Tuesday, October 11, 2011

Cerita kepada Malam

Aku ingin bercerita,

Ceritakan kisah kepada malam yang kian larut..

Dialah yang setiap hari membawaku terlelap dalam mimpi indah..

Malam ini terasa hening, sehening prakara yg tak kunjung usai ini..

Dan aku sedang berfikir,

Memikirkan sesuatu yg tak pernah kutemui jalan keluarnya...

Aku senang, namun Aku juga sedih..

Aku sedih, namun Aku juga senang..

- Oktober, 2011

Friday, June 3, 2011

Kala Bimbang

Terlintas pertanyaan dalam diri
Haruskah diri ini diam dalam kedamaian
Ataukah memberontak dalam terjangan badai kehidupan
Menapis segala keterbatasan
Dan masih pantaskan aku untuk hidup dalam kebinasaan?

Sedang disatu pihak mengatasnamakan 'semangat'
Dengan segala keagungan terus membangkitkan gairahku
Sedang yang lain mengatasnamakan 'keputusasaan'
Dengan segala amarah terus mengombangambingku

Sementara aku hanya diam dipersimpangan
Menunggu waktu memutuskan, Jalan mana yang akan kupilih?

(Surabaya, 2011)

Sunday, April 10, 2011

Berkenalan dengan Batuan Cadas di Lembah Kera

Lembah Kera terletak di Dusun Dempok, Gampingan Kab. Malang, Jawa Timur. Tempat ini merupakan tempat favorit bagi pemanjat untuk menguji keahliannya dalam menaklukkan ketinggian tebing. Aku pun tertarik untuk mencobanya, berkenalan dengan batuan cadas di tebing itu setelah sebelumnya Aku sama sekali belum pernah merasakan pemanjatan di tebing. Biasanya Aku hanya memanjat dinding di kampusku.
  
Perjalanan menuju Lembah Kera Aku berangkat bersama teman-teman seperjuanganku, Kami akan mengukur kemampuan masing-masing di tebing itu. Untuk mencapai tebing, Kami harus berjalan sekitar setengah jam lebih dari sebuah gang kecil di pedesaan. Kami berangkat dengan jalan kaki, sementara motor dititipkan di pos pemanjat.
    
Persiapan dan Pemanasan sebelum memanjat tebing Sesampainya di lokasi pemanjatan, kami memasang tenda untuk bermalam dan meletakkan barang bawaan. Kami segera bersiap-siap dan melakukan pemanasan untuk melemaskan otot-otot. Ini baru pertama kalinya Aku akan memanjat tebing.

Salah satu jalur pemanjatan

Di Lembah Kera ini terdapat beberapa jalur pemanjatan berdasarkan tingkat kesulitannya. Jalur ini dibuat oleh FPTI JATIM, sebuah forum panjat se-Indonesia. Jalur-jalur itu diberi nama yang agak menggelitik bagiku. Berikut beberapa nama jalur panjat di Lembah Kera, Pipa, Blood Stone, Gong Setan, No Cry, No Women, No Marcy, dll.
Mencengkeram bebatuan di tebing Lembah Kera

Setelah pemanasan, kami mulai memanjat secara bergantian. Ada Mas Ijank dan Mas Brainca yang sudah mahir dalam hal pemanjatan diantara kami. Ada juga Febri, dia pemula namun lumayan mahir dan bisa menaklukkan tebing itu. Ana Yuni dan Sari, dia cukup kuat dan mampu mengangkat badannya hingga ketinggian beberapa meter.

Namun Aku dan teman-teman yang lain, sama sekali tidak dapat mengangkat badan satu meter pun. Aku sudah siap dengan segala pengaman lalu berseru "Belay ON". "ON Belay!!" Mas Ijank menjawabku pertanda ia sudah siap mengendalikan tali pengamanku, pertanda Aku bisa segera memanjat. Namun kakiku tetap menginjak tanah, itu berlanjut selama beberapa menit. Aku menyerah. Sungguh berat rasanya.

Dibandingkan dengan tebing dengan batu-batu cadasnya, ternyata panjat dinding dengan poinpoin pengganti batu cadas tidak ada apa-apanya. Alhasil, Aku hanya dapat memanjat jalur yang dinamai "Ibu-ibu PKK" karena tingkat kesulitannya yang rendah dan mudah dipanjat bahkan tanpa pengaman :).

Tapi kalian tidak usah takut. Karena banyak teman-teman pemanjat lain yang super canggih mampu memanjat hingga top. Aku memang payah, Aku tak ahli dalam bidang panjat tebing, namun Aku pasti ahli dibidang yang lain :).

Sedang bilay pemanjatan

Monday, February 28, 2011

Menyusuri Pantai Menapaki Bukit, Meru Betiri


            Hal yang biasa dilakukan oleh para pecinta alam. Namun ini pertamakalinya bagiku, juga bagi kami. Menyusuri pantai mulai dari Pantai Bandealit-Jember hingga Pantai Sukamade-Banyuwangi. Butuh waktu minimal tiga hari untuk menempuh perjalanan itu. Selama tiga hari itu kami terus melangkah, menyusuri pantai, menapaki bukit di Taman Nasional Meru Betiri.

Bandealit

            Hari pertama, sebuah truk mengantarkan kami melewati jalan makadam (berbatu) yang cukup mengocok perut sampai mual. Kami menikmati guncangan truk dengan berpegangan tiang-tiang penyangga ataupun sisi-sisi truk agar tidak terjatuh. Sungguh pemandangan di depan mata adalah pohon-pohon yang masih rindang, kokoh, dengan ukuran begitu besar pertanda umur pohon ini sudah tua. Sesekali Kami melihat sekelompok Budeng (Trachypithecus auratus) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) bergelantungan di atas pohon.

Menyeberangi sungai

            Kami terdiri dari 29 orang anggota PLH Siklus ITS, sebuah organisasi pencinta lingkungan hidup di kampus ITS Surabaya. Hari pertama tiba di Bandealit, kami belajar melakukan analisis vegetasi, bird watching (pengamatan burung), dan analisis sosial masyarakat. Pantai Bandealit ombaknya bergulung-gulung sangat besar dan tinggi, ini karena pantai-pantai di sepanjang Taman Nasional Meru Betiri termasuk wilayah pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang tinggi.
            Kami bersiap untuk menuju pantai selanjutnya, Pantai Meru Barat dan Pantai Meru Timur. Karena lokasi setiap pantai dibatasi oleh tebing dan bukit, maka untuk dapat menginjakkan kaki di pantai-pantai itu kami harus mendaki bukit terlebih dahulu. Perjalanan lumayan melelahkan, ditambah lagi sebagian besar kami berjenis kelamin perempuan. Meskipun ada juga perempuan jadi-jadian alias tomboy abis, hehe. Sebelumnya, sempat ada ketakutan dalam diriku jika saat menembus bukit dan hutan nanti kami akan menemui hewan buas. Hal ini mungkin saja terjadi karena di Taman Nasional ini masih terdapat berbagai populasi fauna langka yang dlindungi.
            Beberapa diantara kami sempat ngedrop. Akibatnya, perjalanan pun berlangsung sangat lama. Hingga hari semakin gelap, kami baru nyampai di Pantai Meru Barat. Daerah ini terlalu sempit untuk mendirikan tenda sehingga kami menuju Pantai Meru Timur. Kami harus melewati pantai yang jaraknya agak jauh. Kami agak panik, sebentar lagi waktunya pasang, dan ombak semakin lama semakin mendekat. Beberapa kali kami terjatuh karena gulungan ombak. Suasana tegang, kami terus mempercepat langkah kami dan mencari jalan menjauhi air laut. Kami semua sangat khawatir dan terus berdo’a agar kami diberi keselamatan sampai akhir perjalanan.
Pantai Meru Timur

            Satu jam kemudian, akhirnya sampai juga kami di Pantai Meru Timur. Sebagian langsung tertidur beralaskan pasir pantai saking kelelahannya, sementara yang lain memasak dan memasang tenda. Udara disini jauh dari yang aku bayangkan. Sama sekali tidak dingin. Malam itu aku menghabiskan waktu dengan tidur di atas matras beratapkan langit yang sedang menampakkan bulannya. Tenda-tenda yang kami bawa dan kami pasang nyaris kosong karena banyak yang memilih untuk tidur di luar tenda.

Menyeberangi muara menuju bukit

            Setelah puas beristirahat semalaman kami segera melanjutkan perjalanan menuju Teluk Permisan. Kembali mendaki, kembali melewati bukit yang curam atau menanjak. Ketika sore mulai datang, Teluk Permisan Barat mulai terlihat, kami senang bukan kepayang. Tapi setelah tahu bahwa kami harus mendaki melewati satu bukit lagi untuk sampai dan mendirikan tenda di Teluk Permisan Timur, kami langsung lemas. Mau tak mau kami mendaki lagi, menaiki bukit kemudian menuruninya, melewati sungai dan pantai, akhirnya sampai juga kami bermalam disana. Beberapa diantara kami sempat terkena gigitan tawon saat memegang pohon menuruni bukit.

Teluk Permisan


            Hari terakhir kami melanjutkan perjalanan menuju pantai terakhir, Pantai Sukamade. Kembali lagi mendaki bukit, bukit yang cukup menanjak, dengan medan yang licin karena hujan. Berkali-kali kami terpeleset namun bangun kembali dengan beberapa noda di pakaian. Selama perjalanan, kami tidak menemukan satu ekor pun binatang buas atau binatang langka. Namun kami berhasil menemukan jejak kaki yang diperkirakan adalah jejak kaki Babi hutan.

                                                                                       Pantai Sukamade

            Akhirnya sampai di Pantai Sukamade. Pantai ini paling luas diantara pantai-pantai lain di Taman Nasional Meru Betiri. Mungkin ini salah satu alasan para Penyu suka bertelur di pasirnya.

Konservasi penyu


            Sewaktu istirahat di Pantai Sukamade sambil menunggu jemputan truk, aku dan teman-teman sempat berjalan-jalan di kebun sekitar, melihat merak, memanen buah cokelat dan buah kelapa dari pohonnya, dan juga memanen pakis untuk di masak. Saat malam tiba, kami juga sempat melihat penyu bertelur ditemani petugas TNMB. Menyenangkan.


Memanen (baca:buah kelapa

            Aku  dan Aun juga sempat berkejar-kejaran dengan kucing milik anak kecil (aku lupa namanya) yang tinggal di Sukamade. Bukan karena kami menikmati kegiatan itu, tapi karena kami takut kucing. Hal ini menjadi hiburan bagi anak kecil itu dan teman-teman kami. Anak kecil itu di dekat penangkaran penyu bersama ibunya. Disana hanya ada dua rumah dan beberapa kamar mandi, sedangkan beberapa anak kecil lain dapat ditemui di perkebunan yang lokasinya agak jauh. Untuk penerangan sudah digunakan tata surya. Tidak ada anak kecil lain yang tinggal disini, sehingga dia lebih sering bermain dengan kucing dan monyet-monyet di Sukamade yang suka mengambil makanan pengunjung.

Bercumbu dengan Penyu di Pantai Sukamade


Pantai Sukamade, Pantai yang terletak di Banyuwangi ini cukup luas dan menjadi tempat favorit Penyu untuk bertelur. Terdapat daerah penangkaran Penyu disekitar ini. Tujuan penangkaran ini adalah untuk melindungi telur Penyu dari pemangsa di pantai. Sebelum melihat telur yang sedang bertelur, kita harus membaca papan peringatan terlebih dahulu. Kita akan dipandu petugas dari penangkaran saat ingin melihat Penyu bertelur. Penyu biasanya bertelur pada musimnya yaitu pada bulan Nopember-Maret.


Papan peringatan

Malam hari sekitar pukul 20.00 WIB hujan tak kunjung berhenti. Aku sangat khawatir, jika cuaca seperti ini terus rencana berpetualang ke pantai malam ini untuk melihat penyu akan batal. Namun waktu masih berpihak kepada kami, tak lama kemudian petugas dari pihak penangkaran penyu akan berangkat ke pantai untuk mengambil telur penyu. Mereka mengajak rombonganku untuk berangkat bersama. Petugas biasanya mengambil telur penyu dua kloter dalam sehari, aku agak lupa jam berapa saja biasanya petugas berangkat untuk mengambil penyu. Kalau tidak salah, kloter pertama sekitar pukul 22.00 WIB dan kloter kedua sekitar pukul 02.00 WIB.

Kami berjalan melewati setapak menuju Pantai Sukamade. Setelah mendekati Pantai, petugas memberi isyarat kepada kami untuk tidak mengeluarkan suara gaduh serta mematikan cahaya lampu senter. Kami terus berjalan ke arah pantai dalam suasana gelap, hening. Sesampainya di pantai, kami menikmati malam dalam dingin dengan sentuhan pasir pantai, sambil menunggu isyarat dari petugas. Masih dalam gelap dan hening.

Beberapa saat kemudian, secercah cahaya menjadi isyarat bahwa ini saatnya kami memulai langkah, menuju arah cahaya. Seorang petugas menyalakan lampu senter menandakan bahwa sekarang ia sedang bersama Penyu yang sedang bertelur dan kami diperbolehkan untuk melihatnya. Sebelum Penyu bertelur, kita dilarang menyalakan cahaya dan bersuara karena dapat mengurungkan niat Penyu untuk bertelur. Namun setelah Penyu bertelur, meskipun melihat cahaya, ia tidak akan menghentikan aktivitas bertelurnya hingga tuntas. Namun tetap saja, kami hanya berani menyalakan lampu senter dan kamera di belakang Penyu.

 Penyu bertelur                     Cipratan Pasir dari Penyu

Petugas mengambil telur Penyu

Sekali bertelur, Penyu menghasilkan kurang lebih 200 telur berwarna putih sebulat dan seukuran bola pimpong. Telur-telur ini diambil oleh petugas untuk dipindahkan ke tempat penangkaran. Bisa dibayangkan berapa dalam lubang yang harus dibuat untuk menyimpan telur-telur ini. Dari sekian ratus telur yang dihasilkan oleh Penyu ini, hanya sekitar 20% saja yang bisa menetas menjadi tukik. Setelah tukik siap hidup di alam bebas, ia dilepaskan ke lautan lepas.

Petugas menandai dan mengukur Penyu

Ketika ada Penyu baru yang bertelur di Pantai tersebut, petugas langsung menembakkan tanda dan mengukur Penyu tersebut kemudian mencatatnya. Jenis Penyu yang terdapat di perairan ini antaralain Penyu hijau, Penyu sisik, dan Penyu belimbing, namun yang paling banyak ditemui adalah Penyu hijau. Penyu yang selesai mengeluarkan telur dan menutup telurnya dengan pasir segera berjalan pelan kembali ke laut. Penyu itu meninggalkan jejak berupa garis lurus dab berlekuk di sepanjang perjalanannya. Jejak inilah yang menjadi pertanda bagi petugas untuk mengambil telur.

Selamat jalan penyu, suatu saat nanti Kami akan mengunjungimu lagi .

Monday, January 3, 2011

Menikmati Kembang Api Kota dari Puncak Bayangan, Pananggungan

                 

                  Pananggungan, Gunung ini terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur sekitar 25 km dari Surabaya dengan ketinggian 1.653 mdpl. Untuk menempuhnya tidak butuh waktu banyak, sehari atau dua hari saja cukup. Itu yang membuat kami memilih Pegunungan tersebut untuk menghabiskan malam Tahun Baru 2011. Melihat kembang api kota dari puncak gunung tentu memiliki sensasi tersendiri karena aku belum pernah mengalaminya.
                Kami bersepuluh orang berangkat dari Surabaya sore hari. Malam hari sesampainya di Mojokerto kami langsung parkir motor dan tancap gas menyusuri hutan, mendaki setapak Pananggungan. Tidak satupun diantara kami pernah kesini sebelumnya, maka kami menyusuri arah setapak jalan hanya berdasar logika dan intuisi. Ini yang menyebabkan sedikit masalah, kami sempat tersesat selama kurang lebih setengah jam. Jalan setapak di Pananggungan cukup menanjak. Jika Kalian ingin melakukan pendakian di Gunung ini, harus menyiapkan air secukupnya karena di gunung ini tidak ada kali atau sungai.
                Kami terus melangkah mengejar waktu agar tidak kehilangan moment kembang api yang tepat menyala pukul 00.00 WIB. Namun, harapan kami sempat hilang karena kabut tebal menghalangi pandangan. Kerlap-kerlip lampu kota yang semula terlihat indah sama sekali tak terlihat lagi. Kami lanjutkan saja mendaki agar cepat sampai ke tempat camping untuk beristirahat dan membuat makanan hangat. Tepat tengah malam kami sampai di Puncak bayangan Pananggungan, disini sudah ramai para pendaki mendirikan tenda. Kami memutuskan untuk bermalam disini. Angin disini sangat kencang, udaranya pun tak kalah dingin. Kami memasang tenda dengan sekuat tenaga karena angin membuat tenda kami berkibar-kibar.
                Tiba-tiba saja terdengar seperti suara petasan dan ledakan kembang api yang menyalakan warna merahnya. Kami lumayan terhibur, meskipun kembang api di kota tak terlihat karena kabut, ternyata para pendaki lain membawa kembang api dan menyalakannya di Puncak bayangan. Kembang apinya tak seindah kembang api di kota, namun keramaian dan canda tawa para pendaki di Puncak bayangan itu cukuplah menghibur kami.
                Sebenarnya Aku agak kecewa karena ternyata suasana puncak bayangan itu tak seperti yang kubayangkan. Sebelumnya tujuanku ikut mendaki ke Puncak itu adalah untuk mencari kedamaian, hanya ada kami dan alam. Namun ternyata suasana Puncak sangat ramai, pertama kami memasuki daerah penuh tenda itu terdengar suara lagu dangdut terlantun lewat radio. Tapi ternyata mereka seru-seru, jadi tak apalah bagiku menikmati alam beramai-ramai juga lumayan menyenangkan.
                Saat asik memasang tenda diiringi suara kembang api tiba-tiba saja kabut menghilang. Subhanallah, akhirnya aku benar-benar melihat kemilau kembang api menyatu dengan cahaya lampu kota. Kecil tapi luas dan begitu indah. Tidak rugi perjalanan yang kami lalui tadi. Sayang, kami tidak membawa kamera yang bagus untuk menangkap pemandangan itu.
                Keasyikan menikmati pemandangan kembang api, aku ditinggalkan memegangi tenda yang sedang berkibar-kibar sendirian. Kami terus memandang ke arah kota. Terkadang kabut datang lagi menghalangi pandangan, kemudian pergi lagi, berpindah-pindah tempat, begitu seterusnya. Angin masih saja bertiup kencang membuat kami kedinginan. Setelah kembang api mulai tak menampakkan kemilaunya lagi kami mulai benar-benar serius memasang tenda dan membuat makanan hangat.
                DOORR!! Tiba-tiba kompor satu-satunya yang kami bawa meletus padahal kami belum selesai memasak. Kami hanya selesai memasak mie. Byuuur!!! Tiba-tiba hujan pun turun dengan kencang. Kami langsung membereskan perlengkapan yang tercecer dan masuk ke dalam tenda, menghangatkan badan dan makan seadanya. Sungguh sial perjalanan kali ini, gara-gara kompor meletus bahan bakar kami habis. Makan apa kami besok?
                Hujan reda, sekitar pukul 03.00 WIB senior kami bersama calon suaminya datang dan membawa kue tart. Sungguh kami senang luar biasa karena kami sudah benar-benar kelaparan, hehe. Sosweet sekali seniorku itu. Dia perempuan dan ini pertama kalinya ia mengajak calon suaminya itu untuk naik gunung, merayakan ulang tahunnya. Setelah api ditiup, kami mengucapkan selamat dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk calon suami seniorku itu. Kami berkenalan kemudian makan bersama dan berfoto ria.
                Pukul 05.00 WIB Seniorku dan calon suaminya turun duluan meninggalkan kami. Kami sendiri masih enak tidur di tenda. Aku mendengar lantunan suara Adzan Subuh dan sekelompok pendaki sedang sholat berjama’ah. Suaranya sangat merdu membuat hatiku luluh. Aku sama sekali tidak menyangka masih ada orang menyempatkan sholat berjama’ah dalam kondisi sedingin ini. Hatiku sangat tentram mendengarnya.
                Setelah mata kami sudah benar-benar terbuka, kami berniat untuk memasak. Bahan bakar sudah habis, akhirnya kami memberanikan diri untuk meminta bahan bakar pendaki lain. Kami memasak bareng pendaki lain tersebut. Untunglah, kami sangat berterimakasih kepada mereka. Tanpa bantuan mereka, apa jadinya nasib kami. Kelaparan tentunya. Mereka pendaki dari Mojosari, terdiri empat orang. Sudah dua hari mereka bermalam disini menantikan badai berhenti. Tujuan mereka ke Puncak Sejati Pananggungan namun badai tak pernah berhenti sehingga perjalanan tak bisa dilanjutkan. Aku pun sedikit kecewa karena tak bisa melanjutkan perjalanan ke Puncak sejati, tapi ya sudahlah lain kali kesana lagi juga bisa. Lagi pula kami telah terpuaskan dengan pemandangan kembang api tadi malam. Kami semua pendaki, hari ini memutuskan untuk turun dan tak ada yang muncak.
                Memasak belum selesai angin kencang dan hujan lebat datang lagi. Kami memasak di bawah tenda kemudian makan beramai-ramai. Setelah itu kami membereskan perlengkapan dan segera packing. Kami memakai jas hujan untuk melindungi diri dari basahnya hujan yang deras, namun dinginnya tetap menembus tulang. Aku berjingkrak-jingkrak berusaha menghilangkan dingin. Akhirnya perjalanan kami akhiri. Badai itu, meskipun menakutkan, namun menambah sensasi dalam pendakian ini. Ini pertama kalinya Aku merasakan badai ketika di Gunung.

Saturday, July 24, 2010

Berbagi dalam Kebersamaan, Bandealit


            Pertama kali aku mengunjungi Pantai Bandealit adalah ketika sedang mengikuti Latihan Gabungan Konservasi Organisasi Pecinta Alam Se-JATIM tahun 2010 lalu. Latihan Gabungan ini sendiri dilaksanakan selama lima hari, tiga hari di UNEJ untuk materi ruang dan dua hari di Pantai Bandealit – Taman Nasional Meru Betiri untuk praktik di lapangan. Kami berempat memberanikan diri berangkat ke kota yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, Kota Jember demi mendapatkan ilmu konservasi.



            Dua hari kami mengikuti materi di UNEJ, acara berjalan biasa saja. Waktu membuat kami semua peserta dan beberapa panitia saling mengenal satu sama lain. Tiba hari keempat, truk menjemput kami untuk mengantarkan kami ke Pantai Bandealit. Selama perjalanan ke Bandealit, kami semua peserta semakin akrab, bercanda ria selama perjalanan.





            Di Bandealit, kami menginap di dekat Pantai. Kami belajar analisis vegetasi, pengamatan burung, dan analisis kualitas air disana. Kami juga melakukan analisis sosial penduduk Desa Bandealit. Malam harinya ketika acara bebas, kami membuat api unggun dan mengobrol bersama hingga larut. Ditemani semilir angin dan suara ombak laut.
            Di daerah Taman Nasional Meru Betiri tersebut, kami dapat menemui bermacam-macam burung yang sudah langka, seperti elang jawa, rangkok, cangak, dll. Satwa langka juga dapat ditemui pada waktu dan tempat tertentu. Konon terdapat penangkaran Rusa di sekitar Bandealit, namun Rusa tersebut sudah masuk ke hutan. Terdapat satu Rusa yang masih sering berkeliaran di Bandealit, Rusa tersebut sudah jinak dan sangat cerdik. Sayang, selama beberapa hari di Bandealit kami tidak menemuinya.

            Pada saat pengamatan burung, menyusuri muara, pantai, hingga hutan, Kami sempat menemui jejak kaki rusa dan kucing hutan. Kami juga menemui kera-kera sedang berkejaran bergelantungan di atas pohon. Kami juga sempat menemui Banteng soliter di dekat kamar mandi. Untung Banteng tersebut tidak menyerang Kami.


            Sore hari pada perjalanan sepulang praktik analisis kualitas air, kami melewati perkebunan yang letaknya sebelum rumah penduduk Bandealit. Kami ditemani Pak Celeng yang merupakan anggota Tagana atau Taruna Siaga Bencana. Sepanjang perjalanan beliau bercerita banyak mulai dari pengalamannya di hutan hingga masalah macan jawa yang katanya punah. Dipertengahan jalan, beliau mengajak kami untuk melihat rombongan Banteng.



            Rombongan Banteng itu muncul di daerah perkebunan setiap sore untuk mencari makan. Kami semakin mendekat untuk mengamati banteng itu dan mendapatkan fotonya. Sungguh senangnya melihat satwa-satwa langka ini langsung di alamnya. Banteng betina berwarna cokelat sedangkan yang jantan berwarna hitam. Dari Pak Celeng, aku baru tahu bahwa ternyata Banteng soliter (sendiri) lebih berbahaya daripada koloni Banteng. Ini dikarenakan Banteng soliter biasanya adalah Banteng yang dikucilkan atau diusir dari kelompoknya. Setelah puas mengamati Banteng itu, kami melanjutkan perjalanan kembali ke tenda.


            Kami berempat sempat mencuri-curi waktu di tengah acara untuk berpetualang mengelilingi Pantai Bandealit. Maklum, baru pertama ini kami ke tempat ini, sementara yang lain sudah berkali-kali. Kami menyusuri pantai menuju daerah estuaria atau muara sungai untuk sekedar berfoto-foto. Bahkan berkali-kali panitia menegur kami pada saat kepergok foto-foto di pinggir pantai. Ombak di pantai itu memang tinggi, dan menunjukkan gejala akan adanya pasang. Kami bahkan sempat terjebak air laut ketika diam-diam pergi ke muara. Dan ternyata muaranya banjir karena tambahan volume air laut. Akhirnya kami mencari jalan pintas untuk kembali ke tenda tanpa sempat berfoto.

            Hari kedua, kami meninggalkan Bandealit menuju UNEJ. Di UNEJ, kami melanjutkan materi dan mengolah data pengamatan yang didapat dari Bandealit. Setelah acara selesai, kami berempat dari Surabaya tidak langsung pulang. Kami dan peserta lain mengunjungi Mapala yang ada di UNEJ serta Poltek Jember. Saking banyaknya Mapala disana, sehari berputar di UNEJ untuk mengunjungi Mapala-mapala disana tidak cukup. Selain menambah ilmu mengenai konservasi, disana kami juga menemukan kehangatan baru Keluarga Mapala Se-JATIM. Salam Lestari!

 

Thursday, July 1, 2010

Serunya Menjelajah Hutan dengan Navigasi Darat


                Biasanya aku bersama teman-teman mendaki gunung dengan melewati jalur yang telah ada. Ilmu Navigasi darat hanya diperlukan pada saat-saat tertentu saja, misalkan ketika tersesat. Namun kali ini Aku bersama Team yang terdiri dari sembilan orang melakukan pendakian dengan melewati jalur yang berbeda. Kami harus mempelajari peta tempat yang akan kami lalui terlebih dahulu, menentukan titik-titik koordinat yang akan kami lalui, menentukan sudut-sudut belok, dll. Dan akhirnya perjalanan itu pun tiba. Disaat kami melewati jalan yang belum kami ketahui sebelumnya dan tanpa seorang pendaki atau penduduk pun bisa kami temui. Sepanjang perjalanan kami penuh dengan kejutan oleh pemandangan yang menakjubkan dan pengalaman seru.
        Sayup-sayup terdengar lagu dari ponsel yang waktu itu masih bisa dinyalakan. “Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya, hakikat manusia.” Lagu ini tak asing lagi bagi kami, para pemuda – pemudi yang hobi naik gunung dan kegiatan alam bebas lain. Lagu yang dinyanyikan Erros SO7 feat Okta sebagai soundtrack film Gie menemani makan malam kami di tempat gelap nan rindang ini.
        “Akan aku telusuri jalan yg setapak ini semoga kutemukan jawaban, jawaban, jawaban,  oh oh oh.” Ya, kami sembilan rombongan mahasiswa dari Surabaya sedang melakukan perjalanan di tempat yang tidak kami ketahui sebelumnya, di daerah yang tak terjamah manusia, hanya berbekal nyali. Kami bersembilan menghabiskan malam, beralaskan bumi dan beratapkan langit, dengan penerangan cahaya bulan dan bintang secukupnya.
        Ups, ralat!! berbekal nyali saja tidak cukup untuk melakukan perjalanan di alam bebas, terutama di hutan dan pegunungan. Banyak bekal yang harus dipersiapkan untuk menghindari kecelakaan karena human error, perlu ilmu khusus untuk mempelajarinya, yaitu Teknik Hidup Alam Bebas serta Ilmu Medan dan Membaca Peta atau dikenal juga dengan istilah Navigasi Darat.
        Dua bulan sebelum keberangkatan, kami telah melakukan persiapan, mempelajari materi dan latihan fisik secara rutin dua kali dalam satu minggu. Tentu saja latihan ini tidak berjalan begitu saja dengan mulus. Banyak rintangan mulai dari rasa lelah, bosan, padatnya tugas kuliah, dll. Berbekal keinginan kuat untuk bisa meraih ambisi, akhirnya kami berusaha melawan rintangan tersebut, berusaha mengatur waktu sebaiknya, dan berusaha memperkuat kekompakan satu team dengan saling menyemangati.
                                    Menuju titik start (Gunung Pundak)                               Membaca peta topografi

        Kami memulai perjalanan dengan titik start di sekitar Gunung Pundak. Puncaknya terdiri dari pepohonan yang lebat namun terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Disanalah kami bermalam dan mengumpulkan sejumlah tenaga. Kami memulai perjalanan dengan menggunakan dua senjata andalan kami, peta dan kompas.

Memasak di puncak Pundak

        Kami mulai dengan menentukan titik-titik koordinat, menentukan sudut-sudut perjalanan, menembak sudut menggunakan kompas, kemudian mulai melangkah selangkah demi selangkah mengikuti arah jarukm kompas. Kami belum pernah melewati jalan-jalan itu sebelumnya, bahkan tidak ada pendaki lain yang kami temui sepanjang perjalanan. Namun kami yakin, dengan ilmu navigasi darat yang telah kami pelajari, kami akan selamat sampai tujuan.
        Terdapat motto yang harus dipatuhi dalam setiap perjalanan, yaitu “Dilarang mengambil sesuatu selain foto, dilarang meninggalkan sesuatu selain jejak, dan dilarang membunuh sesuatu selain waktu”. Tentu saja kami mematuhi aturan itu agar alam tetap lestari. Kami membuka jalur baru, bukan berarti kami menebang pohon-pohon yang kami lewati, karena kami punya etika. Kami hanya membuka jalur sementara, bukan permanen. Kami juga membawa turun kembali sampah-sampah yang kami hasilkan selama beraktifitas di hutan.

Membidik dari atas batu besar

        Medan yang kami temui pertama kali adalah barisan alang-alang di sebuah bukit dan lembah yang memisahkan kami dari bukit di seberang. Terkadang kabut menghalangi pandangan, namun kami terus bersabar hingga kabut tipis itu perlahan hilang. Kami sangat lega setelah sampai di bukit seberang, namun perjalanan belum usai, kami harus menyeberang lagi, dan lagi. Sepenjang hari yang kami lakukan adalah terus membidik dan melangkah, berjumpa dengan berbagai hal baru dan pemandangan baru, mulai dari bebatuan yang amat besar menambah keindahan bukit itu, serta lumut kerak yang tumbuh tanpa gangguan polusi udara. Sungguh nikmat rasanya.
          
                Puncak Pringgodani                        Background Gunung Pananggungan

         Perjalanan yang akan kami tempuh selanjutnya adalah Gunung Pringgodani. Sebuah bukit yang bervegetasi alang-alang dan pohon cemara yang hampir kering dan roboh karena teriknya matahari. Kami agak panik dan sedikit takut. Angin di puncak ini sangat kencang, hawanya pun sangat dingin, sementara kami harus bermalam disini. Secepat mungkin kami mendirikan tenda sambil melawan angin yang mengibas-ibaskan segala perlengkapan yang kami bawa. Sebagian lagi menyiapkan makan malam dan minuman hangat.
         Setelah kenyang menyantap makanan ala kadarnya, kami bergegas untuk beristirahat dan menghangatkan badan di tenda. Betapa ini malam yang membuatku tidak bisa tidur karena imajinasiku terus melayang. Aku ketakutan, angin kencang membuat tenda kami bergoyang. Aku sungguh takut kalau-kalau pohon cemara itu roboh dan menimpa tenda kami. Aku sungguh takut kalau-kalau angin malam itu berhasil membawa terbang tenda kami. Alhamdulillah kekhawatiranku tidak terjadi. Tenda kami masih utuh, dan kami masih bisa bernafas dan sarapan pagi keesokan harinya.
Memasak bersama di Puncak Pringgodani

        Masalah timbul lagi, persediaan air kami menipis dan kami memutuskan untuk sehemat mungkin menggunakan air sampai menemukan sumber air berikutnya. Untunglah tak lama kemudian beberapa dari kami pergi dan berhasil membawa berliter-liter air. Terdapat tandon air di sekitar tempat ini rupanya. Kami bersiap melanjutkan perjalanan dengan hati tenang setelah sebelumnya kami melakukan pengamatan burung dan mendapati sejumlah burung yang Aku sendiri agak lupa apa saja jenis spesiesnya.
         Yang paling Aku ingat adalah elang jawa yang sedang terbang menjulang, walet yang terbang dengan terseok-seok, sejenis burung emprit, dll. Bagi kalian yang hobi bird watching, lokasi di daerah sekitar hutan Mojokerto, Trawas ini cocok sebagai rekomendasi tempat indah dan mudah didaki dengan keanekaragaman burung yang belum banyak diteliti.
  Analisis Vegetasi                                              Beraktivitas di atas bebatuan 

         Lokasi tujuan kami selanjutnya adalah G. Seloungkal yang merupakan titik finish perjalanan kami. Kami terus mendaki di daerah dengan kelandaian yang lumayan agak miring atau curam dengan vegetasi alang-alang dan bebatuan. Kami kesulitan menemukan tempat untuk bermalam hingga akhirnya kami bermalam di daerah dengan pepohonan yang hampir roboh beralaskan tanah yang tidak rata karena terdapat bebatuan di atasnya. Beruntung angin tidak begitu kencang sehingga kami agak tenang. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan dengan memasuki hutan yang lumayan lebat. Kami melakukan analisis vegetasi dan pengamatan burung (bird watching) disana.
                               
        Camping di atas ilalang 1900 mdpl             Menyatu dengan indahnya alam

Background G. Pananggungan

         Lokasi penjelajahan kami hanya berupa barisan bukit dan lembah dengan ketinggian maksimal yang kita daki sekitar 1900 mdpl. Ternyata ketinggian tersebut cukup membuat kami kedinginan dan terbuai dengan keindahan ilalang dengan background Gunung Pananggungan dan lampu kota. Tidak hanya itu, setiap hari kami dikejutkan dengan pemandangan alam baru yang amat menakjubkan. Subhanallah Kami sangat beruntung bisa melihat dan menikmati keindahan tersebut. Sesekali kami membuat api unggun dan mengobrol sampai larut sambil memandang bintang di langit. Bintang-bintang itu terasa lebih dekat untuk kami raih. Kami terus berbincang hingga malam semakin larut, dan waktu membuat kami terlelap.
         Meskipun sangat menikmati perjalanan ini, sebenarnya kami merasa agak cemas. Hari ini seharusnya kami telah mencapai titik finish. “Pasti teman-teman di Surabaya mencemaskan kita” pikir kami. Sebisa mungkin kami mencoba tetap tenang. Kami memperhitungkan persediaan makanan yang masih tersisa dan berhemat sebisa mungkin. Kami agak cemas kalau-kalau ternyata jalur perjalanan kami salah alias nyasar. Namun kami terus meyakinkan diri dengan terus mengikuti arah bidikan kompas.
                      Menentukan arah dengan bidikan kompas                     
       
            Setelah enam hari berada di hutan, akhirnya hari itu tiba. Meskipun hidup di hutan yang jauh dari keramaian adalah hal menyenangkan bagi kami, namun kehidupan di kota membuat kami rindu. Rindu akan orang-orang yang kami sayangi, rindu makanan enak dan kasur yang empuk. Ini tidak bisa dipungkiri, oleh siapapun. Akhirnya kami mendekati titik finish. Sebelum mencapai puncak Seloungkal, kami melewati lembah dengan vegetasi alang-alang dan beberapa pepohonan dengan tekstur khas.
Sebelum puncak Seloungkal                           Beristirahat diantara alang-alang

          Matahari senja yang memantulkan cahaya jingga menambah keindahannya. “Subhanallah, apakah ada tempat seindah ini selain syurga?” batinku dalam hati. Aku tidak menyangka masih ada tempat indah di dunia ini yang tak terjamah. Kami beristirahat sejenak melepas dahaga sambil menikmati keindahan lembah itu. Aku yakin, tempat ini sangat jarang dikunjungi bahkan oleh penduduk. Terlihat dari setapaknya yang sudah agak menghilang dan ditumbuhi rumput liar.

Menuju Seloungkal                       Setapak turun dari   Seloungkal       

           Kami agak kesulitan menemukan jalan menuju Gunung Seloungkal, namun karena kesabaran dan kegigihan akhirnya tempat itu berhasil kami temukan. Kami berfoto ria sebentar di puncaknya kemudian segera turun menjauhi tempat itu. Kami lega setelah menemukan keramaian kembali. Kembali bertemu dan bersosialisasi dengan penduduk lain. Meskipun kami senang telah kembali berada di antara keramaian penduduk, kami akan sangat merindukan saat-saat berkenalan dengan alam, saat-saat pendekatan dengan alam.
            Perjalanan ini sebenarnya bukan benar-benar perjalanan yang kami impikan. Ini hanyalah latihan sebelum kami melakukan perjalanan sebenarnya. Namun perjalanan yang sebenarnya kami impikan itu belum terwujud hingga sekarang. Aku harap perjalanan itu akan terwujud suatu saat nanti. Aku mulai mencoretkan sebuah puisi di sebuah lembaran kertas. Puisi ini Aku dedikasikan untuk sembilan saudara yang Aku rindukan, sembilan saudara yang pernah melangkah bersama membunuh waktu, sembilan saudara pemilik mimpi yag tertunda.


Kebersamaan dalam Sunyi

Waktu itu kita bersama
Bersama menentukan arah
Bersama menapaki lembah
Bersama meraih angan
Dalam satu tujuan bersama

Tenda kuninglah saksi bisu
Riuh canda tawa penuh harap
Meramaikan malam dingin nan sunyi
Mengukir kisah tuk dikenang

Perlahan kabut menepi
Menyisakan basah di ilalang
Senja menambah degradasi jingga
Menyaksikan manisnya kebersamaan
Kebersamaan meleburkan ketakutan

Bibir-bibir mulai tersenyum lega
Saat kaki mulai melangkah
Menjauh dari rumput-rumputmu
Namun, setiap waktu ku akan merindumu

Pundak-Pringgodani-Seloungkal at Juni 2010
Akankah kebersamaaan itu terulang?
Tempat impian yang menjadi harapan
Akankah kita wujudkan mimpi itu?
Dalam kebersamaan lagi...

 
Perjalanan usai (Puncak Seloungkal)