungguh berdosa. Astagfirullah...
                Aku pernah sekali pacaran. Aku kira pacaran itu indah, seperti di film-film. Hingga aku tersungkur, dan akhirnya aku sadar. Pacaran membuat hatiku semakin kotor, pacaran membuat kita hanya mengingat duniawi dan menghianati Tuhan. Bukankah semua agama melarang pacaran? Dulu aku selalu bertanya-tanya, kenapa agamaku melarang pacaran? Kini aku tahu sebabnya, karena agama memuliakan wanita, menjaga dan melindungi wanita. Bukankah hanya pernikahan yang dapat menghalalkan cinta? Maafkan aku Tuhan.
                Cinta yang merupakan fitrah manusia, islam mengaturnya agar cinta itu tetap suci. Bahkan dua sejoli yang sedang berta’aruf pun bukan berarti lantas mereka boleh saling mencintai. Mereka hanya diperkenankan saling mengenal sewajarnya untuk kemudian mengambil keputusan berlanjut ke jenjang pernikahan, atau harus diakhiri tanpa saling menyakiti. Aku pribadi meyakini, pernikahan yang baik hanya akan didapat dengan cara yang baik pula.
                Ah, seandainya wanita itu adalah aku dan laki-laki soleh itu adalah suamiku. Betapa berbahagianya aku. Masih pantaskah hamba yang berlumur dosa ini mengharapkan kebaikan? Engkau selalu meyakinkan dengan dalil-dalilmu, bahwa Engkau sungguh mencintai hamba-Mu yang bertaubat, bahwa laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Semestinya aku meyakini janji-Mu itu dengan cara bertaubat dan memperbaiki diri.
                Aku tak ingin banyak berjanji. Tapi aku sungguh ingin menjadi istri yang baik bagi seorang laki-laki soleh yang aku cintai. Bukankah islam itu sempurna? Islam telah mengatur semuanya, termasuk cara memilih dan mengusahakan pasangan hidup serta cara menjadi istri dan ibu yang baik.
                Akan sangat menyenangkan bisa berjalan berdampingan, saling menjaga keluarga untuk tetap melangkah di jalan-Nya. Akan sangat menentramkan menghabiskan sepanjang sisa hidup bersama seseorang yang semakin mendekatkan kita kepada Allah.
                Aku tak akan mengecewakanmu, laki-laki soleh yang menjadi pasangan hidupku. Aku mengharap ridhamu, karena dengan ridhamu aku akan memperoleh ridha-Nya.

                Jika engkau laki-laki soleh, tak kunjung datang, mampukah aku menjadi seorang Khadijah? Yang tegas kepada diri sendiri. Khadijah berani mengajukan diri untuk dilamar Rasulullah, laki-laki yang baik akhlaknya. Karena jodoh adalah cerminan diri, aku akan terus memperbaiki diri. 



Monday, February 10, 2014

Tentang Hujan

Lihatlah hujan itu...
Bukankah kehadirannya begitu mereka rindukan?

Namun saat ia datang, banyak dari mereka malah mengeluhkan. Mereka dahaga saat tak ada hujan, tapi malah menghujat saat hujan datang. Mereka takut basah, takut dingin, dan takut hujan menciptakan air bah. Mereka lupa sebelum hujan datang mereka juga takut. Takut kering, takut dahaga, takut suhu tinggi, bahkan takut lapar. Lalu hujan datang, menghapus ketakutan itu. Menciptakan ketakutan baru. Mereka selalu ketakutan hingga lupa cara untuk bahagia.

Siapakah hujan hingga begitu dirindukan namun juga begitu mudah dilupakan bahkan dielukan?

Hujan, ialah suatu bentuk yang jika diibaratkan hati, ia begitu tulus. Tak peduli diacuhkan, tak peduli dielukan, tak peduli jika mereka yang merindukan malah menghindari sentuhannya. Ia tetap datang disaat waktunya memang untuk datang. Diam-diam kehadirannya mengguyurkan kesejukan, menghapus dahaga. Diam-diam kehadirannya menciptakan kehidupan, menumbuhkan benih-benih kemakmuran. Menjadi salah satu alasan untuk berbahagia.

Siapa mereka hingga begitu merindukan hujan namun juga begitu mengeluhkan hujan?

Mereka mungkin segelintir yang melupakan jawaban dari pertanyaan.

Siapa yang menciptakan hujan? Siapa yang menciptakan air bah? Siapa yang menciptakan dingin? Siapa yang menciptakan kering? Dan siapa yang menciptakan mereka?

Siapa yang menyebabkan musim tak menentu (datangnya hujan)? Siapa yang menyebabkan datangnya air bah? Siapa yang menyebabkan dan membiarkan munculnya rasa takut?

Andaikan mereka benar-benar paham. Tak seharusnya ada ketakutan pada yang dirindukan, keluhan pada yang dinantikan, dan hujatan pada yang menghapus duka dan memberi kesejukan.

Mereka bukan yang memiliki hak untuk mengatur kapan hujan boleh datang dan kapan hujan tidak boleh datang. Bahkan hujan pun tak punya hak untuk itu.

Andai mereka paham. Merekalah yang seharusnya menyiapkan diri untuk menyambut pada yang dirindukan. Agar kelak saat yang dirindukan dan dinantikan itu benar-benar datang, mereka dapat memperlakukannya dengan baik. Melepas kerinduan dengan riang. Menikmati kesejukannya tanpa rasa takut.

Andai mereka paham. Bukan keluhan lah yang seharusnya mereka luapkan. Namun rasa syukur dan penerimaan. Seperti mereka mau menerima kesejukannya, mereka juga harus mampu menerima rasa dinginnya. Seperti mereka mau menerima benih-benih kemakmurannya, mereka juga harus mampu menerima air bah yang bisa saja ditimbulkannya.

Lagi pula, andai mereka menyiapkan diri dengan baik. Resiko yang ditimbulkan tak akan sebesar seperti ketika belum siap. Andai mereka menyiapkan diri dengan baik, hatinya akan lebih kuat untuk menghadapi dan mengatasi segala resiko yang ditibulkan.

Bukan hujan yang harus mengimbangi mereka. Merekalah yang harus mengimbangi dan beradaptasi untuk hujan, yang dirindukan.

Aku merindukan hujan seperti aku merindukan matahari.

Jika mereka dan hujan dapat menjadi suatu ibarat. Bisakah aku ibarat mereka dan kamu ibarat hujan?

Aku ingin menyiapkan diri untuk menyambut apa yang aku rindukan. Hujan, matahari, dan kamu.


(Surabaya, 2014)

Monday, January 20, 2014

Manusia dan Perjalanan

Semuanya sudah cukup.

Semua perjalanan saya selama ini sudah cukup membuka mata saya. Bahwasanya manusia dan alam hidup berdampingan, saling membutuhkan. Bahwasanya manusia dan manusia hidup berdampingan, saling membutuhkan. Selayaknya kita saling menjaga, bukan saling mengancam... 

Untuk apa aku terus melangkah, melanjutkan perjalanan demi perjalanan jikalau langkahku hanya untuk menyenangkan diri sendiri, hanya untuk memuaskan rasa penasaran pada hal yang katanya baru. Bukankah lebih baik aku tetap tinggal namun memberi manfaat pada yang aku tinggali?

Kadang aku iri dengan ibu-ibu di desa yang tak pernah letih memperbaiki generasi lewat pengabdiannya melalui pendidikan maupun pemberdayaan masyarakat di desanya, atau seorang ibu biasa yang dengan tulus dan tanpa mengeluh membesarkan anak-anaknya lewat kasih sayang juga ilmu agama. Atau aku ingin menebarkan manfaat di muka bumi lewat perjalanan seperti orang-orang terdahulu? Seperti para ulama yang berdakwah lewat perdagangan, atau para ilmuwan yang menghasilkan penemuan barunya lewat berbagai penjelajahan. Ah, terlalu berlebihan, aku hanya gadis biasa. Gadis yang menyukai perjalanan namun tak ingin melupakan kodrat sebagai perempuan.

Ngomong soal manfaat, manfaat apa yang bisa aku berikan baik di tanah yang sedang kuinjak ini maupun di bumi seberang yang ingin aku kunjungi? Aku yang hanya manusia biasa ini hanya memiliki sedikit ilmu dan nyaris tak memiliki keahlian. Lalu manfaat apa? Sudah waktunya manusia biasa ini memperbaiki diri, membekali diri dengan keahlian agar kelak tak hanya menjadi beban.

Cukup sudah. Musafir ini ingin menghentikan perjalanannya ketika ia menyadari satu hal. Pada akhirnya tempat yang paling ingin ia kunjungi adalah tempat yang begitu indah. Tempat dimana dibawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalir...

Namun bukan berarti musafir ini ingin benar-benar berhenti dari berjalannya. Jikalau suatu saat kehadirannya dibutuhkan di tempat lain, ia tak akan segan untuk melangkahkan kakinya sejauh apapun itu. Tujuannya hanya satu, menjadi sebaik-baiknya manusia.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Sebaik-baiknya manusia adalah yang panjang umurnya dan yang baik perbuatannya....

Friday, December 6, 2013

Poligami, Yes or No?

Saya punya teman sekamar, anaknya kepolisian banget, eh salah ketik, maksudnya kepo banget. Kepolisian sama kepo emang beda tipis. Kalo kepolisian suka banyak nanya kepada para terdakwa dan saksi mata, kalo si kepo dikit-dikit nanya sama semua orang terutama teman sekamarnya. “Mbak udah makan?”, “tadi makan apa?”, “liburan ngapain aja?”, etc sampe-sampe saya gak bisa bedain dia ini emang termasuk golongan orang-orang yang selalu ingin tau alias kepo atau memang orang yang sangat perhatian dengan teman sekamarnya. Oke saya bercanda. Singkat cerita, tadi malam entah darimana asal pembicaraan kita, tiba-tiba teman saya itu bertanya dengan gaya keponya. “Mbak sampean mau kalo nanti dipoligami?”. Hadeeeehhh pertanyaan macam apa ini? Nikah aja belum sudah ditanya beginian –”.

Karena saya tergolong less memory yang susah untuk mengingat sesuatu dan susah berpikir cepat jadi saya jawab sekenanya aja. “Tergantung bagaimana suamiku nanti” jawabku singkat. Eh dasar kepo masih saja ingin tahu “Berarti nanti sampean ada kemungkinan dipoligami dong?” cercahnya. “Tau ah males mikir” dan begitulah akhirnya pengakuan konyolku. Btw anyway saya pikir lagi daripada menanyakan ini padaku apa tidak lebih baik menanyakan pada dirinya sendiri? Karena saya tidak tergolong manusia kepo maka saya tidak nanya balik. Saya rasa hampir semua perempuan akan memiliki pemikiran yang sama soal ini. Apa dia pikir saya ini perempuan yang berbeda? Hmmm, kalau memang berbeda, “berbeda” dengan “tidak normal” itu sejenis? O ya satu lagi, kalau kepo itu artinya selalu ingin tahu berarti anak kecil itu juga kepo ya? *abaikan ini.

Saya sebenarnya telah melupakan pertanyaan temanku itu. Tapi tiba-tiba pagi tadi saya teringat lagi dan mulai bertanya pada diri sendiri. Saya jadi ingat jawaban Ustadz Maulana dalam acaranya di stasiun televisi ketika ada ibu-ibu bertanya. Saya agak lupa detail jawaban beliau yang disertai aksi banyolnya. Intinya Ustadz Maulana tidak mendukung praktek poligami pada zaman ini. Karena penasaran saya browsing-browsing sambil mengingat-ingat. Ya si Less memory sedang berusaha mengingat. Saya perhatikan memang banyak kaum lelaki yang membenarkan diri untuk berpoligami atas dasar bahwa poligami adalah sunnah rasul. Lalu apa laki-laki itu yakin bisa menjalankan sunnah rasul itu dengan benar? Maksud saya apa para laki-laki itu yakin hatinya dan perbuatannya sudah semulia rasul yang bahkan telah dijamin masuk surga? Hmmm atau bolehkah saya malah bertanya apakah poligami benar-benar sunnah rasul?

Saya juga punya teman dari jenis kelamin lali-laki (yang sepertinya dia terobsesi dengan poligami) hahahhaa, hussss dilarang berprasangka buruk. Oke bercanda. Jadi gini ceritanya, dia memang orang yang suka bicara, sepertinya terinspirasi oleh para motivator, hihihi. Dia bilang kalo seorang lelaki berpoligami atau menikah lagi itu karena istrinya kurang bisa menjaganya atau tidak menjadi istri yang baik. Belakangan saya berpikir, kenapa hanya pihak perempuan saja yang disalahkan? Bisa jadi si istri tidak menjadi istri atau ibu yang baik dikarenakan si suami sendiri yang kurang bisa memimpin. Maafkanlah aku dengan kebodohanku yang tak bisa membimbing dirimu. Lalala *malah nyanyi.

Duh sepertinya mulai ngelantur kemana-mana. Oke kembali ke laptop eh ke topik utama, tapi sebelumnya ingatlah jangan saling menyalahkan wahai anak muda, alangkah baiknya bila saling mengingatkan daripada menyalahkan. Ingat hukum di Indonesia menganut asas praduga tak bersalah, jadi kumpulkan bukti-bukti yang valid terlebih dahulu sebelum mencebloskan ke penjara *gagal nyambung –”.

Kembali soal poligami, mungkin semua umat muslim sudah mengetahui kisah nabi Muhammad dan istri-istrinya. Semasa muda Nabi setia dengan istrinya Siti Khadijah dan tidak pernah mendua padahal saat itu poligami begitu mentradisi dan menjadi kebanggaan di Arab. Baru setelah Siti Khadijah meninggal dan Nabi telah berumur sekitar 55 tahun beliau memutusukan untuk menikah lagi. Ada yang bilang istri Nabi Muhammad ada 9 ada juga yang bilang 11. Diantara istri nabi hanya satu yang masih gadis yaitu Aisyah. Sedangkan istri lainnya adalah janda baik merdeka maupun budak yang dimerdekakan. Alasan nabi menikah tidak lain adalah karena tujuan sosial dan politik.

Adapun QS An-Nisa, 4: 2-3 adalah untuk membatasi poligami dan bukan malah untuk menganjurkan poligami. Praktek poligami telah ada jauh sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW yang membawa Islam. Seperti yang dikutip oleh Baiddan dalam Tafsir bi Al-Ra’yi yang mengatakan bahwa poligami itu sudah ada dikalangan bangsa-bangsa yang hidup pada zaman purba. Pada bangsa Yunani, Cina, India, Babilonia, Asyria, Mesir dan lain-lain. Poligami dikalangan mereka tak terbatas hingga mencapai 130 istri bagi seorang suami, bahkan seorang raja cina ada yang mempunyai istri sebanyak 30.000 orang. Bahkan di Athena, negeri yang dianggap paling beradab dan tinggi kebudayaannya diantara semua zaman purbakala, harga wanita tidak lebih berharga dari hewan yang biasa dijual dipasar. Mereka diperjualbelikan kepada orang lain bahkan diwariskan. Martabat wanita pada saat itu sangat rendah (Afifi Hasbanulloh, Kompasiana). Jadi diturunkannya QS An-Nisa, 4: 2-3 adalah untuk memberi batasan jumlah istri yang boleh dinikahi ditambah lagi harus berlaku adil. Yang dianjurkan pun bukanlah menikah lagi dengan gadis belia atau pun janda kembang, melainkan dengan wanita lemah dan punya tanggungan.

Ada juga laki-laki yang berkelit bahwa poligami dianjurkan karena jumlah wanita di dunia ini jauh lebih banyak dibanding laki-laki. Darimana tahu hal itu? Sementara di kampusku jauh lebih banyak laki-lakinya, secara kampus teknik hehehe. Tapi ada juga yang membantah fakta itu (bahwa jumlah wanita lebih banyak). Berdasarkan sensus DKI dan Nasional tahun 2000, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. Sedangkan data statistik jumlah penduduk Indonesia dari sensus BPS tahun 2010 menyebutkan secara total di Indonesia perbandingan jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada wanita, yaitu sebesar 50.17% sedangkan wanita 49.83%. Bahkan berdasarkan data statistik penduduk dunia tahun 2012 (midyear world population 2012) jumlah laki-laki adalah sebesar 3.532.503.174 orang atau sebesar 50.3%, sedangkan jumlah penduduk dunia wanita sebesar 3.485.040.790 atau sebesar 49.7% dari total penduduk 7.017.543.964. Dari data statistika tersebut diketahui bahwa jumlah laki-laki sedikit lebih banyak daripada jumlah wanita. Jadi jika masih ada laki-laki yang mau berpoligami demi menyelamatkan wanita agar semua wanita laku karena jumlah wanita lebih banyak, maka tertawalah hahahaha.

Saya rasa yang harus kita perhatikan bukanlah soal jumlah penduduk wanita atau laki-laki mengingat jumlah itu bisa berubah suatu saat dan juga mengingat salah satu tanda kiamat adalah banyaknya jumlah wanita daripada laki-laki. Yang harus kita perhatikan dan pahami baik-baik adalah alasan diturunkannya QS An-Nisa, 4: 2-3 beserta kandungan didalamnya serta maksud dan tujuan nabi Muhammad menikah dengan istrinya. Jadi bagi yang masih punya niat poligami, pikirkanlah terlebih dahulu apa maksud dan tujuan anda? Jika masih mengatasnamakan sunnah maka sanggupkah anda menikahi janda tua yang tidak punya apa-apa selain anak yatim atau budak yang baru dimerdekakan hanya untuk melindungi dan memuliakan martabat mereka? Ditambah satu pertanyaan lagi, sanggupkah anda berbuat adil kepada istri anda? Adil dalam hal memperlakukan, mencintai maupun menafkahi?

Jadi berdasarkan uraian saya di atas, kesimpulan saya adalah… jeng … jeng … jeng …. saya (dan kebanyakan wanita lain) tidak sedikitpun terbersit pikiran untuk dipoligami, dan pada saat suami tiba-tiba datang dan membuka pembicaraan bahwasanya dia akan menikah lagi alias menduakan kita para wanita, maka saya yakin sesabar dan sebaik apapun wanita itu, hatinya pasti akan merasa sangat sangaaaatttt sakit dan mungkin hubungan suami istri yang tadinya hangat akan berubah suhunya menjadi lebih panas atau lebih dingin. Yaaaa kecuali jika wanita itu adalah Aisyah dan laki-laki itu adalah Muhammad. Atau kecuali jika sang laki-laki memang benar-benar seorang hero yang memiliki hati emas sehingga ia bersedia menikahi janda lemah yang punya tanggungan dan sedang menjalani hidup di daerah konflik seperti Papua, Aceh, Ambon atau semacamnya (mengingat dulu zamannya Nabi Muhammad adalah zaman perang). Sementara sekarang ini sudah jarang bahkan tidak ada peperangan, tidak ada lagi wanita yang perlu dilindungi dari musuh-musuh perang atau budak yang perlu dilindungi. Apalagi sekarang sudah marak emansipasi, sering kita dengar wonder women, sudah banyak Lembaga Sosial yang membela hak-hak wanita, dll. Justru para istri lah yang memerlukan perlindungan kalian wahai para lelaki, bukan sakit hati karena pernyataan ingin berpoligami (dengan gadis yang lebih muda, cantik, dsb). Jadi bagaimana pendapat anda?

Tulisan ini adalah pendapat penulis berdasarkan pengamatan dan bacaan yang dibaca penulis. Penulis tidak mewajibkan semua pembaca untuk mempercayai penulis karena takutnya nanti dianggap musyrik. Percayalah hanya kepada Tuhan karena hanya Tuhan yang Maha Tahu dan hanya Tuhan yang Maha Benar. Ma’af tulisan ini tidak lucu karena saya tidak bermaksud melawak. Mohon ma’af jika ada kata yang salah atau menyinggung secara sengaja ataupun tidak sengaja. Kritik dan saran yang membangun diharapkan di kolom komentar demi terciptanya kemanusiaan yang adil dan beradab eh maksud saya tulisan yang lebih baik ke depannya. Akhir kata, semoga menginspirasi.

Selamat melanjutkan aktivitas malam sabtu #sambil memikirkan kembali niat anda untuk berpoligami #eh . . . .  :) :)

Monday, July 23, 2012

Teruntuk Anak Indonesia

Teruntuk semua anak Indonesia,

Hari ini, tepat tanggal 23 juli, saya ingin mengucapkan selamat kepada anak Indonesia. Selamat hari anak nasional. Dihari spesial ini saya tidak bisa memberikan kado atau hadiah apa-apa. Mengingat jumlah anak Indonesia dan yang pernah menjadi anak Indonesia amatlah banyak. Dua ratus juta jiwa, jumlah yang seharusnya cukup untuk meneruskan perjuangan bangsa. Jumlah ini bahkan 3 kali lipatnya jumlah penduduk saat pertama kali Indonesia merebut kemerdekaannya. Meskipun tanpa perayaan dan tanpa hadiah, di hari spesial ini saya tetap ingin berbagi. Ini adalah untaian kata yang terangkai dalam bait, ungkapan hati untuk anak Indonesia. Untaian kata ini adalah surat yang semoga sampai dan terbaca oleh jutaan anak Indonesia.

Anak Indonesia
Lahir dan besar di tanah Indonesia
Awal balita dalam lembar tanpa noda
Kosong, bersih, nan suci…
Belum mengerti tentang dunia
Seiring waktu yang menempa
Lalu tumbuh menjadi pemuda dan pemudi
Dalam pelukan bumi pertiwi
Membangun karakter bangsa
Padanya terselip harap akan perubahan dunia
Anak Indonesia
Taruhlah hati pada pribumi
Junjunglah tinggi Sang Saka Merah Putih
Berjuang demi nasib bangsa
Melawan kaum penindas, membela nusantara
Menjadi pahlawan bukan untuk prestise semata
Namun rela walau tanpa tanda jasa
Demi cintanya pada Indonesia
Anak Indonesia, masa depan Indonesia
Ditangannya menggenggam sejuta harapan bangsa
Dipundaknya memikul berjibun tanggung jawab tiada tara
Roda paling berharga bagi negara
Energi paling besar dalam menyulut api semangat
Melebarkan sayap Garuda
Terbang tinggi mencapai tujuan bangsa
Kalian anak Indonesia
Ada pada setiap generasi
Sepantasnya memiliki misi
Bersatu merakit anyaman strategi
Menggerakkan Indonesia dalam kendali
Tanpa melupakan proklamasi
Selalu mengingat ikrar sumpah pemuda
Berpedoman pancasila
Untuk kemudian anak Indonesia akan bangga,
ketika dengan lantang meneriakkan “Indonesia Merdeka!”
Demikian kepingan kata yang telah saya rangkai seutuhnya untuk anak Indonesia. Semoga memiliki arti.

Hormat saya,


Wednesday, May 23, 2012

Wanita dalam Lini Masa

Saya adalah wanita, Ibu saya juga seorang wanita, disekitar saya tentu juga banyak sekali kaum wanita. Banyak pria memuja wanita karena kecantikannya, namun tak sedikit pula pria yang sakit hati karena ulah wanita. Mungkin itu sebab ada lagu berlirik “wanita racun dunia”. Saya tidak ingin membahas ini, toh tak sedikit pula wanita yang sakit hati karena pria. Ini soal hati, saya tidak ingin ikut campur. Kalau soal negara, saya harus ikut campur, karena saya adalah bagian dari negara yang memiliki andil dalam maju tidaknya negara saya, Indonesia tercinta.

Suatu pepatah menyebutkan bahwa wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak maka negara akan rusak pula. Saya sempat bertanya-tanya apa arti pepatah tersebut. Apakah benar wanita memegang peranan penting atas maju tidaknya suatu negara hingga disebut-sebut sebagai tiang negara?. Bahkan Ir Soekarno dalam Suara Indonesia Muda, 1928, mengatakan, “Ibu-ibu besar atau kecil, ibu-ibu sadar atau lalai, itulah buat sebagian berisi djawabnya soal Indonesia akan luhur atau Indonesia akan hancur.” Ini berarti wanita memang spesial, karena setiap wanita akan menjadi ibu yang melahirkan dan membesarkan anak bangsa.

Seperti era yang berubah, wanita pun banyak mengalami perubahan dalam setiap lini masanya. Jika dulu wanita hanya identik dengan dapur, maka sejak era R.A Kartini wanita mulai dikenalkan dengan dunia pendidikan. Berbagai profesi menjanjikan juga mulai marak untuk kaum wanita ini, mulai dari dokter, polwan, guru hingga pramugari. Prestasi membanggakan mulai ditorehkan oleh atlet-atlet wanita, sudah tidak mengherankan pula jika seorang wanita terpilih menjadi pemimpin. Namun dibalik fakta-fakta menggembirakan itu juga terdapat fakta menyedihkan. Banyak wanita yang memiliki pekerjaan tak layak karena faktor ekonomi yang mendesak. Tukang sampah, tukang pijit, sopir, bahkan pelacur pun dilakoninya. Diantara ribuan pekerjaan yang diusung seorang wanita, sebenarnya hanya satu lah yang menjadi kewajibannya, menjadi pendidik bagi anak-anaknya.

Ironisnya, saya melihat kenyataan yang cukup miris dikalangan wanita Indonesia terutama di jaman yang katanya modern. Di jaman yang mulai berbau kebaratan dan beraroma teknologi canggih. Ibu-ibu yang harusnya merawat dan mendidik anaknya mulai disibukkan dengan hal lain sehingga kewajiban utamanya sebagai seorang ibu perlahan terlalaikan. Ibu-ibu dari kalangan menengah rela untuk melewatkan jam yang seharusnya digunakan untuk menemani anak belajar demi menonton tayangan sinetron rendah mutu di depan TV. Bahkan tak jarang pula sang anak yang menemani ibunya untuk menonton sinetron. Hal ini tentu berpengaruh negatif pada pola pikir sang anak. Ibu-ibu dari kalangan elit terlalu berlebihan dalam memuja karir hingga tanpa ia sadari ia pun lupa pada tugas utamanya sebagai seorang ibu. Pembantu atau yang sering disebut baby sister yang ia percaya pun belum tentu bisa mendidik anak sesuai dengan harapan sang ibu. Rasa kesepian dan kurangnya kasih sayang pada sang anak ini tentu berpengaruh pada mentalnya. Ditambah penjagaan dan pengawasan yang kurang pada sang anak bisa memungkinkan sang anak terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.

Faktanya, saat ini banyak sekali kriminalitas dan krisis moralitas dilakukan oleh masyarakat kita. Perlu tindakan tegas dari pemerintah maupun pendidik terutama orang tua dalam hal ini “ibu”. Meskipun kini telah ada program 9 tahun wajib belajar di sekolah, bukan berarti peran ibu sebagai pendidik yang utama harus pudar. Meskipun kini telah marak digembor-gemborkan emansipasi wanita yang menuntut kesetaraan gender, bukan berarti peran wanita sebagai ibu boleh ditinggalkan. Bahkan surat R.A Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 menyatakan, “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” Jadi untuk kaum wanita, carilah ilmu hingga ke negeri Cina untuk kemudian pulanglah ke negeri dimana anakmu membutuhkan asuhan dan kasih sayangmu.

Akhir kata, saya akan mengacungkan kedua jempol saya untuk para wanita hebat, wanita-wanita yang mampu meraih impiannya tanpa menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita, wanita-wanita yang sanggup menjalani karirnya tanpa meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu. Namun bukan berarti seorang wanita yang hanya berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja adalah biasa. Setiap ibu adalah luar biasa. Setiap ibu telah banyak melakukan pengorbanan demi anaknya, selama masih dikandungan hingga menjadi seorang anak yang sukses. Maka baru setelah menyadari ini saya begitu menghormati para ibu rumah tangga yang berhasil mengantar anak-anaknya menjadi generasi hebat untuk keluhuran bangsanya. Mungkin itulah mengapa surga ada di telapak kaki ibu. Dan suatu saat saya akan menjadi ibu. Seorang ibu yang memiliki peran utama yang sama di setiap lini masanya. Melahirkan, menjaga, merawat, dan mendidik anak-anaknya.

Wednesday, April 18, 2012

Kutitipkan Cintaku kepada Langit

Lihatlah ke atas
Disana ada awan yang cerah namun menggelap di kala mendung
Ada pelangi yang berwarna-warni membentuk senyum dipipi
Mentari yang terus bersinar dengan cahaya benderang
Bintang-bintang yang berpijar tanpa kompromi
Dan rembulan yang memberi cahaya keteduhan dikala malam

Lihatlah lebih ke atas lagi
Ada langit biru walaupun menggelap ketika malam
Tingginya tak sanggup direngkuh
Namun Aku ingin menitipkan cinta kepadanya
Meskipun tangan tak sanggup menyentuhnya
Mata akan mampu selalu melihatnya
Dan hujan akan sampai ke pelupuk hatimu
Dikala Aku mulai tak sanggup menahan rindu

Hujan akan membawa kabar dari langit ke bumi
Dari Aku untuk Kamu
Dan dari Kamu untuk Aku

Teruslah memandang langit untukku
Secerah maupun semuram apapun keadaan langit

Tetaplah Kau berikan hatimu untukku
Seputih ataupun sehitam apapun kulitku
Seputih ataupun sehitam apapun rambutku
Karena cintaku untukmu tidak melihat warna
Aku mencintaimu

Thursday, March 22, 2012

Manakala Seseorang Tergila-gila oleh Harta, Tahta, dan Cinta

Kalian pasti sering mendengar untaian kalimat-kaliamat pemberi semangat ini :
Sukses adalah mana kala seseorang meraih empat TA, diatas rata-rata orang lain dengan cara yang sehat. Apa itu empat TA?
Ta yg pertama HARTA
Ta yg kedua TAHTA
Ta yg ketiga CINTA
Ta yg keempat KATA

Aku tidak sepenuhnya sepakat dengan kaliamat-kaliamat itu. Tentu setiap orang berhak mengemukakan  pendapat dan pola pikirnya sendiri.

Manakala Harta dan Tahta bukanlah tujuan hidupku, maka Aku tak perlu meraihnya untuk bisa dikatakan Sukses..

Ketika Aku telah berhasil mencapai tujuanku, maka dengan sendirinya Aku akan merasa bahwa Harta, Tahta, Cinta, dan Kata yang kumiliki saat ini adalah lebih dari cukup…

Kenyataannya manusia sekarang selalu merasa kurang, kurang dan kurang…
Padahal ketika Kita telah berusaha, kemudian berdo’a, menerima apapun hasilnya dan menyerahkan semua kepada Tuhan adalah hal yang paling menenangkan hati

Dan bagaimana menurut Kalian?

Wednesday, March 21, 2012

Mengurangi Sampah Bagian dari Investasi

Sampah di Surabaya : Doc. PLH SIKLUS ITS

Anda pernah menyesal ketika membeli nasi bungkus? ketika membeli air mineral? atau ketika menerima kantong plastik di supermarket-supermarket langganan Anda? Jika tidak, mari Kita cermati fakta-fakta berikut ini :

1. Menurut data KLH, pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah 0,8 kg per hari dan terus meningkat hingga 1 kg per orang per hari pada tahun 2000. Lebih lanjut diperkirakan timbunan sampah pada tahun 2020 untuk tiap orang tiap hari di Indonesia mencapai 2,1 kg.

2. Dari 0,8 kg sampah/hari, 15 persennya adalah sampah plastik. Dengan asumsi ada sekitar 220 juta penduduk di Indonesia, maka sampah plastik yang tertimbun mencapai 26.500 ton per hari; sedangkan jumlah timbunan sampah nasional diperkirakan mencapai 176.000 ton per hari.

3. Wawan Some, aktivis lingkungan di Surabaya mengungkapkan bahwa data tahun 2006 sampah plastik di Surabaya ada 960.000 ton per tahun. Produksi dan konsumsi air kemasan dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2011 produk konsumsi air kemasan bisa mencapai 17 milyar liter. Itu akan membutuhkan botol plastik sampai 500.000 ton per tahun. Nah tahun 2012 ini asosiasi produsen air kemasan itu produksinya mereka akan mencapai 19 milyar liter, padahal Kita tahu botol plastik air kemasan itu kan botol yang sekali pakai.

4. Berdasarkan data dari BPS tahun 2004, dari total timbunan sampah yang terangkut dan di buang di Tempat Pembuangan akhir (TPA) berjumlah sekitar 41,28 %, di bakar 35,59 %, dikubur 7,97 %, di buang sembarangan (ke sungai, saluran, jalan, dsb) 14,01 % dan yang terolah (di kompos dan didaur ulang) hanya 1,15 %.

Masih kurang? Baca lagi fakta berikut ini :

1. Sampah menghasilkan gas metana (CH4) dengan komposisi rata-rata tiap satu ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Metana sendiri mempunyai kekuatan merusak hingga 20-30 kali lebih besar daripada CO2. Gas metana berada di atmosfer dalam jangka waktu sekitar 7-10 tahun dan dapat meningkatkan suhu sekitar 1,3 derajat Celsius per tahun. Ternyata sampah yang selama ini Kita kira hanya menimbulkan dampak pemanasan global jika dibakar tidak 100% benar. Sampah yang tidak dibiarkan begitu saja juga menyumbang kontribusi dalam mempercepat pemanasan global.

2. Untuk memproduksi 1 ton kertas, dibutuhkan 3 ton kayu dan 98 ton bahan baku lainnya.

3. Harga air isi ulang, satu galon air minum isi ulang 19 liter dapat Kita beli dengan harga berkisar antara Rp. 9000,00 hingga Rp. 11.000,00. Dengan harga Rp. 11000,00 (harga maksimal) pergalon (19 liter) berarti per-ml harga air isi ulang hanya Rp. 0,58 (Rp. 11.000 : 19 liter : 1000 ml). Harga air isi ulang yang hanya Rp. 0,58 per-mililiter ini Kita asumsikan sebagai harga air minum. Dengan harga air yang Rp. 0,58 /ml berarti saat Kita membeli air minum dalam kemasan ukuran gelas (240 ml) seharga Rp. 500,00 air yang Kita minum hanya seharga Rp. 138,95. Selisihnya, Rp. 361,05 Kita gunakan untuk membeli kemasan gelasnya.

Saya yakin, setiap orang atau mungkin semua orang pada umumnya telah mengetahui bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh sampah. Tapi tak sedikit dari Mereka masih belum memiliki usaha atau sekedar niatan untuk mengurangi sampah Kita. Kita harus menyesal ketika harus menerima kantung plastik dari si penjual, memakan dengan nasi berbungkuskan kertas, atau membeli air mineral dengan botol plastik yang kesemuanya itu akan berakhir dengan sampah. Selain menyelamatkan lingkungan, Kita juga akan sedikit berhemat dalam keuangan.

Berikut tips berhemat ala pencinta lingkungan :

1. Membawa tas belanja atau keranjang yang tidak sekali pakai setiap kali akan berbelanja, dan menolak penjual memberikan plastik. Atau bagi penjual, menerapkan sistem penjualan tanpa plastik, dan menyuruh si pembeli memberikan uang tambahan jika meminta plastik.

2. Selalu membawa air minum isi ulang dari rumah sehingga tidak perlu membeli minuman air mineral di luar.

3. Ketika ingin membeli nasi, gorengan, atau jajanan apapun di luar, sediakan wadah makan sendiri dari rumah. Ini akan mengurangi sampah Anda.

4. Jika mengadakan acara seperti pesta pernikahan, seminar, dll hindari pemakaian air kemasan ataubungkus makanan dari kertas/plastik. Lebih baik gunakan sistem prasmanan dengan disediakan gelas dan piring. Dengan begitu acara Anda akan ramah lingkungan.


5. Jika semuanya sudah Anda lakukan, namun masih saja ada sampah di rumah, maka lakukan pemilahan sampah. Sediakan 3 tempat sampah di rumah Anda. satu untuk sampah plastik/botol, satu untuk sampah kertas, dan satu lagi untuk sampah residu (sampah yang tidak bisa didaur ulang).  Sampah plastik, botol atau kertas bisa Anda jual atau di daur ulang, sedangkan sampah residu di buang ke TPA lewat petugas sampah setempat. Untuk sampah-sampah dapur (makanan) dan dedaunan bisa Anda olah menjadi kompos. Ini  akan mengurangi jumlah sampah yang berakhir ke TPA

6. Sampah-sampah berbahaya seperti baterai (B3) dan sampah-sampah elektronik ada baiknya dipisahkan dan dijual ke pusat pengolahan B3 terdekat di Kota Anda.

7. Banyak sumber informasi bertebaran entah di internet maupun media massa. Anda bisa mencari informasi lain mengenai ini dengan mudah. Bisa juga sharing atau berbagi informasi dengan komunitas, atau teman-teman Anda.

Terimakasih, semoga bermanfaat :)

Friday, February 24, 2012

Sungai Bukan TPS dan Laut Bukan TPA - Pantai Timur Surabaya

Hal menyenangkan ketika Kita masih bisa menikmati pemandangan alam di Kota Surabaya, Kota yang terkenal panas karena banyaknya kendaraan dan pemukiman. Pemandangan alam tersebut dapat Kita jumpai di hutan mangrove dan di Pantai Timur Surabaya atau biasa disebut Pantai Kenjeran. Pantai Kenjeran memang sangat terkenal. Namun ketenaran tersebut tidaklah membuat warga Surabaya bangga bahkan ada saja yang tidak mengakuinya sebagai Pantai. Bagaimana tidak, pesisir yang masih menjadi sumber mata pencaharian para nelayan tersebut kini sudah dalam kondisi yang tidak bisa di toleransi. Kumuh, tercemar, keruh, dan kata-kata semacam itulah yang melekat sebagai image Pantai Kenjeran di mata pengunjung.

Kondisi Pantai Kenjeran yang membuat orang malas mengunjungi Pantai tersebut tanpa disadari merupakan ulah dari manusia sendiri. Pernah Saya berjalan-jalan di hutan mangrove, salah satu hutan yang tersisa di Surabaya, tepatnya terletak di pinggiran Pantai Timur Surabaya. Jika ada yang tidak tahu definisi hutan mangrove, ia adalah hutan yang vegetasinya berupa tumbuhan pantai yang mampu hidup di daerah pasang surut atau daerah berlumpur dan bersalinitas tinggi, hutan ini sebagai sabuk hijau di Pantai yang memiliki banyak fungsi ekologis terutama untuk mencegah abrasi laut. Kembali ke topik, ketika mengunjungi kawasan hutan mangrove, ada sedikit kekecewaan yang terlintas di pikiran Saya. Hutan yang merupakan tempat asuhan atau mencari makan dan berkembang biak bagi berbagi biota seperti kepiting, udang, kerang, dll itu berbau sangat menyengat dikarenakan banyaknya sampah yang menumpuk. Beberapa sampah plastik menyangkut di akar-akar mangrove tersebut dan ada pula sampah yang sudah rata dengan lumpur. Mereka yang tidak menahu mungkin bertanya-tanya, Siapa yang dengan tega membuang sampah di tempat ini? Apakah Mereka, warga yang tinggal di perkampungan sekitar hutan mangrove ini, atau Mereka pengunjung yang sering lewat di daerah ini? Eiits, jangan asal tuduh, Kita pikir dengan logika dahulu.

132894759174458657Hutan mangrove penuh sampah

Jumlah penduduk di Surabaya yang semakin padat menyebabkan konsumsi juga meningkat, sampah yang dihasilkan pun meningkat. Dari sekian banyak jumlah penduduk, hanya sedikit saja yang sadar dan tahu cara menjaga lingkungan. Mereka yang tidak sadar atau tidak tahu, membuang sampah seenaknya, di jalan-jalan atau di got depan rumah. Perhatikan saja di got-got atau kali Surabaya saat ini, Saya juga heran kenapa masih saja ada orang memancing ikan di got atau kali yang sangat kotor dan bau itu. Sampah dari got atau kali tersebut kemudian mengalir ke sungai dan terus bermuara ke laut. Selain itu, penduduk yang bermukim di pinggiran sungai, beberapa diantara mereka membuang sampah begitu saja ke sungai. Mereka menganggap air sungai mampu menghanyutkan begitu saja sampah mereka seperti melenyapkan sebuah masalah. Mereka tidak mengira masalah baru yang akan muncul disebabkan oleh ulahnya. Nah, sebelum sampai laut, sampah tersebut disaring oleh hutan mangrove yang letaknya dipinggiran pantai. Sebagian sampah tersebut masuk begitu saja ke laut dan sebagian lagi nyangkut di hutan mangrove. Sampah yang berhasil lolos ke laut bukan berarti golongan sampah yang hebat karena tidak membuat masalah. Lihat saja beberapa pemberitaan di internet, hewan-hewan laut yang terganggu kehidupannya akibat sampah-sampah tersebut. Padahal Kita harusnya sadar benar bahwa Sungai bukanlah tempat pembuangan sampah sementara dan laut bukanlah tempat pembuangan sampah akhir. Bagaimana jika kalian diposisikan seperti hewan laut tersebut? Bagaimana jika habitat atau rumah kalian dilempari oleh sampah-sampah dan memaksa anak kalian untuk memakan sampah-sampah itu?

13289479471517540112Sampah yang mencemari Laut Kenjeran

Tidak cukup hanya sampah padat yang memenuhi Pantai Timur Surabaya beserta lautnya. Beberapa industri yang tidak bertanggung jawab membuang limbah mereka di laut tanpa di olah terlebih dahulu. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kandungan logam berat di laut. Bahkan pada beberapa penelitian, kandungan logam berat tersebut juga mencemari gizi dari hewan-hewan laut yang menjadi santapan masyarakat Surabaya. Logam berat yang mulanya berasal dari limbah cair bercampur dengan air laut dan masuk dalam metabolisme hewan laut. Manusia membutuhkan hewan laut untuk pemenuhan gizi sehari-hari. Tanpa Mereka sadari hewan laut yang mereka makan telah mengandung logam berat. Logam berat tidak bisa tercerna dalam sistem metabolisme, sehingga logam berat tersebut akan tertimbun juga ke dalam tubuh manusia pemakan hewan laut itu. Setelah dalam jumlah tertentu akumulasi logam berat dalam tubuh bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit perut, hingga kanker yang menyebabkan kematian.

Kita warga yang tinggal di Surabaya seharusnya tidak diam saja bahkan mengolok-olok melihat fakta itu. Pantai, Sungai, Laut adalah salah satu alam ciptaan-Nya, di dalamnya terdapat banyak kehidupan, kehidupan yang juga diperuntukkan untuk Kita, untuk anak cucu Kita, maka janganlah pernah sekali-kali menghina Pantai Timur Surabaya, justru Kita harus memperbaiki dan melindunginya, demi kesejahteraan bersama. Kita harus bersyukur masih ada laut di Surabaya yang menghasilkan banyak ikan. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar Pantai Timur Surabaya bebas dari image buruk karena kondisinya yang tercemar itu? Perubahan itu harus ada, perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan Kita harus menjadi bagian dari perubahan itu. Kita harus mencari cara, mulai dari bagaimana cara menanamkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, bagaimana cara pemilahan dan pengolahan sampah yang benar, bagaimana cara mengurangi tingkat konsumsi yang menyebabkan sampah, mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap kurang benar atau tidak berjalan, mengkritisi ulah perusahaan yang kurang ramah terhadap lingkungan, bagaimana cara mensejahterakan masyarakat tanpa merusak lingkungan, dll. Jika Kita tidak bisa berbuat banyak, cukuplah dimulai dari diri sendiri, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan. Akhir kata, ada sebuah kalimat yang lumayan sering Saya dengar “Jika tidak bisa memperbaiki, maka janganlah Kalian merusak.” Tetap semangat berjuang untuk lingkungan dan untuk kesejahteraan masyarakat sekarang maupun masyarakat masa depan. Keep Smile :)